Featured Video

Kamis, 19 Maret 2015

Runtuhnya Benteng Moral Terakhir

Shutterstock
Ilustrasi sarang lebah.
Catatan Kaki Jodhi Yudono

Beberapa hari lalu saya bertemu dengan seorang pemuda dari salah satu masyarakat adat di sebuah tempat di Jakarta. Panggil saja dia Si Polan. Kepada Polan, saya bilang ingin mengeksplorasi beberapa hal mengenai suku Si Polan untuk saya tuangkan ke dalam karya esai, puisi, dan musik.


Sebelum bertemu, otak dan hati saya penuh dengan beragam pertanyaan yang berawal dari kekaguman lantaran suku tersebut oleh media selama ini dianggap mampu menjaga nilai-nilai tradisi yang adiluhung.

Sepengetahuan saya selama ini, suku Si Polan menutup diri dari pengaruh dunia luar dan secara ketat menjaga cara hidup mereka yang tradisional.

Sebagian peraturan yang dianut oleh suku ini antara lain: tidak diperkenankan menggunakan kendaraan untuk sarana transportasi, tidak diperkenankan menggunakan alas kaki, pintu rumah harus menghadap ke utara/selatan (kecuali rumah sang pu'un atau ketua adat), larangan menggunakan alat elektronik (teknologi), menggunakan kain berwarna hitam/putih sebagai pakaian yang ditenun dan dijahit sendiri, serta tidak diperbolehkan menggunakan pakaian modern.

Si Polan sendiri mengaku sebagai bagian dari suku yang telah keluar dari adat karena para leluhurnya telah melanggar adat. Namun, tak jelas benar alasannya, apakah memang kakek moyangnya yang berkeinginan untuk keluar dari tradisi atau karena menikah dengan anggota masyarakat kebanyakan.

Itulah sebabnya, keluarga Si Polan lebih terbuka menerima perubahan sosial. Komunitas suku Si Polan telah mengenal teknologi, seperti peralatan elektronik. Demikian juga proses pembangunan rumah penduduk, prosesnya telah menggunakan alat-alat bantu, seperti gergaji, palu, paku, dan lainnya, yang sebelumnya dilarang oleh adat.

Hal yang sama berlaku juga dalam berpakaian, menggunakan warna hitam atau biru tua (untuk laki-laki), yang menandakan bahwa mereka tidak suci. Kadang, ada yang menggunakan pakaian modern, seperti kaus oblong dan celana jins, seperti yang dikenakan Si Polan pada malam itu.

Polan pun bercerita bahwa keluarganya juga menggunakan peralatan rumah tangga modern, seperti kasur, bantal, piring dan gelas, baik kaca maupun plastik. Sebagian warganya juga telah terpengaruh dan berpindah agama menjadi seorang Muslim, dalam jumlah cukup signifikan.

"Kalau saya masih memeluk Sunda Wiwitan," jawab Polan tentang agama yang dianutnya.

Sunda Wiwitan berakar pada pemujaan kepada arwah nenek moyang (animisme) yang pada perkembangan selanjutnya juga dipengaruhi oleh agama Buddha dan Hindu. Inti kepercayaan tersebut ditunjukkan dengan adanya pikukuh atau ketentuan adat mutlak yang dianut dalam kehidupan sehari-hari. Isi terpenting dari pikukuh (kepatuhan) tersebut adalah konsep "tanpa perubahan apa pun", atau perubahan sesedikit mungkin: lojor heunteu beunang dipotong, pèndèk heunteu beunang disambung (panjang tidak bisa/tidak boleh dipotong, pendek tidak bisa/tidak boleh disambung).

Tabu tersebut dalam kehidupan sehari-hari diinterpretasikan secara harafiah. Di bidang pertanian, bentuk pikukuh tersebut adalah dengan tidak mengubah kontur lahan bagi ladang sehingga cara berladangnya sangat sederhana, tidak mengolah lahan dengan bajak, tidak membuat terasering, hanya menanam dengan tugal, yaitu sepotong bambu yang diruncingkan. Pada pembangunan rumah, kontur permukaan tanah dibiarkan apa adanya sehingga tiang penyangga rumah sering kali tidak sama panjang. Perkataan dan tindakan mereka pun jujur, polos, tanpa basa-basi, bahkan dalam berdagang tidak melakukan tawar-menawar.

Polan tak seperti kebanyakan orang di sukunya yang biasa mengenakan busana khas suku itu. Polkompas.coman malam itu dan juga malam-malam sebelumnya adalah pemuda modern dengan sandangan anak muda masa kini, dengan gadget yang tak pernah lepas dari tangannya.

Maklumlah, Polan adalah seorang saudagar kerajinan tangan yang diproduksi oleh sukunya. Hampir tiap pekan, Si Polan datang ke Jakarta dengan menumpang kereta.

