Featured Video

Kamis, 19 Mei 2016

Bripka Seladi Memilih Memulung untuk Menghidupi Keluarga


Brigadir Kepala Seladi, anggota polisi lalu lintas di Malang, Jawa Timur, di luar jam dinasnya mengumpulkan limbah untuk diolah kembali, Selasa (17/5). Ia memilih mengumpulkan sampah untuk mencari uang tambahan bagi keluarganya. Uang tak halal, menurut dia, tidak akan membawa berkah.


”Pak, ini sebagai ucapan terima kasih saya atas bimbingannya,” ujar seorang pemohon SIM A dengan halus sambil menyodorkan amplop kepada Brigadir Kepala Seladi, penguji praktik SIM A di Kepolisian Resor Malang Kota. Dengan halus, petugas paruh baya itu menolak pemberian dengan kalimat ”sudah tugasnya dan tidak bisa menerimanya”.


”Kalau begitu, biarkan saya membelikan secangkir kopi saja untuk Bapak,” ujar si pemohon SIM dengan niat membalas kebaikan dan keramahan Seladi.

Sekali lagi, ia menolaknya dengan alasan sedang bertugas. Seladi merasa itu sudah kewajibannya. Ia tak ingin nantinya secangkir kopi itu justru akan dikaitkan dengan urusan SIM.

Mereka yang ingin memberikan imbalan kepada Seladi akhirnya mengurungkan niat. Para pemohon SIM justru respek terhadap petugas paruh baya itu.

Godaan seperti itu telah dialami Seladi selama 16 tahun bertugas menjadi penguji SIM A di Polres Malang Kota. Padahal, jika mau, Seladi sangat mungkin memanfaatkan kedekatan dengan pemohon SIM untuk ”mengutip” sekeping demi sekeping keuntungan.

Namun, peluang itu tidak dimanfaatkannya. Seladi justru dengan sabar mengajari mereka yang gagal ujian agar ketika minggu depan kembali diuji bisa lulus mendapatkan SIM.

”Saya mengajari mereka murni agar mereka bisa dan lolos mendapatkan SIM. Bukan untuk agar bisa mendapat untung. Kasihan karena mereka sangat membutuhkan SIM itu,” ujar Seladi, Selasa (17/5/2016).

Tidak gelap mata

Bergelut di ”lahan basah” yang dekat dengan potensi suap tidak menjadikan Seladi gelap mata. Ia tetap bekerja dengan jujur meski kondisi ekonominya kembang-kempis untuk membiayai hidup istri, tiga anaknya, dan membayar cicilan bank.

Seladi tetap saja taat aturan. Ia tidak menggunakan kesempatan itu untuk mengutip uang. Padahal, saat itu ia tengah terbelit utang di bank untuk modal usaha yang nilainya mencapai ratusan juta rupiah. Modal itu digunakan untuk berjualan bensin eceran.

Usahanya kandas karena terbakar, tetapi Seladi tidak menyerah. Ia lalu banting setir bisnis sepatu, mebel, hingga barang elektronik. Namun, kembali nasib belum berpihak kepadanya. Bisnis elektronik kandas karena ditipu rekannya.

Nilai bisnis elektronik yang ditipu temannya mencapai sekitar Rp 125 juta, yang didapat dari pinjaman. Pinjaman itu sampai saat ini masih harus dicicil. Kalau tidak salah, tinggal satu atau dua kali angsuran.

Meski dirugikan, Seladi tidak ingin menggunakan profesinya sebagai polisi menuntut temannya. Ia merasa usahanya itu mungkin bukan rezekinya.

”Mungkin saya diingatkan oleh Tuhan bahwa rezeki di jalur itu bukan hak saya. Ya ini, sekarang rezeki saya dari sampah. Meski kelihatannya buruk, rezeki dari sini halal dan sama sekali tidak merugikan orang lain,” kata suami Ngatiani ini.

Hal itulah yang meneguhkan Seladi untuk tetap bekerja jujur. Baginya, uang halal saja bisa dengan mudah hilang, apalagi yang haram. Mungkin dalam sekejap mata bisa saja sirna.

”Yang terpenting adalah niat. Kalau niatnya baik, apa pun godaannya tetap saja kita bisa bertahan. Sekarang warga Malang sudah banyak yang paham, tidak perlu menyuap untuk bisa mendapatkan SIM. Asalkan mereka mampu, pasti bisa,” katanya.
Seladi masuk polisi tahun 1977. Pertama kali bertugas berpangkat bhayangkara dua (barada) di Kepolisian Resor Malang Kota. Seladi kini berpangkat bripka dan setahun lagi memasuki pensiun di usia 58 tahun.


Brigadir Kepala Seladi, anggota polisi lalu lintas di Malang, Jawa Timur, di luar jam dinasnya mengumpulkan limbah untuk diolah kembali, Selasa (17/5). Ia memilih mengumpulkan sampah untuk mencari uang tambahan bagi keluarganya. Uang tak halal, menurut dia, tidak akan membawa berkah.
Memulung

Selama 39 tahun bertugas, Seladi memang tidak sekadar menggantungkan hidup pada gaji semata. Mulai tahun 2006, ayah tiga anak itu mulai memulung sampah di berbagai pelosok kota. Ia terbelit kebutuhan biaya sekolah anak dan membayar utang di bank.

Awalnya, Seladi banyak memulung sampah di kawasan Polres Malang Kota. Namun, saat mulai ada orang lain mengambil sampah di sana, Seladi bergeser ke tempat lain. Ia terus memulung ke sejumlah lokasi di Kota Malang.

Akhirnya, Seladi fokus memulung sampah kereta di Stasiun Kota Besar Malang. Ia menganggap rezeki itu sudah sangat berlimpah, itu pun sudah kewalahan menanganinya. Padahal, ia telah dibantu oleh anak dan dua pekerjanya.

Ia melibatkan anak dan keluarganya, bukan karena ingin mempekerjakan anak, tetapi lebih bertujuan untuk mendidik anaknya mengenai makna kerja keras dan nilai kejujuran.

”Saya mengajari anak saya untuk mau bekerja keras agar mendapatkan uang. Kerja itu berat. Mencari rezeki tidak gampang. Makanya, saya ajari anak bekerja keras seperti ini. Ini rezeki berlimpah, tetapi banyak orang enggan menyentuhnya,” ujar pria kelahiran Desa Sumbermanggis Jogomulyan, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, itu.

Selepas dinas pukul 16.00, dengan mengendarai sepeda tua, Seladi menuju ke rumah kosong yang berjarak 200 meter dari kantor SIM. Di rumah itu, tumpukan sampah dalam kantong-kantong plastik hitam sudah menantinya. Selasa sore itu, anak kedua Seladi, Rizal Dimas Wicaksono (20), sudah berada di sana. Rumah kosong itu milik kenalan Seladi, dan diizinkan dijadikan tempat penampungan sampah.

Memasuki ”ruang kerja” Seladi harus melalui dua ruangan gelap dan pengap penuh sampah. Bau anyir kotoran menyesakkan hidung dan bisa membuat mual perut. Di ruang ketiga yang lokasinya lebih terbuka (tanpa atap), Seladi dan anaknya memilah-milah sampah.

Semua sampah ini dari stasiun yang berasal dari setiap kereta yang berhenti di Stasiun Kota Besar Malang. Beberapa dari sampah ini masih ada yang bisa dijual, seperti plastik, kertas, atau kemasan makanan.

”Orang melihat sampah tidak ada gunanya. Namun, bagi saya, ini adalah rezeki luar biasa yang dijauhi orang,” ujar Seladi.

Ingin masuk polisi

Istri dan tiga anak Seladi tidak protes soal memulung sampah. Anak pertamanya kini bekerja di RSI Unisma Malang. Anak keduanya, Rizal Dimas Wicaksono, lulus D-2 Teknik Informatika Universitas Negeri Malang. Anak ketiga Seladi masih duduk di bangku kelas II SMA.

Dimas saat ini sedang berjuang untuk masuk menjadi polisi. ”Saya ingin menjadi polisi sejak kecil. Saya ingin seperti Bapak. Banyak orang menilai polisi tidak baik. Namun, saya melihat ayah saya tidak seperti itu. Saya ingin buktikan bahwa polisi bisa jadi sosok baik asal bekerja dan bertindak dengan baik pula,” ujar Rizal.

Rizal sudah tiga kali mengikuti ujian seleksi menjadi polisi, tetapi belum lolos. Sang ayah terus mendorongnya sebab menjadi polisi artinya adalah melayani dan berguna bagi masyarakat.

Sosok Seladi, yang kini masih tinggal di rumah peninggalan mertuanya, dikenal sebagai polisi jujur dan sederhana, serta menolak suap dan setia dengan sepeda tuanya untuk bekerja.

Ia mungkin tidak mendapatkan dan memiliki banyak uang. Namun, Seladi mengantongi hormat dan penghargaan banyak orang Malang. Itu sudah cukup membuat Seladi bahagia. 

Versi cetak artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 19 Mei 2016, di halaman 1 dengan judul "Seladi Memilih Memulung untuk Menghidupi Keluarga".K