Featured Video

Senin, 15 Desember 2014

Batu Akik Lumuik Suliki Siap Go Internasional

MUHAMMAD BAYU VESKY
SULIKI-Sembari mengen cangkan ikat sapu tangan yang dia sulap menjadi mas ker penutup mulut, bola mata Darmayulis (48) seakan tidak mengedip kala mengasah batu seukuran jempol orang dewasa, Sabtu (27/9) malam di akhir bulan silam.

Darmayulis, adalah gene rasi kedua di Kecamatan Suliki, Limapuluh Kota, yang bertahan “hidup” dengan mengasah batu akik secara tradisional. Konon menurut dia, batu akik yang lazim disebut lumuik Suliki alias giok Suliki, sudah dikenal masyarakat Minangkabau, sejak 1960-an.
“Lumuik Suliki ini, pertama kali ditemukan saat pergo lakan tahun 1960-an silam, ketika masyarakat bersem bunyi di perbukitan Hulu Bonda, Jorong Padang Lo weh, Nagari Suliki,” kata lelaki yang merupakan putra asli Padang Loweh, Nagari Suliki.
Penemuan batu Suliki, sebe narnya bukan disengaja. “Karena bersembunyi di hutan belantara dan di sela-sela perbukitan, warga meli hat bebatuan yang mengkilat. Setelah diasah secara ma nual, ternyata batu-batu itu menyembulkan kristal-kristal dengan kadar kekerasan yang cukup tinggi” tutur Darmayulis alias Yuli.
Adapun orang yang per tama kali mengasah batu ini, bernama Saidi. Disusul generasi sebelum Yuli, Marifun.
Nah, semenjak itu pula, lumuik Suliki beredar luas di tengah masyarakat. “Karena orang tua saya juga suka mengasah batu, jadinya saya ikut-ikutan,” kelakar lelaki yang sejak 2009, fokus mengurusi bebatuan Suliki.
Catatan Yuli, lumuik suliki ini terdirikan dari 16 jenis. Mulai dari Giok Suliki Putih, Giok Suliki Kuning, Giok Suliki Hijau, Giok Suliki Me rah, Giok Suliki Hitam, Giok Suliki Ungu, Giok Suliki Ang gur, Giok Suliki Logam, Giok Suliki Suto, Pancar Lumuik, Cimpago Lumuik, Lumut Teratai, Lumut Terawang, Lumuik Abuak, Lumuik Kum bang Jonti dan terakhir Lu muik Pandan.
Go internasional
Seiring dengan merebak nya peminat batu akik Suliki, 2010 Yuli ditantang Ketua Kerapatan Adat Nagari Sungai Rimbang, Kecamatan Suliki, Wendi Chandra Dt Marajo, untuk memasarkan batu-batu buatannya itu. “Saya ditantang oleh pak Dewan,” kata Yuli. Pak Dewan yang dia maksud, adalah Wendi Chandra.
Wendi merupakan anggota DPRD Limapuluh Kota dua periode. Selain merupakan putra asli Kecamatan Suliki, Wendi berkomitmen, mendorong pemasaran batu-batu itu ke tingkat nasional dan internasional. Ini dia buktikan, dengan cara membelikan Yuli dan sejumlah sahabatnya, sebuah sepeda yang dimodifikasi menjadi ‘mesin’ pengasah batu.
Belakangan, berkat sepeda modifikasi tersebut, Yuli ber hasil menyulap batu-batu alam Suliki menjadi perhias an tangan dan kalung yang paling diminati. “Baru-baru ini, saya mengirimkan pe sanan pembeli batu akik Suliki ke Jepang dan Malaysia,” ungkap Yuli, sembari menghirup kopi panas yang dihidangkan anak gadisnya.
Jika tempo hari Yuli hanya memiliki sepeda yang dia modifikasi menjadi alat pe ngasah batu, maka di 2013, bermodal sisipan uang hasil penjualan batunya pula, Yuli telah membeli mesin gerinda dan sebuah mesin pemoles batu. “Alhamdulillah, seka rang ada mesin dan alatnya,” tutur Yuli berkisah.
Sebenarnya, selain sempat mengasah batu dengan sepe da yang dimodifikasi, Yuli pernah pula memodifiksi mesin pemarut buah kelapa milik istrinya, untuk dija dikan alat pengasah batu. “Sekarang, sudah saya kem balikan lagi. Sudah jadi alat pemarut kelapa lagi,” urai Yuli yang malam itu didam pingi Walijorong setempat.
Dipakai gubernur
Kamis (2/10), cincin asahan Yuli disarungkan Bupati Limapuluh Kota, Alis Marajo Dt Sori Marajo, kepada Gubernur Irwan Prayitno. Batu akik suliki berjenis Aia Samato itu, dipasangkan Alis saat pembukaan peringatan Hari Aksara Internasional, di Lapangan Muaro, Sijunjung.
Selain dipakai gubernur, giok Suliki juga dipasangkan Alis Marajo kepada bupati setempat, Yuswir Arifin serta sejumlah pejabat Pemprov Sumbar dan tak kalah pentingnya, untuk pejabat Ke mentrian Pendidikan yang berpusat di Medan, Suma tera Utara. Untuk mempro mosikan batu akik Suliki ini, Yuli tidaklah berjuang sendirian.
Sejak enam bulan silam, Yuli dibantu Hadi Suhaimi, Komisioner KPUD Lima pu luh Kota. Tokoh muda tersebut, terus mendorong Yuli dan seluruh pengerajin batu akik tradisional di Luak Limo puluah, untuk memasarkan batu-batu suliki. “Alhamdulillah, acara kita di Siju jung hari ini, sukses,” kata Hadi, tadi malam.
Diakui Hadi, dirinya mulai jatuh cinta dengan batu Su liki, pasca Pileg 9 April silam.
Tidak tanggung-tanggung, Hadi mulai menyusun kekuat an, untuk membesarkan nama batu akik Suliki.
Bersama Yuli, Hadi menye but, hingga saat ini, ada 40-an pengerajin batu akik Suliki yang sudah mereka data.
Untuk mewujudkan tekad nya, Hadi mengaku sudah merogoh kocek hingga Rp30 juta lebih sampai sekarang. “Saya beli seluruh bahan batu ini ke warga. Kemudian, saya dan Pak Yuli, menga sahnya berdua di kediaman beliau,” ucap Hadi.
Perjuangan ini, tampaknya mulai menemui titik terang.
Bulan lalu, Hadi didatangi investor batu akik yang me minta Hadi dan Yuli, mengi rimkannya ke beberapa ne gara di Eropa. “Batu itu sudah kita kirim ke Jerman, Belanda serta Belgia,” ucap Hadi. Dia berharap, Pemerin tah Provinsi Sumbar dan Limapuluh Kota khususnya, juga terus mendorong geliat batu akik Suliki ini.S