Featured Video

Jumat, 04 Desember 2015

Tiga Alasan Kenapa Setya Novanto Sulit Diselamatkan

indonesiana-setya.jpg
Beredarnya  lagi transkrip rekaman percakapan  Setya Novanto semakin membuat Ketua Dewan  Perwakilan Rakyat  ini terjepit. Berbeda dengan transkrip pertama yang  cuma 11 menit, cuplikan yang disebar di media sosial sekarang diambil  dari bagian lain dari  total rekaman percakapan Setya  sepanjang 120 menit. 

Jangan heran bila perbincangan melebar ke mana-mana, tak hanya seputar  urusan bagi-bagi saham PT Freeport Indonesia seperti yang terungkap dalam transkrip terdahulu. Di situ, Setya bahkan menggambarkan gentingnya urusan ini dengan mengatakan  Presiden Jokowi akan jatuh  bila tidak memperpanjang kontrak Freeport.
Percakapan lain yang terungkap  sama sekali  tidak menguntungkan Setya Novanto karena semakin memperjelas motif Setya dalam urusan saham Freeport.  Publik akan tercengang  pula karena  semakin banyak tokoh politik yang disebut--baik terkait langsung maupun yang tak ada hubungan dengan urusan Freeport.  Beredarnya percakapan itu seolah juga  balapan dengan  penanganan kasus Setya di  Mahkamah  Kehormatan DPR  (MKD) yang berjalan alot.
Dari kisruh selingkuh bisnis politik, bahkan menjalar ke pertarungan kekuasaan, itu setidaknya  ada tiga hal yang menentukan nasib Setya Novanto:
1. Tarik Ulur di Mahkamah akan Sia-sia
Strategi kubu Setya Novanto untuk mempersulit penangan  kasus politikus Golkar ini di Mahkamah  Kehormatan akan mubazir.  Apalagi, mereka hanya berkutat pada urusan legal standing  pelapor . Orang akan tertawa bila  Menteri Sudirman Said tidak dianggap sebagai pelapor yang sah.  (Baca juga:Desmond Tuding MKD dan Golkar Main-main di Kasus Freeport)
Penyokong Setya di Mahkamah akan kehabisan energi melawan  beredarnya transkrip rekaman yang mempermalukan  Ketua DPR ini.  Andaikata kubu Setya sanggup mendominasi Mahkmah, sulit pula membayangkan alat kelengkapan DPR itu berani melawan keinginan publik yang menghendaki urusan ini ditangani secara lugas dan transparan.
2. Tekanan politik dari Jokowi dan JK
Adanya pertarungan kekuasaan  tergambar jelas  ketika Presiden Jokowi menyindir dengan ucapan “Papa Minta Saham”, yang kemudian populer di media sosial. Ucapan ini bagaikan aba-aba buat  pendukung Jokowi di DPR untuk bergerak mendongkel Setya Novanto. Dan kini Wakil Presiden Jusuf Kalla pun ikut menekan Mahkamah dengan menyatakan siap untuk memberikan kesaksian di MKD .
3. Proses Hukum pun Menunggu
Kubu pemerintah masih memiliki satu opsi lagi, yakni proses hukum.  Jika  penanganan dugaan selingkuh bisnis politik Setya-Novanto di Mahkamah  berlarut-larut  bukan tidak mungkin pilihan ini akan diambil.  Setya bisa dituduh menyalahgunakan kedudukannya sebagai Ketua DPR atau melakukan pemufakatan jahat. Ia pun bisa dilaporkan dengan delik pencemaran  nama baik atau penipuan. Bila proses hukum yang dilakukan,   suhu politik  mungkin akan semakin memanas.  Tapi diperkirakan Setya Novanto akan sulit diselamatkan. *t