Featured Video

Kamis, 18 Desember 2014

Di Jepang, Pematang Sawah dari Beton



Dua kawasan lumbung padi Pasaman Barat (Pasbar), Nagari Sinuruik dan Nagari Talu dikunjungi tim Pusat Penelitian Pembenihan Kagawa, Jepang, Selasa (16/12). Kedatangan tim ke sana tidak terlepas dari kunjungan Bupati H. Baharuddin ke Kagawa beberapa bulan lalu.

Di kedua nagari itu, tim yang didampingi jajaran Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) Provinsi Sumbar, Asisten II Setda Pasbar Darul Chutni, Wakil Ketua DPRD Pasbar, Fetris Oktri Hardi, Kadis Pertanian Tanaman Pangan Holtikultura dan Peternakan Pasbar, Edrizal serta Kepala BPMKB Pasbar Hasril AS dan Kepala BP4K2KP, Gusti Warman berdialog dengan petani. Ada penerjemah yang berasal dari Air Bangis yang melancarkan komunikasi kedua pihak itu.
Dari diskusi tersebut terungkap, para petani mengeluhkan persoalan hama tanaman, yakni tikus. Kondisi itu jelas tim dari Kagawa sangat berbeda dengan kondisi di negara mereka. Di sana, disampaikannya, tidak ada tikus yang mengganas menghabisi tanaman padi petani. Kondisi tersebut karena pematang sawah mreka terbuat dari coran beton yang tidak bisa ditembus binatang pengerat tersebut.
Perbincangan soal pertanian di Pasbar berlangsung hangat. Bahkan, tidak terasa tiga jam pun berlalu. Akhirnya, rombongan tersebut bertolak ke Bukittinggi guna melanjutkan acaranya di Sumbar.
Sementara Edrizal pada Singgalang menyampaikan, kehadiran tim teknis pertanian Jepang ke Pasbar sebagai bagian dari kunjungan balasan atas kedatangan bupati bersama pihak provinsi dan pusat ke Jepang beberapa bulan lalu.
Tim dari Kagawa, Jepang tersebut sengaja dibawa ke Sinuruik dan Talamau, karena kawasan itu salah satu lumbung padi di Pasbar. Diharapkan, kondisi lapangan pertanian masyarakat dapat diketahui tim dari Negara Sakura tersebut secara menyeluruh. “Kendati kehadiran mereka terkait kajian pembenihan, namun kita berupaya keras agar kajian yang dilakukan juga menyeluruh. Mulai dari pembenihan, pengolahan hingga masa panen,” sebutnya.
Seperti yang sering dikatakan bupati, jelas Edrizal, segala upaya harus dijalankan guna meningkatkan produktivitas petani di kabupaten itu termasuk petani padi. Bagaimana pun tidak sedikit potensi pertanian sawah di daerah setempat. Apalagi di Sinuruik dan Talu.
Menindaklanjuti kunjungan tim dari Jepang lanjutnya, pemerintah daerah sudah menganggarkan dana untuk membuat percontohan pola pertanian di Jepang pada salah satu kawasan pertanian di Pasbar. “Kita yang harus terlebih dahulu memberikan contoh kepada masyarakat, sehingga dapat memodernisasi pola pertanian gunanya meningkatkan pendapatan petani padi,” sebut Edrizal lagi.
Juga disampaikan, tim Pusat Penelitian Pembenihan Kagawa Jepang yang hadir di Pasbar terdiri dari Fujita, seorang Teknisi Teknologi Pertanian. Kemudian Murakani, spesialis tenaga riset penelitian produksi benih. Miki, penyuluh dan pengawasan benih dan Takuma dari Divisi Kerja Internasional.S