Featured Video

Senin, 30 September 2013

TIBA-TIBA AIR BAH DATANG MENERJANG-Padang

IVO DAN META SELAMAT DARI MAUT


Sebelum ajal berpantang mati. Pribahasa itu agaknya tepat untuk dua mahasiswa Unand, Ivo Nurdio Putra 24 tahun dan Meta Rama Rita 21 tahun. Keduanya selamat dari terjangan air bah di kawasan Patamuan Batang Kuranji, Batu Busuk, Kelu­rahan Lambung Bukik, Keca­matan Pauh Kota Padang.

Ivo dan Meta batal menye­berangi sungai yang menye­babkan enam temannya ha­nyut, sekitar pukul 18.00 WIB, Sabtu (28/9). Keduanya men­jadi saksi mata bagaimana air bah menerjang keenam rekannya sesama anggota Mapala Unand.
Minggu (29/9), sehari setelah peristiwa nahas tersebut, Ivo dan Meta datang ke Kantor Mapala Unand diantar oleh senior mereka. Dari dua korban yang selamat tersebut, hanya Ivo yang keliha­tannya agak tenang dan lancar bercerita. Sementara Meta tampak pucat dan lesu. Ia lebih banyak diam dan menunduk.
“Kami datang ke Batu Busuk guna menyurvei lokasi untuk Pendidikan Dasar Mapala di beberapa titik. Kami berangkat menuju sungai Patamuan pada pukul 8.00 WIB. Target kami kembali pada pukul 15.00 WIB. Sebelumnya kami sudah menyurvei tempat tersebut, namun kami memastikan lagi agar survei lebih maksimal. Ada 3 tim yang akan mengikuti kegiatan tersebut. Kami berdelapan orang tergabung dalam tim A,” ujar Ivo memulai ceritanya. Ia waktu itu mengenakan kaos oblong berwarna abu-abu dengan lengan berwarna hijau dan celana jeans hitam.
Pada pukul 15.00 WIB, kata Ivo melanjutkan, mereka telah selesai menyurvei tempat. Mereka  beren­cana kembali ke Kantor Mapala Unand. Namun, karena gerimis dan air sungai tampaknya tak bisa dilewati, mereka berhenti di gubuk untuk menunggu air menyusut.
“Pada pukul 18.00 WIB, air tampak surut. Aidil, teman kami, mencoba masuk sungai. Tinggi air waktu itu sepaha. Kami memu­tuskan untuk menyeberangi sungai karena air setinggi itu layak untuk diseberangi. Kami pun mulai menyeberang. Urutan kami waktu itu, Deni, Veglan, Aidil, Elin, Tika, Rezky, dan saya bersama Meta di posisi paling belakang,” kata Ivo.
Selama Ivo bercerita sejauh itu, Meta hanya diam. Ia menunduk saja, barangkali mengenang detik-detik kejadian. Ivo lalu melanjutkan ceritanya. “Enam teman kami telah berada di pertengahan sungai. Jarak mereka ke tebing depan dan tebing belakang masing-masing 4 meter, sebab lebar sungai sekitar 8 meter. Ketika mereka terus menyeberang untuk mencapai tebing, tiba-tiba datang air besar dan deras. Mereka langsung dihantam oleh air bah berwarna kuning yang menyertai material seperti batu, kayu dan sebagainya. Mereka terseret ke bendungan Patamuan. Melihat kejadian itu, saya langsung menarik Meta balik ke tebing belakang sungai. Kami tak bisa menye­lamatkan mereka karena jarak kami dengan mereka jauh, lagipula, air deras,” ungkapnya.
Setelah kejadian itu, Ivo mene­lepon ke Kantor Mapala Unand, untuk memberi tahu bahwa telah terjadi sesuatu yang buruk kepada rekan-rekan mereka. Telepon diteri­ma oleh anggota yang siaga di kantor tersebut. Oleh anggota, Ivo dan Meta diinstruksikan untuk mengamankan diri. Mereka pun pergi ke atas bukit karena air makin tinggi dan hujan kian deras. Mereka mendirikan tenda dan bermalam di sana sembari menunggu tim Mapala Unand menjemput.
“Pagi harinya, ketika kami hendak kembali ke Mapala Unand, sungai masih tak layak diseberangi karena air masih deras dan tinggi. Kami pergi ke Padang Karuah dan menemui kondisi yang serupa. Akhirnya kami kembali ke bukit. Baru pada jam 11.00 WIB kami bisa menyeberang sungai dan keluar dari tempat tersebut,” imbuh Ivo.
Ivo dan Meta sama sekali tak menyangka air bah akan datang, sebab mereka sudah terbiasa melalui tempat tersebut. Selain itu, tempat itu pun dilalui penduduk setempat setiap hari. Rute yang mereka maksud adalah rute berkeli­ling. Mereka masuk dari sungai Padang Karuah dan keluar di sungai Padang Janiah. Tempat kejadian naas itu adalah penyebe­rangan dari Padang Karuah ke Padang Janiah yang berjarak 500 meter.
“Ketika kami berangkat pada pagi hari, cuaca tidaklah buruk. Menurut ramalan, hujan terjadi pada sore atau malam hari. Kami memutuskan kembali pada sore hari. Mengenai medan yang kami lalui, tempat tersebut sudah sangat kami kenali. Tiap personil menguasi medan tersebut dengan baik karena sudah sering kami lalui. Rata-rata anggota sudah 3 sampai 4 tahun di Mapala. Saya sendiri sudah 4 tahun di Mapala dan Meta 3 tahun. Agenda kami ke sana adalah agenda tahunan. Namun, kami perlu me­nyurveinya untuk memastikan bahwa jalur aman,” jelas Ivo.
Selama Ivo bercerita, Meta tak bicara sepatah katapun. Baru setelah wawancara berakhir, ketika Haluan bertanya, apakah mereka trauma, Meta menjawab iya, begitu pun Ivo.Mereka sama sekali belum berencana untuk melakukan perjala­nan lagi dalam waktu dekat, namun, Ivo menurut Ivo, ia akan tetap melakukan kegiatan yang berhubu­ngan dengan alam karena hal tersebut merupakan kesu­kaannya.


s

Tidak ada komentar:

Posting Komentar