Featured Video

Kamis, 22 Desember 2011

Sosok Ibu di Tengah Perang Batu


KOMPAS/ARYO WISANGGENI GENTHONG
Di antara dua kelompok remaja yang bersiap baku hantam, Umiyati (50) kerap berdiri sambil membentangkan kedua tangannya. Dihalaunya anak-anak RW 02 Kelurahan Johar Baru.
"Saya berdiri di situ agar tidak ada tawuran. Anak-anak biasanya sungkan karena ada ibu-ibu yang berdiri di tengah mereka," ujar ibu dua anak yang juga istri Dewa Firmansyah (51), Ketua RW 02 Kelurahan Johar Baru, Jakarta Pusat, Rabu (21/12/2011).

Tindakan ini bukan tanpa risiko. Batu dan molotov kerap berseliweran di atas kepala. Namun, semangat untuk menghentikan tawuran mengatasi rasa takutnya.
Dan, di tengah konflik itu, Umi berdiri sendiri, sementara bapak-bapak serta pengurus lingkungan hanya menonton tawuran dari pinggiran. Ada juga orang tua yang justru menyemangati remaja yang berperang.
Umi mengaku, baku lempar antarwarga di daerah itu sudah sedemikian berakar sehingga tawuran dianggap lumrah. Orang-orang sekitar akhirnya merasa tidak berdaya untuk menghentikan tawuran.
Umi yang tinggal di kawasan Johar Baru sejak tahun 1969 merasakan bibit-bibit ketidakpedulian di antara warga dan di keluarga mulai subur saat ini. Pendidikan anak, misalnya, kerap terputus lantaran tidak ada semangat anak dan penyemangat dari keluarga.
Akibatnya, nongkrong hingga pagi menjadi pemandangan biasa di wilayah ini. Warga juga tidak peduli dengan tingkah laku anak muda, termasuk bila mereka melakukan tindak kriminal.
Yang tumbuh subur kemudian adalah solidaritas semu antaranak muda. Sejalan dengan semangat ini, tawuran semakin mudah tersulut. Di tengah kekacauan ini, Umi muncul dengan membawa semangat perubahan. Setelah suaminya terpilih menjadi Ketua RW, 27 Maret 2011, dia semakin getol turun ke anak-anak muda.
Dia menyediakan waktu dan telinga untuk mendengarkan keluh kesah anak-anak. Dia juga yang sering kali mencereweti anak-anak yang kedapatan bolos kursus, main sampai sore, atau nongkrong hingga pagi.
"Orangtua mereka tidak ada yang peduli anaknya mau berbuat apa. Justru saya yang peduli. Anak-anak ini malah cium tangan saya kalau bertemu. Bila ada apa-apa, mereka juga mencari saya," ucap Umi.
Langkah ini memang tidak sepenuhnya mulus. Umi kerap kali dihujat tetangganya karena terlalu rajin mengurusi anak-anak yang bukan anak kandungnya. Mendidik remaja belasan tahun yang sudah terbiasa hidup seenaknya juga bukan perkara mudah. Beberapa kali komitmen untuk tidak tawuran tetap dilanggar juga.
Namun, Umi tidak surut. Dia menganggap anak-anak di RW 02 itu adalah anaknya juga. Karena itu, dia bersemangat untuk melobi agar berbagai pelatihan keterampilan masuk ke Johar Baru. Kini, dia merintis perpustakaan RW. "Sekarang bangunannya yang siap. Saya masih cari sumbangan buku. Siapa tahu anak-anak jadi senang membaca," kata Umi.
Umi bukan sosok ibu biasa. Keberadaan ibu yang peduli dengan lingkungan ini menjadi kebutuhan di tengah lingkungan yang kian individualistis. (Agnes Rita Sulistyawaty)KOMPAS.com 
Sumber :
Kompas Cetak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar