Featured Video

Minggu, 14 Juni 2015

Pria Rusia Siap Jadi Subyek Pertama Transplantasi Kepala


Telegraph
Valery Spiridinov (30) bersedia menjadi subyek pertama tranplantasi kepala yang akan dilakukan pada 2017 mendatang.
Seorang pria Rusia, Valery Spiridinov (30) bersedia menjalani transplantasi kepalanya ke tubuh orang lain pada 2017, meski langkah ini ditanggapi skeptis dunia kedokteran.


Spidinov  menderita penyakit Werdnig Hoffman, sebuah kelainan otot yang menghilangkan kemampuan fisiknya sehingga dia sangat tergantung pada kursi roda. Kini, Spidinov mengumumkan niatnya menjadi manusia pertama yang menjadi subyek transplantasi kepala, sehingga otaknya bisa tersambung ke sebuah tubuh yang sehat.

Pakar kedokteran saraf Italia Dr Sergio Canavero mengklaim dia bisa menyelesaikan sebuah proses transplantasi kepala dalam waktu kurang dari satu hari. "Semua proses (transplantasi) 90 persen dijamin sukses. Tentu saja ada risiko, saya tak bisa menyangkal hal itu," ujar Canavero.

Namun, banyak dokter yang meragukan keberhasilan transplantasi kepala ini. Para dokter ini terutama mempertanyakan apakah otak Spiridinov masih akan berfungsi saat proses transplantasi selesai.

Meski banyak dokter ragu, namun Spiridinov sangat optimistis transplantasi ini akan berakhir dengan kesuksesan. "Jika saya mendapatkan kesempatan untuk mendapakan tubuh baru, maka saya akan melepas semua batasan dan akan lebih mandiri," ujar Spiridinov.

Tahap pertama transplantasi ini termasuk pendinginan tubuh pasien dan donor untuk mencegah kematian sel-sel otak di dalam proses pembedahan. Selanjutnya, leher pasien dikoyak sebagian dan pembuluh-pembuluh darah dari tubuh yang satu disambungkan ke tubuh yang lain lewat pipa.

Mattew Crocker, konsultan bedah saraf di RS St George, London mengatakan setiap langkah transplantasi kepala ini memiliki landasan dalam ilmu pengetahuan masa kini, setidaknya dalam teori.

"Mengeluarkan pembuluh yang memasok darah ke otak lalu mengembalikan pembuluh itu dengan tabung sudah sangat dikenal," kata Crocker.

"Mendinginkan suhu tubuh dan otak antara 10 hingga 20 derajat juga merupakan teknik yang sangat dikenal dan digunakan dalam pembedahan saraf dan jantung yang menimbulkan asumsi bahwa otak akan kehilangan pasokan darah dalam periode tertentu," tambah dia.

Tahap kedua operasi ini adalah memotong saraf tulang belakang dengan pisau bedah terbaik untuk meminimalkan kerusakan.

Kepala donor kemudian "dilepas" dan ditempatkan di tubuh penerima. Selanjutnya saraf tulang belakang disambungkan kembali menggunakan polyethylene glycol, sebuah materi yang biasa digunakan di dunia kedokteran dan industri manufaktur.

Tahap ketiga operasi ini adalah "menjahit" kembali pembuluh-pembuluh darah dan jaringan saraf. Kemudian tubuh penerima kepala dibuat dalam keadaan koma untuk beberapa pekan untuk mencegah pergerakan dan memberi waktu saraf tulang belakang untuk menyembuhkan dirinya sendiri.

"Proses ini sangat spekulatif. Masalah yang muncul adalah seseorang dengan saraf tulang belakang yang masih berfungsi menghadapi fakta bahwa fungsi tersebut dihilangkan," ujar Crocker.