Featured Video

Kamis, 22 Januari 2015

RATUSAN KILOGRAM IKAN MENGAPUNG DIDANAU SINGKARAk

Diduga karena kera­cunan belerang, ratusan kilogram ikan di Danau Singkarak mengapung. Akibat fenomena alam yang sudah berlangsung sejak tiga hari bela­kangan  ini, tak hanya membuat ikan- ikan endemik seperti bilis yang ada di danau itu keluar, namu puluhan fauna seperti udang, ular dan rinuak yang ada di danau itu naik ke permukaan.

Dari pantauan , fenomena alam yang pernah terjadi pada tahun 1999 yang lalu ini, praktis  membuat warga yang tinggal di sekitar pinggiran Danau Singkarak turun ke pinggir danau untuk menangkap ikan, udang dan fauna lain yang mengapung ke permukaan danau.
Meski hanya dengan mem­pergunakan berbagai alat pe­nangkap ikan seperti jaring, tangguk  dan jala ikan, ma­syarakat sekitar danau terlihat antusias menangkap ikan yang mengapung namun sebagian masih dalam kondisi hidup.
Menurut Yanti (39) salah seorang warga Singkarak  kepada Haluan Rabu (21/1), menyebutkan  sudah 2 hari masyarakat setempat me­nang­kap undang dan ikan sampai pukul 3 pagi. “Rata-rata ma­sing-masing masyarakat men­dapat 1 ember,” ujar Yanti yang sehari-hari bekerja seba­gai nelayan penangkap ikan di Danau Singkarak.
Pihaknya memperkirakan dalam dua hari ini , sudah sekitar  1 drum minyak tanah atau  lebih kurang ratusan kilo ikan dan udang yang berhasil ditangkap masyarakat se­tem­pat. Kendati pihaknya belum mengetahui pasti penyebab kejadian ini namun Yanti besama warga lainnya hanya memikirkan bagai mana bisa menangkap ikan dan udang sebanyak -banyaknya sebagai rezeki tambahan keluarganya. “Diduga balerang dari gunung api meletus ke dalam. Karena sebelumnya tidak ada gempa. Kejadian ini terakhir tahun 1999,” ungkapnya.
Senada dengan Yanti, Zul Muncak tokoh masyarakat setempat, menyebutkan keja­dian ikan mengapung tanpa sebab dan kondisinya masih hidup namun terlihat teler itu, terjadi beberapa hari bela­kangan ini. Namun kondisi ikan yang terlihat teler itu ketika didekati masih dalam kondisi liar sehingga untuk menangkap ikan yang teler tersebut banyak dilakukan oleh masyarakat menjelang malam hari. “Mung­kin keja­dian ini karena kondisi air danau tiga hari belakangan ini kurang bagus, sehingga banyak ikan yang keluar,” katanya menduga penyebab kejadian ini.
Ikan yang mati massal tersebut banyak terdapat di Nagari Guguak Malalo Ke­camatan Batipuah Selatan, Tanah Datar.
Walinagari Guguak Ma­lalo, Mulyadi, beberapa waktu lalu juga pernah meng­kha­watirkan hal ini. Ia mengatakan berkurangnya populasi ikan bilis di Danau Singkarak me­nim­bulkan keresahan nelayan disekitar daerah tersebut. Hal itu terjadi akibat berbagai hal yang mengganggu habitat ung­gulan Singkarak tersebut. Pen­cemaran lingkungan men­jadi salah satu faktor penyebab utama berkurangnya populasi ikan bilis saat ini, kemudian keramba jala apung yang juga banyak terdapat di Singkarak pun menjadi penyebabnya.
“Terdapat enam sungai besar yang bermuara ke danau Singkarak, sungai-sungai itu mengirimkan sampah-sampah masyarakat sekitar sehingga danau ini menjadi tercemar, pemberian pakan ikan di KJA juga mencemarkan danau, karena pakan ikan yang jum­lahnya berton-ton itu seba­giannya mengendap di dasar danau, dan juga menyebabkan permukaan air mengeruh saat ini,” sebut Mulyadi.
Terkait kondisi itu, Kepala Dinas Peternakan dan Pe­rikanan Kabupaten Solok Ir. Fakhri mengaku telah me­nugaskan Kabid Perikanan untuk melakukan investigasi lapangan ke Danau Singkarak. Pihaknya membenarkan jika ada kejadian yang me­nye­bab­kan ratusan fauna yang ada di danau itu mengapung dan te­ler.” Penyebab pastinya juga belum diketahui, namun  kita bersama dinas kelautan dan perikanan provinsi telah me­nin­jau ke lokasi, nanti akan kita evaluasi lebih lanjut,” ujarnya.
Menyikapi hal itu, pihak­nya telah meminta kepada masyarakat setempat untuk tetap waspada terhadap ke­mung­kinan buruk, karena di sekitar area pinggir Danau Singkarak juga banyak ter­dapat keramba apung milik warga.” Kalau memang sudah patut dipanen, kita minta sege­ra dipanen agar masyarakat tidak rugi,” katanya menjawab Haluan via selulernya.
Sementara itu ketua DP­RD Kab. Solok Hardinalis SE,MM mengatakan, meski akibat kejadian ini men­da­tang­kan rezeki bagi warga setem­pat, namun pihaknya berharap agar warga tetap waspada ter­hadap ke­mung­kinan adanya virus penyakit yang mem­bahayakan bagi ma­sya­rakat.” kehati-hatian itu penting, kare­na kita belum tahu apakah ikan ini juga aman dikonsumsi,” katanya .