Featured Video

Rabu, 13 Juli 2011

Air Mata Sang Bunda Sulit Dibendung-Dibalik kematian siska


winda

ILUN, ibunda Siska, mahasiswi Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Gunung Pangilun yang menjadi korban pemerkosaan dan pembunuhan sadis Maret lalu, meraung-raung ketika tiba di rumahnya, di daerah Sungai Sapiah. Dia dibonceng sepeda motor oleh anak nomor empatnya, sementara Ises (kakak Siska) memeluk sang bunda dari belakang.
Ternyata, dia baru saja disodori sebuah koran yang memberitakan tentang anaknya. Dia tak tahan melihat foto yang terpampang.
“Aden ndak talok mancaliaknyo doh,” (Saya tak mampu melihatnya)” katanya masih tak kuasa menahan raungan, Rabu (6/7).
Sebenarnya, baru sepekan terakhir dia mampu kembali menjalani aktivitas berjualan sate di Terminal Air Pacah. Bayangan almarhumah Siska tak pernah hilang, ketika melihat lemari puterinya itu dan pakaian yang tersusun rapi, tangisnya tumpah. Kadang, tanpa sadar dia riang memasak makanan kesukaan sang anak, namun ketika ingat bahwa tak akan ada lagi wajah ceria yang akan disambutnya sepulang kuliah, perempuan itu kembali menangis. Sampai kini, dia tetap tak sanggup melihat apa-apa yang mengingatkannya pada Siska. Apalagi fotonya.
Siang itu, Ilun malah disodori koran oleh salah seorang temannya yang merupakan pedagang di terminal Air Pacah. Dia benar-benar tak kuasa. Sakit akibat kepergian anak kesayangannya pun tak tertahankan.
“Sajak di terminal tadi amak lah manangih-nangih,” (sejak dari terminal tadi ibu sudah menangis), kata Ises sambil mendudukkan sang ibunya di bangku panjang di teras rumah. Sementara Gadih, sang nenek sibuk mencari segelas air untuk menenangkan Ilun.
Sudah hampir empat bulan Siska dimakamkan di pekuburan dekat rumahnya, namun luka yang tertoreh akibat pembunuhan sadis tersebut tak jua hilang.
Diceritakan Gadih, Siska adalah anak yang santun, tak banyak tingkah. Bahkan, dia pun pandai membantu orang tua dengan keterampilan menjahit. Sebelum kuliah di STKIP PGRI Gunung Pangilun, Siska sempat bekerja sebagai tukang jahit di Siteba. Namun karena tahun 2010 dia bisa melanjutkan kuliah, pekerjaan tersebut ditinggalkan. Dia tetap menjahit tapi di rumah saja.
Kamis (10/3), sehari sebelum dibunuh, Siska baru saja menyelesaikan jahitan baju sang kakak yang berada di Malaysia. Sedangkan beberapa pesanan jahitan banyak yang belum selesai. Terlihat potongan-potongan pola jahitan masih terserak di meja jahit. Sengaja dibiarkan begitu saja oleh keluarga.
“Serasa masih akan dilanjutkannya jahitan itu,” kata Gadih getir.
Anak ketiga dari enam bersaudara itu dikenal sebagai gadis rumahan yang cerdas. Betapa senangnya hati keluarga melihat Siska yang cerdas akhirnya mampu kuliah. Sementara profesi sang bapak hanyalah buruh tani, ibu pun hanya berjualan sate. Namun apa daya, keinginan Siska untuk menjadi seorang guru tak kesampaian. Maut menjemputnya dengan cara yang mengenaskan.
“Dia satu-satunya anak saya yang kuliah, meski kesulitan biaya, melihat tekadnya yang besar kami berusaha memenuhi cita-citanya, dia pun juga berusaha mencari uang lewat menjahit,” kata Gadih.
Cincin emas yang dijual Irda (pacar terdakwa pembunuh Siska—red) pascapembunuhan itu dibeli Siska dari hasil menjahit. Keluarga Siska benar-benar tak menyangka Irda yang sebelumnya merupakan teman Siska tega mengadu domba Siska dan Ucok.
“Pasti gara-gara dipanas-panasi Irda, Ucok akhirnya mengajak Siska bertemu hari itu,” ujar Ilun.
Irda yang sempat datang ke Pengadilan Negeri Padang sebagai saksi tetap disebut-sebut keluarga sebagai orang yang turut bertanggung jawab atas kematian Siska.
“Banyak sudah kebohongan yang dilakukan Irda sampai akhirnya turut menjual cincin Siska yang dia tahu sudah dibunuh oleh Ucok,” kata Ilun.
Luka mendalam terus membekas di perkampungan keluarga itu. Meski jasad Siska sudah dimakamkan. Hati yang kehilangan tak jua menemukan jawaban.
“Kami hanya menginginkan keadilan. Terdakwa pantas dihukum mati,” kata Gadih.
Bagaimanapun, Siska telah pergi untuk selama-lamya. Hanya kebaikan dan serpihan kenangan yang disisakannya untuk keluarga dan akan selalu dikenang. (winda)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar