Featured Video

Jumat, 17 April 2015

ORANG MINANG KRISIS SOSIAL

Tahun 2015, kasus bunuh diri yang terjadi di berbagai daerah di Sumbar sudah lebih dari 10 kasus. Yang mencengangkan, adalah kasus di Tanah Datar. Tahun 2014 lalu saja, ada 15 kasus yang terjadi di Luak nan Tuo itu, tapi dianggap seperti angin lalu saja. Kepedulian sosial Orang Minang kini dinilai sudah luntur.


Sejak awal tahun hingga pertengahan April ini, Sumbar diwarnai oleh kasus bunuh diri. Tercatat, lebih dari 10 kasus terjadi dan Tanah Datar tetap sebagai daerah paling menonjol. Terakhir, di Solok Selatan, seorang ibu memilih mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri setelah membunuh anaknya yang masih balita. Diduga, korban tak kuasa menahan deraan kemiskinan.
Menurut psikolog, kasus-kasus tersebut tak bisa dilihat secara seder­hana seperti asumsi yang me­ngam­binghitamkan faktor kesulitan eko­nomi dan kurangnya pema­haman agama yang menjadi penyebab terjadinya bunuh diri.
Menurut Jendrius, Sosiolog dari Unand berpendapat, tak ada faktor utama yang bisa dituduh sebagai penyebab terjadinya bunuh diri. Bunuh diri terjadi karena masalah kolektif atau karena banyak ma­salah yang berkontribusi me­micu terja­dinya niat untuk menghabisi nyawa sendiri.
Meski tak ada faktor utama, kata Jendrius, namun bunuh diri biasa­nya terjadi karena faktor dikucilkan oleh keluarga dan lingkungan yang membuat orang putus asa. Faktor ini dinilainya cukup kuat menjadi pemicu bunuh diri. Sedangkan masalah-masalah lain seperti kesu­litan ekonomi, perceraian, kehi­langan pekerjaan, kematian orang tercinta dan masalah hidup lainnya, yang juga menimbulkan putus asa, hanya menjadi faktor pendukung.
“Ketika dikucilkan, seseorang merasa hidupnya tidak berarti, tanpa makna. Dalam kondisi seperti itu, seseorang tak tahu lagi tujuan hidup­nya dan tak tahu apa yang mesti dilakukannya, sehingga mengakhiri hidup menjadi pilihan,” tuturnya saat dihubungi Haluan, Kamis (16/4).
Terkait kesulitan ekonomi yang banyak dipandang sebagai penyebab ekonomi sehingga orang menya­lahkan pemerintah yang kurang perhatian terhadap warga miskin, menurut Jendrius, tak bisa dilihat sesederhana itu. Karena dalam beberapa kasus, ada orang kaya yang bunuh diri. Di sisi lain, banyak orang yang kesulitan ekonomi, bahkan sangat miskin, tapi mereka tidak bunuh diri.
Sementara masalah kurangnya pemahaman agama, Jendrius ber­pan­dangan, hal itu juga tak bisa dinilai sebagai faktor penyebab bunuh diri. “Ada orang yang justru karena pemahaman agamanya kuat, melakukan tindakan bunuh diri. Seperti pelaku bom bunuh diri yang ingin memperjuangkan nilai agama. Bunuh diri dianggap sebagai bagian dari jihad,” ungkapnya.
Sementara itu, pendapat Kus­war­dani Susari Putri, psikolog dari Rumah Sakit Jiwa HB Saanin Pa­dang senada dengan pandangan Jendrius. Kuswardani mengatakan, tidak terja­di satu kasus karena satu sebab. Atas banyaknya masalah yang dihadapi, pelaku bunuh diri berada dalam keadaan terdesak sehingga merasa lagi tak ada jalan keluar. Dengan kata lain, pelaku tak tahan dengan tekanan tertentu. Hal itu diperparah dengan tak ada ikatan sosial yang membantu masalah pelaku.
“Intinya, kepedulian sosial ma­sya­rakat kita menipis. Masyarakat sekarang cenderung cuek terhadap masalah orang lain, padahal orang itu bagian keluarga atau tetangga me­reka. Kalau dulu, kepedulian sosial masyarakat kita tinggi. Dulu, ketika antara satu rumah dengan rumah lain tidak dibatas pagar, masalah satu orang dirasakan oleh orang lain masalah mereka juga, sehingga perlu dibantu. Kini, ketika rumah orang dibatasi oleh pagar tinggi, orang tidak peduli lagi dengan msalah orang lain. Siapa lusiapa gue saja kalau se­karang,” ungkapnya.
Pencegahan dini yang bisa dila­kukan masyarakat agar kasus bunuh diri tidak terjadi di lingkungan mereka adalah memperhatikan masalah orang di sekitar mereka. “Masyarakat kita cenderung tidak tanggap terhadap masalah kera­batnya. Contohnya, jika ada orang yang menceritakan masalahnya, cenderung dianggap remeh atau disepelekan saja. Kalau tidak dapat membantu jalan keluar, setidaknya didengarkan curahan hatinya dan diberi motivasi,” bebernya.
Menipisnya kepedulian sosial masyarakat Sumatera Barat yang mayoritas etni Minangkabau, dibe­narkan oleh Sayuti, Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minang­kabau.
“Dulu di Minangkabau, sakik surang, damam basamo. Kalau ada orang yang mengalami kesusahan, bersama-sama membantu meme­cahkan kesusahan itu, sehingga tak ada niat orang yang mengalami kesusahan untuk bunuh diri. Kalau sekarang jarang seperti itu,” paparnya.
Penyebab menipisnya kepe­du­lian masyarakat, menurut Sayuti, karena orang sibuk memikirkan ekonomi masing-masing. H