Featured Video

Rabu, 30 November 2011

Ibu dan Anak Tewas Tertimbun Longsor-Padang


DEKAT LOKASI JALAN LINGKAR DUKU-SICINCIN
PADANG,  Hujan lebat membawa bencana. Ibu dan anak tewas tertimbun longsoran perbukitan. Kepala BPBD Sumbar Yazid Fadhli, dan Kepala Dinas Prasarana Jalan Tata Ruang dan Pemukiman Sumbar, Suprapto membantah longsor itu terkait dengan pembangunan jalan lingkar Duku-Sicincin.

 Seo­rang ibu muda, Wati (25) dan anaknya Ani (3) tewas tertim­bun longsoran perbukitan di Jorong Gantiang, Lubuk Alung, Padang Pariaman, Senin (28/11) sekitar pukul 05.00 WIB. Titik longsor ini sekitar 10 km jaraknya dari jalan raya Lubuk Aluang-Padang.
Jasad ibu muda dan bocah itu ditemukan sejumlah warga yang berupaya mengevakuasi korban dari reruntuhan puing-puing rumah dan timbunan tanah. Sementara empat orang lainnya di dalam rumah yang persis di pinggir jalan lingkar Duku-Sicincin itu selamat dari hantaman ribuan kubik pasir dan tanah.
Rumah kayu itu dihuni enam orang. Selain Wati dan Ani juga ada Rajali (61), ayah Wati dan istrinya Sariawan (41). Kemudian adik bungsu Wati, Sindi (5) dan kakak Sariawan, Syarifuddin (72).
Hujan yang mengguyur kawasan tersebut dalam beberapa hari terakhir diduga sebagai pemicu longsornya perbukitan yang berada di belakang rumah korban. “Sudah beberapa hari ini hujan lebat di sini,” ujar Rajali.
Subuh itu ia dan istrinya sudah bangun tidur. Tiba-tiba saja ada suara gemuruh diiringi getaran yang cukup kuat. “Kami kira itu gempa besar,” lanjutnya.
Tak dinyana, sebatang pohon durian yang cukup besar kemudian menghimpit rumah yang terpisah dari pemukiman warga lain itu, yang kemudian diikuti pohon-pohon lain, dan longsoran tebing.
Rajali, Sariawan dan si bungsu Sindi terlempar ke luar rumah. Sementara Wati dan anaknya Ani serta pamannya yang berada di kamar terpisah terjebak dalam timbunan tanah dan kayu disertai reruntuhan puing-puing rumah tersebut.
Melihat kondisi itu, Rajali ber­larian ke rumah tetangganya Bujang Nalis (53) yang berjarak sekitar 100 meter dari rumah korban. Bujang pun bergegas ke lokasi kejadian. Sadar kekurangan tenaga untuk proses evakuasi, Bujang pun mem­bangunkan warga yang lain yang jaraknya sekitar 500 meter dari tempat itu. Dalam kegelapan dan diguyuri hujan lebat, warga setempat berupaya mengevakuasi korban yang terjebak di dalam rumah. “Kami gunakan kayu untuk menyingkirkan puing-puing rumah untuk mencari korban,” tutur Bujang di lokasi kejadian.
Syarifuddin yang sudah berusia lanjut dapat dikeluarkan dengan kondisi selamat, meski sempat terhimpit karung yang berisi padi. Tetapi malang bagi Wati dan Ani. Keduanya sudah dijumpai tak bernyawa karena terhimpit reruntu­han rumah disertai timbunan tanah.
Jasad keduanya kemudian dibawa petugas kesehatan setempat dengan ambulan ke rumah familinya di Koto Buruak, Lubuk Alung untuk disema­yamkan. Siang kemarin jasad janda yang ditinggal cerai suaminya, dan anaknya itu dimakamkan di perku­buran keluarga di Koto Buruak.
Rumah duka yang berjarak sekitar tiga kilometer dari Pasar Lubuk Alung itu ramai didatangi sanak keluarga, dan warga sekitar yang melayat. Mereka tak mengira, hujan lebat subuh itu merenggut nyawa Wati yang dikenal berprilaku baik, dan anaknya yang periang itu.
Kejadian Pertama
Menurut pengakuan warga setem­pat, longsornya tebing itu merupakan kejadian yang pertama. “Ini kejadian pertama,” ujar Bujang.
Makanya, ia sempat heran kenapa bisa tebing itu runtuh hingga mem­porak-porandakan rumah korban, padahal masih ada sejumlah pohon yang menahan unggukan tanah itu.