Ada sekitar 200 perajin tenun yang menyetorkan produksinya ke Polan. Pemuda ini juga cucu dari seorang kakek yang saya kenal 15 tahun lalu sebagai penjual kerajinan. Polan bilang, sang kakek kini sudah 80 tahun usianya. Bisnis kerajinan sekarang diteruskan oleh dirinya. Seperti sang kakek, Polan juga mewarisi keramahan dan kelembutannya sehingga para konsumen pun senang membeli barang dagangannya.

Setelah bertukar kabar, sampailah pertanyaan saya pada situasi terbaru yang sedang berlangsung di daerahnya.

"Sudah berubah, sudah berubah," ujar Si Polan sambil tercenung.

"Maksudmu?" Saya keheranan.

Maka mulailah Si Polan bercerita tentang sukunya, tentang kampungnya, dan juga tentang tipu muslihat yang sedang berlangsung.

"Suku kami sudah tidak seperti dulu lagi. Nilai-nilai kejujuran sudah hampir punah di kampung kami. Cap lugu yang kami sandang sebagai sebuah suku sudah dimanfaatkan oleh beberapa warga kami untuk melakukan penipuan."

"Penipuan?" Saya mulai bergetar oleh pernyataannya. Kekaguman saya terhadap suku Si Polan yang terkenal dengan keluguan dan kejujurannya mulai berguncang. Masyarakat adat yang selama ini saya anggap sebagai benteng moral terakhir bangsa ini pada malam itu roboh satu demi satu pilar-pilarnya.

Muka Polan tampak sedih, tetapi dia mengaku harus bercerita kepada saya agar bebannya tak kelewat berat untuk dia sangga sendiri.

"Bayangkanlah," ujar Polan melanjutkan cerita, "Kami yang selama ini dianggap sebagai suku yang memegang erat tradisi, kini sudah mulai terkikis. Kami sudah menipu diri kami dan juga masyarakat luas," tutur Polan geram.

"Maksudmu?" saya kian penasaran.

"Anda sering berpapasan dengan suku kami kan? Suka melihat mereka membawa botol-botol madu kan?"

"Lantas?"

"Inilah salah satu biang dari penipuan yang akhirnya merusak tatanan masyarakat kami."

Polan pun bercerita bahwa madu-madu yang ada di permukiman sukunya, ataupun yang dibawa oleh kawan-kawan sesukunya, adalah madu palsu. "Itu yang mereka bawa asli madu sintetis, enggak ada setetes pun madunya."

Polan makin bersemangat. Dia bilang, madu-madu itu diproduksi di Jalan Lontar, Jakarta Pusat. Madu palsu itu menurut Polan dibuat dari bahan-bahan berbahaya, seperti boraks, alkohol, tawas, dan pengawet. Sebagian madu palsu itu dibawa ke permukiman Si Polan untuk dijual kepada para turis yang datang ke sukunya, sebagian lagi didistribusikan kepada kawan-kawan Polan yang datang ke Jakarta untuk dijual ke perkantoran-perkantoran.

"Kamu serius?"

Polan pun bersumpah bahwa apa yang diungkap adalah benar adanya.

Hmmm... mendadak perut saya mual. Melihat reputasi kakek Polan yang telah saya kenal, dan cara bertutur Si Polan yang begitu menggetarkan, saya pun dibuatnya tertegun. Sebagai jurnalis, saya memang masih menyisakan ruang untuk tidak percaya begitu saja agar saya tetap bisa menjaga obyektivitas.

Ah... tetapi Polan bersedia mengajak saya ke kampungnya dan juga ke Jalan Lontar untuk membuktikan sendiri kebenaran ceritanya.

Hmmm... semoga saja cerita Polan tak sepenuhnya benar. Jika cerita Polan benar, maka robohlah sudah benteng moral yang dimiliki bangsa ini.

Entah kepada siapa lagi kita akan menyandarkan pertanyaan dan harapan akan moral dan kebenaran. Setelah lembaga-lembaga penegakan hukum, pilar-pilar demokrasi, dan bahkan lembaga-lembaga keagamaan digerogoti oleh para koruptor dan pembual, kini para penjaga moral yang selama ini dipegang oleh masyarakat adat pun sudah tergoda oleh rayuan dunia.

"Bapak hitung sendiri. Dari Jalan Lontar, mereka beli madu seharga antara Rp 10.000 hingga Rp 15.000, mereka jual hingga Rp 80.000 per botolnya. Berapa rupiah yang mereka dapat jika dalam seminggu mereka mampu menjual hingga seribu botol?" kata Si Polan.

Lalu saya pun menjawab, saya malas menghitung untung yang bukan milik saya.

Kami pun tertawa, sekadar melupakan kegetiran yang baru kami lewati. Saya pun mengantar Polan ke stasiun kereta untuk mengejar kereta api terakhir menuju ke barat.kompas.com