Featured Video

Jumat, 13 Februari 2015

Selamatkan Danau Singkarak

Pemilik Keramba di Singkarak (maksudnya Danau Singkarak) Rugi Miliaran Rupiah: Puluhan Ton Ikan Mati. Itulah headline Singgalang edisi kemarin. Pihak Dinas Perikanan Kabupaten Solok bakal melakukan evaluasi dari rangkaian musibah yang terjadi. Ada apa dengan Danau Singkarak? Kenapa ikan bilih yang satu-satunya di dunia ada di Danau Singkarak tidak mati?

Sebagai putra asli Kabupaten Solok, sangat prihatin terhadap kejadian ini. Yang mati adalah ikan yang dibudidayakan dengan keramba jaring apung. Ada apa dengan ikan keramba jaring apung? Siapa yang merekomendasikan budidaya semacam ini? Apakah sudah ada izinnya? Jika sudah ada, apakah sudah ada kajian kelayakan lingkungan terhadap budidaya ikan keramba jaring apung di Danau Singkarak? Apakah sudah ada kajian daya dukung danau? Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus dijawab semua pihak termasuk organisasi BPKDS yang ada. Danau Singkarak harus diselamatkan.
Banyak komentar tentang penyebab kematian ikan di danau. Ada yang menyatakan akibat adanya belerang yang berasal dari dasar danau naik melalui peristiwa upwelling, ada yang menyatakan karena air danau sudah tercemar atau akibat adanya kiriman sampah dan lain-lain sebagainya. Pendapat tersebut ada benarnya tetapi sesungguhnya kematian ikan di danau diakibatkan ulah manusia (baca kita) termasuk para pemilik/pengusaha atau peternak keramba ikan.
Kematian ikan sesungguhnya diakibatkan proses destratifikasi yang terjadi dalam air danau. Proses destratifikasi diakibatkan adanya proses stratifikasi suhu yang terjadi secara alamiah dalam air di danau terutama pada musim panas. Peristiwa ini menjadikan air mempunyai 3 strata akibat perbedaan suhu pada kedalaman.
Strata pertama merupakan lapisan teratas yang disebut epilimnion dimana pencampuran air terjadi terus menerus akibat pengaruh adanya angin, pengaruh hujan dan lainnya. Lapisan ini banyak menerima sinar matahari yang diperlukan untuk proses fotosintesis sehingga kaya dengan oksigen dan profil suhu seragam sesuai kedalaman. Ikan-ikan akuatik akan hidup leluasa termasuk ikan keramba jaring apung yang ditempatkan pada strata ini.
Strata kedua merupakan lapisan pemisah (barrier) yang menghalangi terjadinya pencampuran antara strata atas dan strata bawah yang disebut termochlin. Pada strata ini gradient suhu akan berkurang tajam menurut kedalaman. Strata paling bawah disebut hipolimnion yang mempunyai suhu lebih dingin dan oksigen terlarut (DO) yang sangat rendah bahkan menjadi anaerobic (tanpa oksigen) sehingga air ini menjadi toxic (racun) bagi ikan-ikan dan kehidupan akuatik lain. Karena banyak mengandung asam belerang (H2S), fospat, nitrogen, logam ferum dan mangan sehingga air menjadi reaktif dan berwarna kuning dan kecoklatan.
Kondisi anaerobic diperparah oleh pola pemakaian bahan makanan ikan (pellet) yang terbuat dari nutrient oleh peternak ikan keramba. Pola, persepsi, dan kebiasaan peternak ikan keramba memberikan pellet yang berlebihan dan tidak beraturan karena menganggap ikan-ikan akan banyak makan dan akan mempercepat pertumbuhan yang pada akhirnya diharapkan mempunyai nilai jual yang tinggi. Ternyata sikap dan pikiran tersebut keliru, karena kemampuan ikan-ikan untuk memakan pellet itu terbatas dan tidak semua pellet akan langsung dimakan ikan sehingga bersisa. Sebagian sisa makanan tersebut akan tenggelam dan dibawa arus air serta menyebar ke bahagian lain di luar keramba hingga akhirnya tenggelam ke dasar danau.
Sisa makanan ini akhirnya menjadi endapan, penyebab air danau menjadi eutrofik. Eutrofik adalah proses pengayaan nutrient yang dimulai sedikit demi sedikit sehingga danau menjadi produktif. Akibatnya kejernihan air menjadi berkurang dan mulai berwarna hijau dan lama kelamaan akan menjadi hitam dan berbau busuk. Bila ini terjadi, maka air danau sangat berbahaya bagi kehidupan.
Kondisi stratifikasi yang digambarkan demikian akan berubah apabila terjadi destratifikasi. Destratifikasi merupakan proses pembalikan atau pencampuran air antara strata bawah yang anaerobic dan toksik dan strata atas yang kaya oksigen. Proses pencampuran dapat terjadi oleh proses alam dan proses oleh manusia. Proses alam sering terjadi pada saat perubahan musim dari musim panas ke musim hujan atau sebaliknya. Bahkan dengan kondisi cuaca ekstrem (pengaruh global warming) akan mempercepat proses destratifikasi.
Perubahan tersebut biasanya didahului angin yang bertiup kencang sehingga dapat mencampurkan isi danau. Bila terjadi pencampuran sempurna dalam danau, strata air bawah yang toksik akan naik dan strata atas akan turun secara terus menerus. Pada situasi dan kondisi ini tidak menimbulkan masalah dengan ikan-ikan dan makhluk akuatik lainnya.
Namun, percampuran sempurna tidak selalu terjadi sehingga air yang beracun dari bawah naik ke atas dan tertahan sehingga menyebabkan ikan-ikan menjadi mabuk dan stress apalagi ikan-ikan dalam jaring apung terbelenggu dalam keramba dan tidak dapat menyesuaikan diri, akhirnya menjadi mati. Inilah, sesungguhnya penyebab kematian ikan-ikan dalam danau. Kematian ikan akan sering terjadi apabila kondisi danau eutrofik dan akibat pencemaran lain yang tinggi.
Apakah pencemaran air Danau Singkarak tinggi? Salah satu sumber pencemaran danau adalah budi daya ikan keramba jaring apung dengan pola pemberian makanan ikan yang tidak beraturan. Jadi, apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan Danau Singkarak?
Bagi semua pihak yang berada di salingka Danau Singkarak harus paham apa yang berubah di Danau Singkarak. Tanyakan juga kepada BKPDS, apakah sebelum adanya budidaya keramba jaring apung pernah terjadi kematian ikan? Kalau ada, kapan? Apakah SKPD terkait pernah melakukan monitoring kualitas air Danau Singkarak sebelum dan sesudah adanya budidaya keramba jaring apung? Apakah kajian lingkungan hidup strategis (KLHS) tentang pengelolaan Danau Singkarak sudah dilakukan? Jika sudah, mari kita lihat dan cermati dokumen tersebut. Jika belum, mari kita lakukan KLHS pengelolaan Danau Singkarak segeranya sehingga kita tidak saling menyalahkan. Selamatkan Danau Singkarak segera sehingga tidak menjadi Danau Maninjau kedua. (*)s