Featured Video

Minggu, 28 Juni 2015

Kematian, Azab Bagi Orang-Orang Durhaka

Al Azhar Memorial Garden
A+ | Reset | A-
Kematian yang dialami orang-orang durhaka merupakan pelajaran bagi orang-orang mukmin, agar senantiasa menjaga akidah dari perbuatan yang dapat menyeret keimanan menuju kekafiran. Beberapa kematian tragis menimpa orang-orang durhaka tercatat dalam Alquran diantaranya adalah kematian Firaun dan Qarun. 


Meski memiliki latar belakang berbeda, keduanya hidup dimasa yang sama, yakni dimasa Nabi Musa AS. Kehidupan mereka menimbulkan kesengsaran sedangkan kematian mereka merupakan akhir dari kezaliman.

Demikian juga bagi keluarga yang ditinggalkan, orang-orang durhaka meninggalkan kehancuran, kezaliman dan kejahatan. Berikut gambaran kematian orang-orang durhaka yang digambarkan dalam Alquran.

1. Kematiannya Melepas Penderitaan Orang Banyak
Kezaliman Firaun menekan dan menyiksa rakyat Bani Israel yang terbelenggu dibawah perbudakan, sudah sangat dikenal luas. Tak cukup sampai disitu, ketakutan akan ramalan jatuhnya kekuasaan membuat Firaun memerintahkan pembantaian bayi-bayi tak berdosa. Ketika nyawanya berakhir di Laut Merah, saat itulah kebebasan Bani Israel dari kekejaman Firaun terlepas, hingga diperingati oleh umat Yahudi sebagai hari Asyura, yakni hari rasa syukur terbebas dari Firaun.

2. Kematian Memutus Taubatnya
Ketika ajal telah sampai dikerongkongan, segala taubat akan tertolak. Demikian yang terjadi terhadap Firaun yang baru mengakui kebenaran yang selama ini disampaikan Nabi Musa AS, sebagaimana Alquran :“Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Firaun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka), hingga bila Firaun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS Yunus :90) 

Ketika itu, Jibril menyumpalkan pasir kedalam Firaun hingga ia tidak dapat mengucap kalimat tauhid menjelang ajal, sebagaimana hadis :“Malaikat Jibril menyumpali mulut Fir’aun dengan pasir, khawatir kalau-kalau akan mengucapkan: la ‘ilaha illa’l-lah”  (HR Turmudzi;Ahmad;Ibnu Hibban)
3.  Kematiannya Mewariskan Kehancuran Firaun merupakan gelar pemimpin politik dan agama tertinggi bagi rakyat Mesir. Menyandang titel Raja Bagi Dua Wilayah dan Pendeta Bagi Semua  Kuil, Firaun menguasai seluruh wilayah Mesir yang membuat peraturan atau hukum yang berlaku, mengutip pajak dan membela wilayahnya dari pendatang asing. Sedangkan sebagai pendeta tertinggi, Firaun memiliki kedudukan sebagai wakil dewa-dewa di dunia. 

Firaun yang hidup pada masa Nabi Musa AS adalah Firaun II yang berkuasa pada periode 1279–1213 SM. Pada masa itu dikenal sebagai masa kejayaan Mesir kuno, hingga Firaun II dijuluki sebagai Firaun yang terkuat, terbesar dan paling dipuja diseluruh penjuru Mesir hingga ke wilayah Syiria dan Libya. Kematian Firaun II disertai dengan kejatuhan kerajaan Mesir.
Meski setelah kematiannya, 9 Firaun melanjutkan kekuasaannya, namun degradasi kekuasaan kerajaan Mesir terus berlanjut ditandai dengan serangan dari musuh-musuh disertai dengan persoalan internal kerajaan seperti perebutan kekuasaan, pembunuhan sesama ahli waris serta persoalan lain yang makin melemahkan kerajaan, hingga kerajaan Mesir yang semula agung dan dipuja kini tinggal puing-puing belaka.
4. Hidupnya Berakhir di Puncak Kedurhakaan dan Kesombongan
Masih ingat dengan kisah Qorun atau Qarun atau Karun? Ia adalah sepupu Nabi Musa AS yang dikenal sebagai orang terkaya dimasanya. Begitu kayanya, kunci gudangnya sangat banyak hingga harus dipanggul oleh 10 orang kuat. Semula Qarun hanyalah seorang miskin dengan banyak anak. Lalu, ia meminta Nabi Musa AS untuk mendoakannya agar ia kaya raya. Doa Nabi Musa AS pun terkabul. 

Kekayaan yang diberikan Allah SWT padanya membuat kesombongan serta riya yang merajalela, karena kaya ia pun memiliki kekuasaan yang didukung Firaun pada masanya. Kisah lain menceritakan bahwa Qarun ingkar janji pada Nabi Musa AS untuk menyembah Allah SWT  setelah ia kaya, ia malah menyembah Dewa Buaya, yakni dewa masyarakat Mesir kala itu. Kedurhakaan Qarun diantaranya adalah mengklaim bahwa kekayaaan yang ia dapatkan merupakan hasil jerih payahnya, sebagaimana Al-Quran: Karun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”(QS Al-Qashash,79).

Perilaku Qarun ini mengundang kemurkaan Allah SWT, hingga Qarun beserta harta dan pengikutnya tewas ditenggelamkan ke dalam tanah ketika ia tengah memamerkan hartanya dihadapan masyarakat Mesir, sebagaimana diceritakan dalam Alquran : “Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya…(QS Al-Qashah:80).
“Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya)” (QS Al-Qashash: 81)
5. Kematiannya Mendatangkan Pelajaran Bagi Orang Mukmin

Selain Firaun dan Qarun, Alquran dan Hadist merekam sejarah azab kematian bagi orang-orang zalim, seperti kematian bangsa Tsamud, Aad,Madyan, kaum Nabi Nuh AS, selain kaum yang melampaui batas lainnya. Sebagaimana Al-Quran: “Dan (Kami binasakan) kaum ‘Aad dan Tsamud dan penduduk Rass dan banyak (lagi) generasi-generasi di antara kaum-kaum tersebut.” (Surat Al-Furqaan ayat 38)

Penyebab utama orang-orang durhaka ini mendapat murka Allah SWT adalah kesombongan yang membuat mereka mengingkari nikmat Allah SWT. Kesombongan ini mereka manifestasikan dengan kebebasan berbuat sesuka hati seolah-olah tiada yang dapat menghentikan perbuatan mereka serta menempatkan diri mereka sebagai orang yang paling kuat, paling kaya, paling pintar serta kebanggaan lain yang justru berakhir pada kehancuran kaum mereka sendiri. Bukanlah Allah SWT yang mencelakakan mereka, melainkan mereka sendiri yang menganiaya diri mereka sendiri, sebagaimana Al-Quran: 

“…maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (At Taubah:70).Apa yang dilakukan orang-orang durhaka tadi bisa saja terjadi pada kita,dimana ditengah nikmat Allah SWT yang dapatkan, tak jarang kita merasa keberhasilan kita merupakan jerih payah kita sendiri, padahal sudah dijelaskan tadi, bahwa nikmat yang diberikan pada kita merupakan rahmat Allah SWT semata dan bisa jadi merupakan ujian dan cobaan yang mesti kita sikapi sesuai akidah, sebagaimana Al-Quran: ”Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar” (QS. Al-Anfaal: 28).r