Featured Video

Kamis, 06 Agustus 2015

Backpacking di Palestina, Mengapa Tidak?

Backpacker (Ilustrasi)
Backpacker (Ilustrasi)
Ber-backpacker ria di Palestina tidak lagi menjadi hal yang mencengangkan, meski jalur perjalanan tersebut terkesan tidak konvensional untuk para pelancong.


Para wisatawan yang menuju Ramallah, sebuah kota yang terletak di Tepi Barat, Palestina, dapat mengenal budaya dan belajar tentang realitas politik di sana.

"Selamat datang di Palestina!" kalimat itu bergema di jalan-jalan menyambut para Ajnabi, bahasa Arab untuk orang asing, diteriakkan para PKL di tengah kota yang berlalu lintas padat dan dipenuhi aroma kopi yang kuat.

Meskipun terdapat peringatan keamanan, para wisatawan telah terbiasa berkunjung ke Tepi Barat setelah menghabiskan beberapa hari di Israel. Mereka berminat melihat realitas Palestina dengan mata mereka sendiri.

Terlebih, terdapat akomodasi memadai selama beberapa tahun terakhir. Dua hostel modern di Ramallah telah menarik wisatawan ke kota dengan harga terjangkau.

"Setiap hari, tamu baru terkejut dengan realitas Tepi Barat dan betapa berbedanya itu dari harapan mereka," ujar Mike, pengelola hostel Area D, yang berasal dari Eropa.

Mike berujar, tak sedikit tamu yang berharap melihat kota yang penuh dengan puing-puing dan milisi bersenjata di mana-mana.

Sementara, Chris Alami, mitra bisnis Palestina Mike, mengatakan sebagian besar wisatawan yang tiba di Tepi Barat adalah orang dewasa muda yang memiliki minat tinggi dalam bidang budaya, bahasa, dan politik.

"Dari sudut pandang pelancong, Ramallah memiliki banyak potensi," kata Alami.R