Featured Video

Rabu, 13 Juli 2011

Ribuan Rumah di Pessel Direndam Banjir-Painan


Painan, Singgalang
Lima Kecamatan di Kabupaten Pesisir Selatan dihondoh banjir Selasa pagi kemarin. Ribuan rumah terendam. Ketinggiannya rata-rata selutut orang dewasa. Tidak ada korban jiwa dalam bencana ini.
Tidak hanya itu, bencana yang diakibatkan hujan lebat sejak Senin (11/7) siang, juga mengakibatkan jalan di Kampung Baru, Nagari Kambang Utara terban sekitar 10 meter. Badan jalan yang tersisa tinggal setengah meter. Kenderaan roda empat tidak bisa melintas di jalan tersebut.
Ke lima kecamatan yang dilanda banjir tersebut masing di Cumateh Kecamatan Koto XI Tarusan, Kenagarian Gurun Panjang Kecamatan Bayang, Laban, Salido Kecamatan IV Jurai, Kecamatan Batang Kapas dan Lengayang.
Pantauan Singgalang, menjelang sore kemarin air mulai surut. Beberapa ruas jalan yang semula terputus, seperti di Kecamatan Batang Kapeh su-dah kembali normal.
Sedangkan rumah warga yang terendam mulai dibersihkan pemiliknya. Lumpur yang masuk ke dalam rumah dibersihkan menggunakan peralatan seadanya.
Banjir yang menimpa Pessel kali ini akibat luapan beberapa sungai tidak sehebat kondisi sebelum-sebelumnya. Soalnya pada banjir beberapa waktu lalu banjir sempat merendam ribuan rumah dan memutuskan transportasi jalan nasional.
Wakil Bupati Pesisir Selatan, Editiawarman yang ditanya Singgalang menyatakan, telah mengirim tim Search and Rescue (SAR) pada titik banjir. Mereka bertugas untuk mengevakuasi warga yang terjebak. Sejauh ini, lanjut wabup tidak ada kendala yang berarti ditemukan di lapangan. “Seluruh titik yang disapa banjir kini sudah aman. Air sudah surut,” jelas Editiawarman.
Meskipun kondisi cuaca sudah membaik sore kemarin, wabup mengimbau warga tetap waspada terhadap banjir susulan. Aplagi akhir-akhir ini cuaca tidak menentu. Mendung masih menyungkup langit Pesisir Selatan.
Karena hutan dibakar
Berdasarkan siklus cuaca, Juli semestinya menjadi bulan kering. Namun sebaliknya, Sumbar belakangan mengalami curah hujan yang cukup tinggi. Akibatnya, banjir terjadi di beberapa daerah.
Kepala Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sumbar, Budi Imam menyebutkan, hal ini disebabkan dua faktor. Pertama, Sumbar merupakan daerah konvergensi yang mempertemukan dua arah udara. Ini berpotensi membuat kondisi cuaca mudah buruk setiap saat. Kedua, tingginya curah hujan merupakan dampak alamiah kebakaran hutan di beberapa daerah di Sumbar.
“Kebakaran yang terjadi dua minggu terakhir, menyerap partikel uap yang kemudian membentuk awan. Besarnya volume kebakaran, memperbesar curah hujan,” ujar Budi kepada Singgalang, Selasa (12/7).
Dua faktor yang disebutkan Budi, memengaruhi keadaan cuaca menjadi tidak normal. Namun, ketidaknormalan ini sebenarnya bisa dikendalikan. Salah satu caranya, masyarakat harus menghentikan membakar hutan.
“Dengan menghentikan pembakaran hutan, besarnya curah hujan bisa dikendalikan, paling tidak dikurangi,” ujar Budi.
“Di Sumbar, ada banyak lokasi yang rawan banjir dan longsor. Dalam kondisi cuaca tidak normal, lokasi-lokasi rawan tersebut perlu dicermati,” ujar Budi menjelaskan. (arif/430)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar