Featured Video

Minggu, 20 Mei 2012

Akhirnya, Roman ...


FOTO:AFP/Adrian Dennis
Jakarta - Ketika Manchester United memenangi Liga Champions tahun 2008 ada ucapan menarik mengenai Roman Abramovich dari komentator ITV. Jawaban untuk komentar itu datang empat tahun berselang.

"Apa yang tidak bisa dimiliki oleh seseorang yang memiliki semuanya? Ini. Ia tidak bisa membeli ini," ujar sang komentator, Clive Tyldesley, tepat ketika penendang pertama MU di masa sudden death, Anderson, membobol gawang Petr Cech. Cerita selanjutnya begitu memilukan untuk Chelsea.

Beberapa saat sebelum Anderson menendang, John Terry terlebih dulu membuyarkan peluang timnya menjuarai Liga Champions. Ia terpeleset dan tendangannya membentur tiang gawang. Andai tendangan tersebut masuk, maka Chelsea-lah ketika itu yang keluar sebagai pemenang.

Abramovich yang menonton dari tribun, terduduk lunglai. Ia tersenyum kecil sembari menepuk-nepuk dadanya. Tegang dan pasrah menjadi satu. Ia tahu tak ada yang bisa diperbuat olehnya. Seluruh uang yang sudah ia gelontorkan untuk Chelsea pada akhirnya tak akan berarti jika pertandingan di lapangan tidak berhasil dimenangi.

Abramovich adalah seorang pria sukses --dalam hal kekayaan. Oleh Forbes ia diperkirakan memiliki kekayaan sebesar 12 miliar dolar AS. Rumah mewah, yacht, hingga seorang wanita cantik bernama Daria Zhuvkova dimilikinya. Apa lagi yang kurang?

Jawabannya seperti yang dikatakan oleh Tyldesley. Dia tak bisa membeli trofi dan kemenangan.

Oleh karena itulah Abramovich penasaran. Chelsea selalu lolos ke Liga Champions sejak ia membelinya. Tapi, klub yang identik dengan warna biru itu tak pernah sedekat itu untuk menjuarai Liga Champions, seperti pada 2008. Abramovich sudah mengeluarkan puluhan juta pounds, puluhan juta pounds, dan puluhan juta pounds lagi untuk membangun tim yang bisa memenangi Liga Champions. Tapi, mereka tak pernah sedekat itu.

Nama-nama seperti Didier Drogba, Arjen Robben, Claude Makelele, Michael Ballack, Andriy Shevchenko, Nicolas Anelka, hingga Ashley Cole ia kumpulkan. Namun, prestasi Chelsea hanya sebatas gelaran domestik. Baginya, ini tidak cukup. Hingga akhirnya muncul kesan tidak sabaran dari dirinya. Manajer yang gagal dipecat.

Entah apa jadinya jika Avram Grant berhasil membawa Chelsea menjuarai Liga Champions empat tahun silam. Mungkin ia diizinkan terus bekerja, mungkin juga tidak. Setelahnya, ada pula nama-nama besar seperti Luiz Felipe Scolari, Carlo Ancelotti, dan Andre Villas-Boas musim ini. Tapi, yang paling aman justru adalah Guus Hiddink. Sial bagi Abramovich, Hiddink merasa masih punya tanggung jawab menangani tim nasional Rusia sehingga ia menolak untuk lanjut menukangi Chelsea.

Siapa sangka setelah banyak pemain dan manajer keluar-masuk, trofi yang diidam-idamkannya itu justru datang dari seorang caretaker bernama Roberto Di Matteo, seorang pria asal Italia dengan pembawaan kalem dan tampak terus memasang senyum baik di pinggir lapangan ataupun konferensi pers.

Di Matteo sukses memberikan dua buah trofi ketika performa Chelsea sepanjang musim di liga hancur-lebur. Bahkan, dengan kesuksesannya membawa Chelsea menjuarai Liga Champions, berarti "Si Biru" sukses mempertahankan konsistensi selalu berlaga di turnamen kasta tertinggi untuk klub Eropa itu sejak dibeli Abramovich.

Kini tinggallah Abramovich dibebani pertanyaan: maukah ia mempertahankan Di Matteo? Sang caretakermemang bukan sebuah rumah mewah, yacht, atau barang mewah lainnya yang sudah dimiliki oleh Abramovich. Namun, ia sudah memberikan sesuatu yang sudah lama diidam-idamkan Abramovich. Sesuatu yang sangat-sangat berharga. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar