Featured Video

Kamis, 20 Maret 2014

Si Cantik Asal Aceh Ini Jadi yang Terbaik di Program Kementrian Luar Negeri Jepang

Si Cantik Asal Aceh Ini Jadi yang Terbaik di Program Kementrian Luar Negeri Jepang

Jehan Maisarah

Terpilih oleh kementerian luar negeri Jepang (MOFA) dalam programJenesys2.0Asean, membuat gadis cantik asal Aceh bahagia bukan main. Ia menjadi satu di antara peserta program terbaik dikirim secara gratis ke Jepang.

Dia adalah Jehan Maisarah, kelahiran Aceh 15 Juli 1991. Jehan masih tercatat sebagai mahasiswi Syiah Kuala University Aceh. Berbekal kepintaran dan kemampuan bahasa Inggris yang sangat baik, Jehan terpilih di antara 24 siswa Indonesia yang menjadi peserta program. Ia tiba di Tokyo sejak 11 Maret dan akan pulang pada 20 Maret.
"Saya senang sekali berada di Jepang ini, pertama kali dan banyak pengalaman berharga saya peroleh selama seminggu di Jepang khususnya terkait dengan bidang perlindungan bencana alam dan keadaan darurat banyak dipelajari di Jepang ini," paparnya malam ini (19/3/2014).
Meski sangat menyukai Jepang, Jehan tetap ingin mengabdi di Indonesia sebagai Guru bahasa Inggris di masa depan.
"Ya cita-cita saya memang demikian," tekannya lagi.
Jehan menceritakan pengalamannya saat tsunami menyapu Aceh di masa lalu. Ia merasa bersyukur, seluruh keluarganya selamat dari bencana tersebut.
"Kami banyak belajar dari kejadian bencana alam tersebut dan kini saya banyak belajar dari Jepang, semoga bisa diterapkan di Indonesia ilmu yang saya peroleh di Jepang ini."
Jehan memang sempat mendatangi sejumlah pusat pendidikan bencana alam di Jepang di antaranya Kota Tokyo, Kota Asahi, dan Kota Chosi. Selama seminggu di sana, Jehan mengaku mendapat banyak pengalaman dan pelajaran baru. Satu di antaranya adalah etos kerja.
Jehan menilai orang Jepang adalah pekerja keras mulai dari pagi sampai malam. Hal ini, katanya, berbeda dari etos orang Indonesia yang seolah hanya punya jam kerja pendek. Perbedaan juga terlihat dari cara mereka menghargai waktu. Orang Jepang, katanya, punya sangat tepat waktu.
"Seolah benar-benar time is money. Di Indonesia wah lambat kerjanya," tekannya lagi.
Orang Jepang juga sangat menghargai satu sama lainnya, sangat bersahabat, bahkan juga sangat kutu buku.
"Senang sekali orang Jepang baca buku atau majalah atau koran, di mana-mana sambil baca sampai ke kereta api pun. Senang juga sih melihat orang yang suka baca. Tapi di Indonesia jarang sekali kita lihat orang seperti di Jepang ini," ungkapnya lagi sambil tersenyum manis.
Program MOFA tersebut berjalan sesuai rencana dari PM Jepang Shinzo Abe saat berkunjung ke Indonesia, "PM Jepang berjanji untuk mengundang para anak muda kalangan Asia ke Jepang sedikitnya 30.000 orang agar persahabatan Jepang dengan negara-negara di Asia dapat semakin baik lagi di mulai dari generasi mudanya," ungkap Yoshiharu Kato, salah seorang pejabat MOFA khusus kepada Tribunnews.com.
Untuk itu MOFA juga telah menyiapkan jaringan sosial Facebook bagi semua anak muda yang telah berkunjung ke Jepang dalam programJenesys2.0Asean tersebut,
"Diharapkan semua yang hadir di Jepang ini setelah kembali ke negara masing-masing dapat menuliskan kenang-kenangannya yang indah selama berada di Jepang sehingga semakin memberikan keakraban satu sama lain di masa depan," harapnya kepada 24 peserta dari Indonesia dalam jamuan makan malam ini.
Sebanyak 24 orang tersebut masing-masing dari Aceh sebanyak 8 orang,  dari Yogyakarta 12 orang dan dari Bandung ada 4 orang. Ditambah satu orang Supervisor, Khemal Sundah Prasasti dari The Japan Foundation Jakarta yang kebetulan dirayakan malam ini bersama karena tepat berulang tahun.s