Featured Video

Rabu, 23 Maret 2016

Bagaimana Nasib 'Winglet' di MotoGP


Bagaimana Nasib Winglet di MotoGP?Mirco Lazzari gp/Getty Images

Komisi Grand Prix sudah memutuskan melarang penggunaan winglet di kelas Moto2 dan Moto3. Bagaimana nasib sayap aerodinamis itu pada kelas MotoGP?


Winglet generasi terbaru yang menempel di body motor diperkenalkan kembali oleh Ducati di awal musim 2015 lalu. Setelah diujicoba pertama kali di Qatar, winglet itu kemudian mengalami beberapa modifikasi hingga akhirnya menghasilkan bentuk seperti yang dipakai Andrea Iannone dan Andrea Dovizioso pada balapan akhir pekan lalu.

Beberapa tim kemudian mencoba juga mengaplikasikan winglet pada tunggangan mereka. Yamaha menggunakan sayap aerodinamis itu di September 2015, sementara Honda melakukan ujicobanya pada tes pramusim ini.

Apa sebenarnya winglet dan seberapa besar itu berperan dalam menentukan kemenangan?

Di balapan F1, aerodinamis menjadi hal yang sangat penting - bahkan dinilai sama penting dengan mesin. Mobil-mobil F1 memaksimalkan teknologi aerodinamis dengan memasang sayap-sayap di depan dan belakang mobil.

Sayap-sayap itu punya dua fungsi utama: (1) menjaga mobil tetap menjejak aspal meski melaju dalam kecepatan tinggi (dengan menghasikan downforce yang besar) plus meningkatkan grip ban dan kecepatan saat menikung, serta (2) menjaga mobil tidak melayang dan kemudian terbalik di udara karena mereka sudah melaju dengan kecepatan sangat tinggi.

Di MotoGP, winglet punya fungsi yang mirip dengan sayap F1 tersebut. Keberadaan winglet itu adalah demi meningkatkan downforce motor dan berfungsi sebagai 'anti-wheelie' (kondisi dimana roda bagian depan terangkat akibat akselerasi dan kecepatan tinggi).



Motor-motor MotoGP sebenarnya sudah memiliki sistem 'anti-wheelie' sendiri, yakni berupa sebuah perangkat elektronik yang bertugas memotong tenaga. Sistem tersebut menghindarkanwheelie dengan cara mereduksi momentum ke arah depan, dengan kata lain merendahkan akselerasi motor.

Keberadaan winglet tak lain adalah juga sebagai sistem 'anti-wheelie', namun tanpa harus mereduksi tenaga motor. Intinya,wheelie tidak terjadi meski motor mengeluarkan tenaga yang besar karena sayap tersebut menghasilkan down force yang menahan roda tetap di aspal. Ducati melihat hal ini lebih efisien dibanding sistem 'anti-wheelie' berbetuk perangkat elektronik.

Selain menghindari wheelie, gaya down force yang besar pada roda depan juga diklaim mampu meningkatkan performa pengereman.

Tapi winglet bukannya tanpa kontroversi. Komponen tersebut dinilai membahayakan karena bisa bersentuhan langsung dengan pebalap, terlebih jika terjadi kecelakaan. Carl Crutchlow menjadi salah satu pebalap yang sudah menaruh perhatian akan hal tersebut dan menyebut winglet bisa saja 'mengiris' pebalap lain.

Dani Pedrosa juga mengritik keberadaan sayap aerodinamis tersebut. Rider Repsol Honda itu menyebut winglet menghasilkan turbulensi besar yang membahayakan pebalap di belakangya.

"Keberadaan winglet, ada turbulensi besar saat Anda berada di belakang pebalap yang memakainya pada jarak dekat," ucap Pedrosa beberapa waktu lalu.

Meski memicu perdebatan, winglet diyakini tidak akan dilarang penggunaannya di MotoGP - sebagaimana telah dicekal penggunaannya di Moto2 dan Moto3.

"Saya pikir tidak (akan dilarang). Tahun lalu kamu keluar di Qatar dengan menggunakan winglet dan semua orang tertawa. Separuh musim berlalu ada tim lain yang memakainya. Sekarang hampir setiap orang memakainya," ucap Sporting Director Ducati Corse, Paolo Ciabatti.

"Jadi saya pikir Ducati adalah pabrikan pertama yang memahami fungsinya sebagai bagian aerodinamis, dan juga kemungkinan penggunaan winglets untuk mengurangi wheelie dan kegunaan lainnua. Itu memang berguna."

"Tentu saja beberapa pebalap akan melakukan protes, tapi pada akhirnya seluruh pabrikan akan memasangnya. Saya pikir itu adalah sebuah evolusi di olahraga ini dan Ducati merupakan pelopornya. Hanya itu yang saya bisa katakan," lanjut Ciabatti diCrash.