Featured Video

Jumat, 03 Mei 2013

UTANG INDONESIA RP2.400 TRILIUN

Utang luar negeri pemerintah dan swasta Indonesia saat ini mencapai Rp2.400 triliun. Tren peningkatan utang swasta punya risiko pembalikan yang dapat memicu instabilitas ekonomi. Karena itu, Wakil Menkeu Mahendra Siregar menyatakan bahwa pemerintah terus mencermati naiknya utang luar negeri swasta untuk menghindari kemungkinan gagal bayar.



Tingginya utang luar negeri, baik oleh pemerintah maupun swasta, membuat ekonomi Indonesia tahun 2013 bisa ambruk. Posisi utang luar negeri pemerintah dan swasta kini mencapai 251,200 juta dollar Amerika Serikat atau sekitar Rp2.400 triliun. Ini membuat bunga utang dan cicilan yang harus dibayar menjadi sangat besar pula.
Demikian dikatakan Salamuddin Daeng dari Institute for Global Justice. Ironisnya, pada saat yang sama, kata Salamuddin, bunga utang dan cicilan utang pokok yang harus ditanggung oleh pemerintah dan swasta men­capai 169,118 juta dollar AS atau sekitar Rp1.620 trilun lebih.
“Padahal pertambahan PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia antara tahun 2011 - 2012 hanya Rp 819 triliun. Dengan demikian seluruh hasil yang diperoleh dari ekonomi Indonesia yang tercermin dalam PDB telah habis seluruhnya un­tuk memba­yar bunga utang dan ci­cil­an utang pokok. Ini juga berarti bah­wa sepanjang 2012 seluruh yang di­ha­sil­kan oleh bangsa ini telah habis di­­­serahkan pada asing,” kata Sa­­­la­­mud­din di Jakarta, Kamis (2/5).
Salamuddin  mengingatkan pula bahwa angka pembayaran utang swasta dan pemerintah yang sangat besar selama tahun 2012 telah menyebabkan seluruh cadangan devisa Indonesia telah habis secara total. “Cadangan devisa RI yang diklaim BI turun menjadi 104,8 miliar dollar AS, sesungguhnya telah hilang,”  tegasnya.
Menurut dia, penumpukan utang yang dilakukan oleh rezim Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selama berkuasa, bisa tak akan mewariskan apa pun bagi generasi penerus bangsa ini.
Antisipasi Gagal Bayar
Sebelumnya, Wakil Menteri Keuangan Mahendra Siregar  me­nya­takan bahwa pemerintah terus mencermati naiknya utang luar negeri swasta untuk menghindari kemungkinan gagal bayar (default) dan mengingatkan pengusaha untuk mewaspadai pinjaman luar negeri. Tingkat utang terus diperhatikan, baik utang pemerintah maupun korporasi, untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional.
“Kami mencermati bahwa per­kem­bangan tingkat utang yang dilakukan oleh korporasi itu belaka­ngan ini meningkat, antara lain karena memang tingginya pasokan kredit dari luar negeri,” kata Mahendra.
Namun, ujar dia, tren pening­katan utang swasta ini juga punya risiko pembalikan yang dapat memicu instabilitas ekonomi.
Pemerintah harus memantau utang swasta karena peman­faatan­nya dapat menimbulkan berbagai risiko (mismatch) dan melahirkan krisis seperti yang pernah terjadi di AS pada 2008. Pemantauan antara lain dilakukan melalui instrumen pajak. Pemerintah juga sedang mempertimbangkan instru­men lain untuk meningkatkan transparansi pinjaman luar negeri. “Ini sedang kami lihat lebih lanjut, yang pasti transparansi harus meningkat, jadi kalau ada pemin­jaman utang dijelaskan asalnya dan peruntukkannya,” kata Mahendra.
Mahendra mengharapkan de­ngan adanya kendali tersebut maka pengawasan terhadap peningkatan utang luar negeri swasta dapat ditingkatkan dan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga. “Jadi jangan tanpa ada kendali sama sekali sehingga risiko sektor keuangan menjadi terbuka,” ujarnya. Be­r­dasar­kan data Bank Indonesia per Januari 2013, total utang luar negeri swasta baik bank maupun bukan bank telah mencapai 125,05 miliar dollar AS.
Sektor keuangan, jasa peru­sahaan, dan persewaan merupakan kelompok yang paling dominan menarik utang luar negeri dengan nominal 33,45 miliar dollar AS atau 26,8 persen dari total utang. Menyusul, sektor industri pengo­lahan/manufaktur sebesar 25,67 miliar dollar AS serta pertambangan dan penggalian se­besar 21,08 miliar dollar AS.
Dari total utang luar negeri swasta tersebut, sebanyak 36,28 miliar dollar AS merupakan utang jangka pendek yang jatuh tempo kurang dari satu tahun, dan 88,77 miliar dollar AS merupakan utang jangka panjang atau lebih dari satu tahun. 

s

Tidak ada komentar:

Posting Komentar