Featured Video

Rabu, 14 September 2016

Kisah Pak Tono dan Tamatnya Karir Ahok!


REPUBLIKA.CO.ID, Oleh : Rudi Agung*)

Pak Tono tertawa. Orang yang nongkrong di kedai kopi, heran. Alung, sahabat Cina pak Tono penasaran. Pak Tono menunjukkan meme dari gadgetnya. Isi meme dari media sosial diperlihatkan ke pengunjung kedai itu. Meme tersebut bertuliskan: temannya saja ditinggalkan, apa lagi warga. 


Meme sakartis itu menyindir Ahok yang dulunya menghina partai dan ngebacot mau independent, malah merapat ke partai. Entah kemana dan untuk apa sekarang KTP yang diklaim mendukungnya? Seisi kedai ikut tertawa. Alung nyeletuk, “Karir Ahok sudah tamat!” Orang-orang di kedai menengok Alung. 

Giliran Alung memperlihatkan gadgetnya. Ia memberi tahu sebuah berita di Rimanews, 27 Juni 2016, yang judulnya: Dilempari Batu, Ahok Sudah Tak Ada Harganya Lagi di Mata Warga DKI. 

Alung juga memperlihatkan berita lain soal protes Jaya Suprana, yang seetnis dengannya dan dengan Ahok. Jaya Suprana, menulis surat tentang kekhawatirannya pada Ahok. Menurut Suprana, ucapan dan tingkah Ahok yang kontroversial akan membahayakan kepentingan orang Cina pada umumnya. 

Alung berkisah kondisi penggusuran: penggusuran Ahok mewariskan penderitaan sampai sekarang. Kampung Pulo, Kalijodo, Pasar Ikan, Luar Batang, Rawajati. Lalu, ia menunjukan berita dari laman Suaranasional, 1 April 2016, berjudul: Ngeri, Aktivis Kristen Ini Bongkar Strategi Ahok Pecah Islam untuk Peroleh Dukungan Kristen. Berita itu tentang statement aktivis Kristen yang tolak Ahok, Novita Siagian. 

Kata Novita, Ahok sendirilah yang menebar kebencian mengaduk-aduk agama dan memprovokasi agama Kristen dan Islam biar pecah. “Padahal, misi sebenarnya membuka jalan menguasai Indonesia. Dan melemahkan semua tentang Indonesia. Dan membuka jalan untuk Tiongkok dan mafia-mafianya bebas bermain. Sekarang yang harus difikirkan adalah: sampai kapan kita terus diam,” ujar Novita.

Eh, giliran Pak Tono yang heran. Ternyata makin banyak yang menolak Ahok. Tak mau kalah, Pak Tono menunjukkan informasi lain soal tulisan-tulisan aktivis keturunan Cina lainnya, Zeng Wei Jan, yang menjadi inspirasi gerakan anti Ahok. Mau dengerin tidak, kisahnya panjang? Semua manggut-manggut. 

Ia meneruskan, hal menarik dari tulisan Zeng ihwal keuntungan bisnis properti bagi para Taipan yang tetap meninggalkan kisah kemiskinan sama bagi si Aheng penjual mie. Tulisan Zeng makin meluluh lantakkan stigma yang dibangun Ahok dan pasukannya mengenai penolak Ahok itu Muslim, pribumi, pro Prabowo, atau pecinta Arab Saudi. Faktanya, saudara kita yang Cina dan Kristen banyak menolak Ahok. 

Sedangkan Ahok terus membangun opini terdzalimi dan mengadu domba dengan membawa SARA yang standar ganda. Zeng menulis: Ahok, dibantu tim cyrus dan buzzer bayaran memecah belah kesatuan warga. Ruang demokrasi dikotori disinformasi sepihak dan delusi developmentalisme inhuman yang bebas nilai. Situasi ini sangat berbahaya bagi intelektualitas. Dalam satu catatannya, Zeng juga tegas: Apapun Ceritanya Ahok Sudah Tamat!

Seisi kedai manggut-manggut. Ada yang melongo. Mereka terpana dengan penjelasan pak Tono tentang sepak terjang Ahok. Apalagi tulisan Zeng yang dikenal kencang melawan tirani Ahok. Padahal, sebelum 2014, Zeng begitu mengidolakan Ahok. 

Itu bisa dilihat dari tulisan di blog pribadinya, yang telah dihapus. Tetapi arsipnya masih bisa digugling. Salah satunya berjudul: Ahok Bersih, Transparan, Profesional. Di tulisan itu, Zeng begitu mengelukan Ahok. Ia menuliskan tentang pujiannya pada TDC 31, dan rencana politik Ahok ke depan. 

Sekarang, Zeng malah jadi nomor satu melawan Ahok. Begitu pula kaum Cina lainnya. Ini menunjukkan fakta kartu asli Ahok di belakang media. Orang dekatnya saja bisa dibuat sakit hati. Pak Tono mengajak membongkar ingatan soal sepak terjang Ahok sejak menerima warisan kekuasaan di Jakarta. Pelantikan Ahok menuai polemik. Sejak awal menerima warisan kekuasaan (bukan dipilih rakyat), sudah penuh kontroversi. Sidang paripurna tidak memenuhi kuorum. Kala itu, masih hangat dagelan politik: KMP dan KIH. Sidang hanya dihadiri 44 dari 106 anggota DPRD, cuma berlangsung lima menit. Ajaib kan?

Satu pimpinan yang hadir hanya Ketua DPRD DKI Prasetyo Edi dari PDIP. Lima dari 49 pendukung Jokowi tak hadir. KIH ngotot melantik karena berpatokan Pasal 203 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1/2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Wali Kota sebagai dasar hukum. 

Sedang KMP berpegang pasal berbeda dalam perppu itu, yakni pasal 173 dan 174. Inti dari pasal yang dipegang KMP, wakil tidak serta merta bisa menggantikan gubernur, walikota, bupati.  Mereka meminta fatwa MA, tapi Kemendagri ngotot fatwa MA tidak perlu. 

Melanggenglah Ahok ke kursi warisan kekuasaan. Dagelan interpelasi DPRD DKI sempat mencuat. Tapi namanya dagelan, ya bukan kenyataan. Sampai kini teriakan interpelasi tenggelam entah kemana.

Dan… abrakadraba! Sulap arogansi dimulai: pada Maret 2015, istri dan adik Ahok ketawan memimpin rapat di Balai Kota. Gegerlah publik. Ahok berdalih, saat itu ruangan penuh dan minta pakai ruang rapim yang kosong. Entah kenapa tidak ada alasan yang lebih elegan dari itu. Seperti biasa, media membela.

Tapi di bulan sama saat wawancara dengan Kompas TV, Ahok melempar kata-kata jorok. Meski sudah diingatkan dan dilarang Aiman, selaku host, Ahok tetap tak peduli. Publik geger lagi. Naifnya, perkataan kotor dan tak beradab itu bukan sekali. Ahok masih mengulangnya di kesempatan berbeda. 

Lebih ironi, prestasi DKI babak belur. Dari serapan anggaran terendah sampai lepasnya Adipura yang bertahun-tahun selalu diraih Jakarta. Itu diperparah kasus TransJakarta patah, terbakar, kecelakaan. Lalu, banjir besar yang selalu datang meski hujan sebentar. 

Tetapi stok 'kambing hitamnya' banyak sekali. Ada saja pihak yang disalahkan. Dari anak buah sampai warga yang menjadi korban banjir. Ahok juga ketawan berdusta di persidangan soal tanda tangannya. Ia menuding Jokowi yang teken Perda APBD Perubahan 2014. Asyik kan bisa dusta di pengadilan?

Idul Adha 2015, Ahok melarang PKL jualan kambing. Terjadi bentrok di Tanah Abang. Padahal menurut penuturan pedagang, dari Ahok belum lahir, Tanah Abang sudah ada. Wartawan senior Republika, Alwi Shahab, akrab disapa Abah Alwi, menjelaskan: penjual kambing telah berlangsung sejak 1950-an, saat pedagang hewan belum sebanyak sekarang. Pasar Tanah Abang sendiri didirikan pada 30 Agustus 1735 atau lebih dua abad itu, dulunya dinamakan Pasar Kambing.

Dulu pedagang di sana sempat ditertibkan Gubernur Ali Sadikin, tapi caranya elegan. Tidak ada arogansi. Tidak ada bentrokan. Ada dialog hangat. Ada solusi manusiawi. Jauh berbeda dengan Ahok. 

Akhirnya semakin ke sini, Ahok ditolak warga. Disambit. Warga demo meminta dirinya turun. Apalagi saat Ahok terus mencampuri urusan umat Islam yang sudah ajeg. Islam sudah ada aturan sendiri. Ngapain Ahok ikut-ikut. Umat sabar. Tetapi Ahok terus saja menganggu urusan umat. 

Publik akhirnya melawan karena Ahok melempar SARA standar ganda: SARA teriak SARA. Padahal di Papua semua juga memaklumi jika pemimpin di sana harus non Muslim dan warga asli Papua. Begitu juga di Bali dan Sulut, dll. Ketika warga DKI minta hak sama dibilang SARA. Standar ganda yang lucu. 

Umat Muslim tidak pernah protes pula soal domba tersesat yang banyak dikabarkan dalam Injil. Tetapi kenapa Ahok protes dibilang kafir, yang diabadikan dalam Alquran. Tatanan ajeg terus dirusak Ahok. Ini sangat berbahaya. 

Padahal, kemerdekaan ini direbut darah ulama, santri dan umat Muslim, bukan politisi. Apalagi media dan survei bayaran. Jangan sejarah dibelokan, dibusukkan. Bangsa besar adalah bangsa yang tidak melupakan pahlawan dan sejarahnya. Begitu pesan Bung Karno. 

Bahkan, Pangkostrad Letjen TNI Ery Rahmayadi di Pesantren Ar Raudlatul Hasanah, Medan, 01 Agustus 2016, menegaskan: Kemerdekaan negara ini direbut syuhada, bukan politikus. Direbut oleh pemuda yang dilandasi keimanan pada Allah Ta’ala. Tetapi warga DKI dan pemudanya malah digusur dengan cara tak manusiawi. Bahkan, anak-anak yatim ikut menjadi korban penggusuran. Tidak ada lagi nurani. 

Penggusuran mengerahkan polisi dan TNI. Dalih Ahok pendampingan. Sejarah di Indonesia: penggusuran melibatkan TNI. Entah kenapa tupoksinya kok bisa berubah? Akibatnya, semakin deras penolakan masyarakat dan kencangnya suara penolakan Ahok. Ia ditolak dimana-mana. Sampai-sampai dikawal brimob dan gegana. Terakhir, ketika warga Tanjung Priok sibuk Idul Adha, Ahok meresmikan Kebon Kacang yang dikawal Brimob. Kenapa Brimob tidak pro rakyat? Gaji mereka kan dari rakyat. 

Dan sejarah lagi di Indonesia: pemimpin ditolak orang-orang yang dipimpinnya, yang pemimpin itu tidak tahu malu dan percaya diri. Mungkin karena media terus membela dan menutupi kegagalannya. Tetapi, sekeras-kerasnya media bekerja untuk pencitraan: kenyataan tidak bisa dilawan! Berita bisa direkayasa, tetapi fakta lapangan tidak bisa didustakan. 

Belum  lagi dugaan kasus korupsinya yang mencuat. Mulai Sumber Waras sampai reklamasi. Bahkan, ada yang mencuatkan dugaan kasus-kasusnya di Beltim. Khusus Sumber Waras, akrobat hukum terjadi: KPK mencari niat jahat. Ini seolah sulap dan revolusi hukum di dunia! Potrer kerusakan hukum. 

Pak Tono membongkar ingatannya yang lain: saat Aiman dari Kompas TV melakukan verifikasi KTP yang diklaim mendukung Ahok, Aiman bak disambar petir. Saat dicek, pemilik KTP tidak ada. Bahkan, Aiman menyindir gimana kalau KPU yang melakukan verifikasi? Pendiri Teman Ahok, Singgih, yang ikut memverifikasi cuma cengar-cengir. 

Akhirnya, Ahok yang dulu mencaci habis parpol malah kembali ke parpol. Kemana KTP itu? Untuk apa KTP itu? Rakyat berhak menanyakan kejelasannya. Nah, jelang Idul Adha 2016, sapi Ahok ditolak warga Luar Batang. Ini adalah tragedi kepemimpinan yang sangat memalukan sekaligus memilukan! 

Beritanya dibolak balik media pendukung. Seterbalik framing sebelum-sebelumnya. Tapi, warga DKI bukanlah sekumpulan kerikil yang hanya diam. Apalagi sekarang sudah ada sosial media yang menjadi kekuatan kelima setelah Pers. Plus ada pula media-media kelas menengah yang pro rakyat. 

Meski media pembela Ahok bekerja keras, tapi fakta lapangan, dan daya kritis warga DKI tidak bisa lagi ditutupi. Kinerja media dan survei bayaran pun malah jadi bahan tertawaan. Mengkerdilkan media dan lembaga survei itu sendiri. 

Ajaibnya, sampai sekarang, media pembela masih terus berusaha mencitrakan Ahok. Framing dibuat seolah Ahok tak terkalahkan. Tiada lawan. Padahal ini Ibu Kota. Masyarakatnya bukan sekumpulan robot yang manggut-manggut dicekoki informasi palsu. Bahkan anak-anak pelajar pun ikut menolak Ahok. 

Kenyataan sekarang adalah secara de facto karir Ahok sudah tamat!

Adalah naif ditolak dimana-mana tapi masih bisa bersikap arogan. Terlebih Ahok malah membuka front baru dengan warga DKI asli, yang mau menyetop dana Bamus Betawi. Padahal dana itu diatur Perda. Kok seenaknya bikin aturan sendiri gegara warga Betawi menolaknya. Bahkan, Ahok terus bersikap bengis terhadap warga Jakarta dengan penggusuran tanpa kemanusiaan. 

Saat meledak protes penolakan mahasiswa UI, Ahok sarankan mahasiswa itu ke Timur Tengah. Jakarta milik semua. Bukan milik Ahok. Kenapa mudah sekali mengusir? Terlebih Ahok sendiri bukan warga DKI asli. Tapi membuat warga terpolarisasi, terutama di sosial media. Sedangkan pemimpin pribumi dulu malah menyambangi warga Cina yang miskin di Jakbar dan Jakut saat Imlek. Semua dirangkul. 

Tak heran warga pun sekarang makin kencang berteriak: karir Ahok sudah tamat! Hanya kecurangan yang bisa memenangkannya! Hanya kerusakan hukum yang meloloskannya dari jerat hukum! Apalagi kalau kita bedah lebih banyak lagi kegagalan dan dugaan kasus-kasusnya.

Masyarakat juga minta tatanan yang sudah ajeg berpuluh-puluh tahun jangan dirusak lagi. Sekeras apapun media, siber sosial media, dan survei bekerja mencitrakan, tapi kenyataan lapangan tidak bisa dilawan. Senjata siber medsos yang menjuluki penolak Ahok sebagai: barisan sakit hati, tak legowo, nasi bungkus, sudah tidak mempan lagi. Itu akibat sikap Ahok sendiri. 

Kini, penolakan menggelinding bak bola salju yang tidak bisa lagi dihentikan aikibat arogansi Ahok sendiri. Hukum alam siapa menanam siapa menuai mulai berlaku. Pemodal pun akhirnya jadi mikir. La wong sapinya saja ditolak apalagi orangnya. Ini Jakarta, Bung! Pemodal juga mau untung. 

Pak Tono bertanya: Kenapa Ahok senang membuka front dengan banyak pihak? Apakah nekatnya Ahok bersikap arogan sengaja memancing konflik. Apa memang itu perannya? Jika demikian, negara jangan diam. Jakarta selama ini damai dan tentram. Aparat juga harus berpihak pada rakyat. Cukup Allah penolong rakyat dan sebaik-baik penolong hanyalah Allah. Allahumma shalli alaa Muhammad. 

Usai pak Tono berkisah, seisi kedai berteriak dengan lantang: karir Ahok tamat! Hanya kecurangan yang memenangkannya! Hanya kerusakan hukum yang meloloskannya dari hukum! Tetapi, ujar pak Tono, tetap saja calon yang segerbong dengan Ahok sebagai cadangan alternatif, sudah disiapkan bandar. Seisi kedai kopi itu melongo…

Umat dan warga DKI harus benar-benar selektif. 


*) Pemerhati Masalah Sosial