Featured Video

Senin, 15 Desember 2014

MATA UANG ASING BERGAMBAR PUTRA MINANG



Sebelum berbalun, semasa kereta api beratap ijuk, sebelum Indonesia merdeka, urang awak sudah banyak pergi merantau ke negeri orang. Ada yang ke Malaya, Thailand, Singapura dan Brunei serta di berbagai belahan dunia.
Mereka sudah beranak pinak di sana dan ada yang belum pernah pulang ke kampung halamannya sejak pergi meran­tau. Ada yang sudah jadi warga negara asing. Ada yang tak pandai lagi berbahasa Minang dan tak tahu lagi adat dan budaya asalnya.

Meski demikian banyak juga yang fasih berbahasa Minang tahu dengan adat dan budaya. Dan banyak yang berhasil dari sisi ekonomi maupun dalam berkarier pada pemerintahan di negara orang. Mereka ber­kumpul sesama perantau dengan
bahasa nenek moyangnya. Men­dirikan organisasi persa­tuan. Bahkan banyak urang awak yang selalu memutar lagu lagu Minang di rumah atau di kendaraannya walaupun mereka lahir dan besar di negeri orang. Ada yang berhasil dan ada juga yang sekadar lepas makan saja.
Sebagai orang Minangkabau kita patut bangga. Bukan hanya dengan seni adat istiadat, dan budayanya yang “tidak lapuk oleh hujan tidak lekang dengan panas “ tetapi banyak pula perantau Minang yang menjadi pemimpin di negara orang. Tidak banyak yang tahu, bahwa orang Minang memiliki peran penting di berbagai negara di Asean. Namanya justru diabadikan pada mata uang dan nama jalan di negara mereka masing-masing.
Malaysia misalnya, gambar mata uang ringgit bergambar Tuanku Abdul Rahman. Abdurah­man adalah urang awak asal Pagaruyung. Mata uang Singa­pura bergambar Tun Yusuf Ishak keturunan Dt Jonaton generasi ke-4. Keluarganya berasal dari Pagaruyung Tanah Datar meran­tau ke Malaya sejak tahun 1730 dan hijrah ke Singapura serta memimpin negara Singa itu. Namanya hingga kini tetap abadi. Fotonya menjadi ciri mata uang dollar Singapura. Begitu juga mata uang Brunei bergam­bar Sultan Hasanah Bolkiah. Sultan Brunei itu juga urang awak asal Piobang Payakumbuh. Namanya juga terpasang di mata uang negaranya dan beberapa ruas jalan di negara kaya minyak itu ada nama jalan seperti Piobang 1 hingga Piobang 5.
Tak hanya itu, di Kuala Lumpur terdapat pula beberapa nama Kampung seperti Palem­bayan. Kampung Sungai Buluh, Kampung Cubadak, Bukik Gombak. Belum lagi di dalam Negeri Sembilan Seremban terdapat sejumlah rumah gadang ber gonjong. Semuanya membuk­tikan bahwa urang awak sudah beranak pihak disana. Umumnya mereka sehari hari banyak yang menggunakan Bahasa Minang.
Haswin Darwis bersama Abdul wahdi B Zakaria penggagas lahirnya Pertubuhan Ikatan kebajikan Masyarakat Minang­kabau Kuala Lumpur ( PIKMM ) mengungkapkan di Kuala Lumpur, urang awak harus bangga dengan kiprah orang Minangkabau di negeri orang. Sejak saisuak orang Minang sudah bertebaran di seluruh dunia. Lalu yang patut diperta­nyakan, adakah catatan atau data urang awak yang merantau itu di kampung halaman. Suku apa dia. Dari mana dia berasal ?
Sejarah itu seyogyanya ditelu­suri oleh kalangan pemangku adat di Minang karena perantau itu berasal dari suku-suku Minang juga.
Hingga kini masih banyak urang awak yang menjadi pemimpin di negara lain. Misal­nya Datuk Sri Rais Yatim putra Agam dipercayai untuk memim­pin berbagai bidang di negara Jiran Malaysia. Sebagai orang Minang, Rais Yatim tak pernah melupakan adat dan budayanya bahkan bahasa sehari harinya masih memakai bahasa Minang yang sangat kental. Meski sudah lama merantau, dia sangat paham dengan sejarah Minang­kabau. Pepatah petitih Minang sangat hafal baginya.
Bawa urang awak pulang kampung
Beberapa waktu lalu, perantau Minangkabau di Kuala Lumpur “pulang basamo”. Agenda mereka antara lain mengunjungi Kota Padang Panjang, Bukittinggi dan Batusangkar. Disamping ingin berbagi kemajuan juga sengaja mengajak perantau Minang melihat sendiri tanah leluhurnya.
Ketua rombongan H Buchari Ibrahim di sela kunjungan itu menyatakan, pulang basamo itu adalah untuk mengajak urang awak yang lahir di rantau dan belum pernah pulang ke kampung halamannya. Mereka lahir dan besar di rantau orang. Mereka hanya tahu dari cerita saja bahwa mereka berasal dari Minang­kabau. Tetapi belum pernah tahu seperti apa Minangkabau itu.
Dan kita juga tak boleh menutup mata bahwa kemajuan di negara orang jauh lebih maju dibanding daerah kita. Kalau dahulu orang Malaysia, Brunei dan Singapura banyak belajar ke Indonesia termasuk pergi mengaji ke Minangkabau yang disebut beradat dengan filosofi “ABS-SBK” adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabulkah”. Tetapi kini justru terjadi sebalik­nya. Urang awak begitu bangga kalau diembel namanya ada gelar kependidikan luar negeri seperti titel Universitas di Malaysia. Sebab titel itu lebih berharga ketimbang titel yang diraih di dalam negeri. Tak hanya itu saja, orang Indonesia juga lebih suka pergi berobat ke Singapura atau Malaysia. Rata-rata 6000 orang Indonesia pergi berobat ke Luar Negeri termasuk para pejabat negara pergi berobat ke negara lain seperti Malaysia maupun Singapura. Itu terjadi lantaran kualitas obat, pelayanan dan tenaga medis dan peralatan nya lebih unggul.
Dalam agenda perantau Minang Kuala Lumpur pulang basamo dibawah naungan koperasi Minang Kuala Lumpur Berhad. Perantau Minang menawarkan untuk melakukan kerja sama dibidang pendidikan berbasis ICT dan kerja sama bidang perda­gangan. Bidang pendidikan juga tak bisa dibantah Malaysia memang unggul. Bidang perda­gangan, Sumbar kaya dengan hasil bumi dan ikan laut. Semua bisa dikirim ke Malaysia melalui Koperasi Minang Kuala Lumpur Berhad. Ikan laut saja misalnya, pasar borong di Kuala Lumpur sehari memerlukan 240 ton ikan. Selama ini ikan itu dipasok dari Filipina, Taiwan dan Korea, kata Haswin dan wahdi. Belum lagi sayur. Selama ini Malaysia mendatangkan sayur dari Thai­land. Hanya sebagian kecil dari Indonesia, kata Buchari Ibrahim dan Haswin Darwis bersama Abdul wahdi B Zakaria kepadaHaluan di Pondok makan Setia menanti Kuala Lumpur. ***H

Oleh:
IWAN DN