Meskipun demikian ada juga sejumlah warga yang mengaitkan peristiwa itu dengan pembukaan jalan lingkar Lubuk Alung yang melewati kawasan tersebut. Toh, jalan yang dalam tahap pengerasan itu memo­tong perbukitan di sana.
Statemen Nyeleneh
Tetapi Kepala BPBD Sumbar Yazid Fadhli, dan Kepala Dinas Prasarana Jalan Tata Ruang dan Pemukiman Sumbar, Suprapto yang dihubungi Haluan kemarin mem­bantah penilaian bahwa longsor tersebut disebabkan pembukaan jalan. Menurut keduanya longsornya perbukitan itu tak ada kaitannya dengan pembangunan jalan itu karena jaraknya jauh dari Jalan Lingkar Duku-Sicincin. Bahkan menurut Suprapto, lokasi longsor berada sekitar 200 meter dari badan jalan. “Longsor di Lubuk Alung itu tidak ada kaitannya dengan pembukaan jalan yang kita kerjakan. Cukup jauh kok sekitar 200 meter,” katanya.
Tim Haluan yang turun langsung ke lokasi longsor, titik rumah Sariawan yang ditimbun longsoran persis berada di pinggir jalan yang dalam tahap pembangunan itu. Jaraknya tak sampai 5 meter dari bibir jalan. Lalu, Suprapto menye­butkan 200 meter, seperti tak masuk akal. Dan terkesan asal berbunyi saja.
Lain halnya dengan Yazid Fadhli. Ia malah menuding longsor itu dipicu pemotongan perbukitan yang dilakukan masyarakat untuk pemu­kiman. Akibatnya debit air dengan intensitas hujan yang cukup tinggi, tak mampu menahan dinding bukit.
“Bisa jadi, penyebab longsor karena pembukaan pemukiman warga dengan memotong bukit,” kata Yazid.
Padahal faktanya, di lokasi itu hanya ada rumah korban, dan itupun rumah kayu tua yang sudah lama dibangun. Sementara pemukiman warga lain jaraknya jauh dari tempat tersebut. Tak ada sama sekali terlihat di lokasi warga yang membangun pemukiman dengan memotong bukit. Yang tampak di lokasi itu, justru pembangunan jalan lingkar itulah yang memotong perbukitan.
Meskipun demikian, Yazid yang sebelumnya menjabat sebagai Kabid Pelaksana Jalan dan Jembatan Dinas Prasjal Tarkim Sumbar ini mengi­ngatkan, agar masyarakat yang bermukim di kaki bukit dan sepan­jang bantaran sungai dapat mening­katkan kewaspadaannya di musim hujan, dan cuaca yang tidak menentu belakangan ini.  Sebab, bencana alam tanah longsor atau banjir dapat saja sewaktu-waktu melanda.
Selanjutnya, masyarakat yang bermukim di kaki bukit dan juga bantaran sungai di daerah lainnya juga diminta untuk lebih me­ning­katkan kewaspadaannya. Him­bauan ini sudah disampaikan secara berjen­jang ke tingkat pemerintahan terendah di nagari/kelurahan. Dan peme­rint­a­han terendah diminta pro aktif un­tuk menyampaikan kepada warganya.
Selain kawasan tersebut, BPBD Sumbar mencatat beberapa titik rawan longsor yang lain, yang juga harus diwaspadai di musim hujan ini yaitu Silaiang, Lembah Anai, Bukit Lampu, Sitinjau Lauik, Sicin­cin-Malalak, Bukit di kawasan Danau Maninjau, kelok 9 hingga batas Riau dan bukit-bukit di sepanjang jalan Lubuk Sikaping.
Sicincin-Malalak Normal Lagi
Setelah sempat terputus akibat tertimbun tanah, Jalan Sicincin-Malalak kembali dapat dilewati siang kemarin. Pemkab Padang Pariaman mengerahkan satu alat berat untuk membersihkan unggukan tanah yang menimbun badan jalan itu, persis di daerah Sungai Durian, Patamuan, Padang Pariaman.
Butuh waktu lima jam untuk membersihkan jalan itu,” kata Ade Edward, Koordinator Pusat Pengen­dalian Operasi (Pusdalops) Penang­gulangan Bencana Sumbar.(h/aci/naz/vie/wan)HALUAN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar