Featured Video

Minggu, 20 Mei 2012

BATENGGANG DI NAN SAMPIK-PARIWISATA SUMBAR


Ditulis oleh Teguh 

Ranah Minang punya potensi alam nan indah. Nyaris semua daerah memiliki alam yang indah. Tapi tak pernah dipikirkan serius oleh pemerintah.

Bagi wisatawan, alam nan indah itu punya daya tarik tersendiri. Kendati begitu, alam nan indah itu nyaris belum termakasimalkan po­ten­sinya. Ia seperti “mati” tanpa ada sentuhan yang serius agar pelancong datang.
Alam nan indah itu jika tak tergarap tentu akan men­jadi sia-sia pemberian Sang Pencipta itu. Jika dideretkan alam nan indah itu, mungkin sangat panjang.
Potensi pariwisata Suma­tra Barat, baik dilihat dari sudut pandang alamnya, kebu­dayaan dan seninya, serta kemahiran warganya dalam berdagang bisa mengalahkan Pulau De­wata, namun me­ngapa penge­masan dan mana­jemen­nya tidak bisa me­ngangkat posisi pariwisata sebagai penghasil PAD yang utama?
Bila dibandingkan dengan provinsi-provinsi lainnya di Pulau Sumatera mengapa Sumatera Barat cenderung lamban dalam pembangunan dan pengembangan pariwisata?
Rasanya tidak ada yang akan membantah bila dika­takan Kabupaten Agam me­miliki objek wisata paling lengkap. Karena daerah itu memang memiliki lautan dan pantai yang landai dan putih, gunung dan lembah dengan panorama alam nan indah. Bukit dan ngalau juga me­madai untuk dijadikan tempat berwisata yang nyaman. Juga ada danau dan telaga. Kondisi alamnya nan cantik me­ru­pakan potensi wisata yang bisa dibanggakan.
Namun sejauh ini sektor pariwisata di daerah itu belum mampu menjadi pri­madona pasok PAD, maupun peningkatan ekonomi warga. Pasalnya, objek wisata yang wah tersebut baru sebatas dikenal dengan keindahan alamnya. Memang ada yang sudah digarap, namun baru sebatas “asal jadi,” belum memadai sebagai objek wisata laik jual.
Banyak masalah menjadi kendala pembangunan sektor pariwisata di daerah itu. Faktor utama tentu saja terbatasnya dana untuk pem­bangunan. Daerah saat ini kesulitan dana untuk mem­bangun sarsana/prasarana pada beberapa objek wisata potensial daerah, seperti disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Bupdar) Agam H. Junaidi, SH Dt. Gampo Alam Nan Hitam.
Keterbatasan dana dimak­sud mendorong Pemkab Agam berupaya menggaet investor. Hasilnya masih belum me­muas­kan. Karena tidak ban­yak investor yang berminat me­na­nam­kan investasinya di sektor pariwisata di daerah itu.
Di sisi lain, sikap mental warga sekitar objek wisata, terutama para pemilik lahan masih disayangkan. Karena warga masih banyak ber­pendapat kalau sektor pari­wisata identik dengan per­gaulan bebas yang berkonotasi negatif.
Juga masih ditemukan warga pemilik lahan kurang koperatif dengan pihak Pem­kab Agam. Akibatnya, ma­salah lahan lokasi objek sering menjadi kendala pem­bangu­nan, dan pengembangan objek itu sendiri.
Puncak Lawang, misalnya. Objek wisata, yang dikenal sebagai tempat start olahraga paralayang terbaik Asean itu, kini masih dalam masalah yang belum terselesaikan. Sengketa pemilikan lahan masih berlarut-larut, sehingga pembangunan objek wisata tersebut terkendali.
Ambun Pagi, masalah tanah juga menjadi masalah terhalangnya pembangunan dan pengembangan objek wisata tersebut. Padahal objek Ambun Pagi sangat diminati wisatawan mancanegara. Dari puncak Ambun Pagi, suasana mata hari terbenam (sunset) sangat cantik terlihat bila cuaca cerah.
Objek Bandar Mutiara, merupakan objek wisata pan­tai nan menarik. Rimbunnya pepohonan di pantai meru­pakan tempat yang sejuk dan nyaman untuk bersantai keluarga. Pasirnya nan landai dan bersih, juga merupakan sebuah keunggulan objek dimaksud. Amat disayangkan, pengelolaannya masih ter­kendali banyak faktor. Di antaranya masih sulitnya mengendalikan keinginan warga untuk menebang phon cemara laut di pantainya, serta tingginya minat warga membangun rumah tempat tinggal di kawasan objek wisata.
“Banyak lahan objek wi­sata milik warga, sehingga untuk pembangunan dan pengembangannya banyak hambatan,” ujar Junaidi pula.
Ada lokasi yang sudah jadi milik Pemkab Agam, yaitu Linggai. Objek tersebtu pernah jaya, namun kini merana. Linggai dibuka dan dibangun Pemprov Sumbar dulunya.
“Linggai akan dibangun menjadi sebuah objek me­narik. Perencanaan telah selesai, bahkan gambar ren­cana bangunan sudah dileng­kapi dengan RAB, kini dita­war­kan kepada investor ber­minat,” ujar Junaidi pula.
Di samping keindahan panorama alam, Agam juga memiliki senibudaya yang layak dinikmati para wisa­tawan. Sementara objek wi­sata sejarah juga banyak diminati, tertutama wisa­tawan dari negeri jiran.
Bupati Agam H. Indra Catri Dt. Malako Nan Putiah menghimbau para investor berminat, untuk menanamkan investasinya di Agam. ber­bagai kemudahan akan dibe­rikan kepada investor tersebut.
“Kami menghimbau para pemodal, terutama Anak Minang yang sukses di rantau. Dengan menanamkan inves­tasi, termasuk di sektor pariwisata, berarti mereka sudah ikut membangun Ranah Minang, khususnya Kabupa­ten Agam,” ujarnya.

Laporan: MIAZUDDIN


Tidak ada komentar:

Posting Komentar