Featured Video

Rabu, 06 Juli 2011

GARA-GARA GALA, GALA GARAH-GARAH


Permisi. Saya mau bicara agak “berbeda”. Pikir pikir, kalau akan menimbulkan kalebuik pula soal “gala”, biarlah tak “bergala” ba­gai sedikitpun. Saya rasa tak apa-apa. Orang Ing­gris bilang, apalah arti sebuah nama. Kecek awak, apolah gala? Ndak bagala benar awak, yang bagus itu kan tetap bagus juga. Percayalah. Yang dihormati itu akan berkibar juga. Banyak orang tak bagala apa-apa, tapi menakur orang ke dia. Sebaliknya, banyak pula orang yang bagala santing-santing, bahkan tegak bulu kuduk mengucapkannya, tapi karena takmanggadangkan aie, ditekek-tekek orang saja keningnya, dijewer orang kupingnya.

Gala atau gelar pada hakekatnya adalah penghormatan. Hal nisbi. Kadang kala hanya mengambang, seperti mimpi atau baying-bayang. Tidak ada sangkut pautnya dengan keimanan.
Kecuali, gelar syech, haji, maula­na, kiyai dan gelar-gelar bersandar keagamaan lainnya. Itu memang ndak patut diserak-serakkan. Kemu­dian, di dunia sains, gelar kesarjanaan, seperti Doktor  Honoris Causa, Profesor atau Master memang tidak murah diberikan.
Di dunia adat istiadat, gala atau gelar itu ada pula tingkat-tingka­tannya. Kalau ndak salah, ada gala pusako, sako, sangsako. Ada me­mang, gelar yang jadi “tuah”, kehormatan, dan status atas dasar jenjang hirarkhi atau keturunan. Namun ada juga yang khusus untuk “dihadiah-hadiahkan”. Untuk menghormati, karena begitu hormatnya, tak ada lagi yang setara akan dipersembahkan, diberilah gelar yang hebat- hebat bunyinya. Ganjil-ganjil artinya. Dalam sejarah, raja-raja Minangkabau di tahun 1600-an, pernah memberi gelar kehorma­tan pada petinggi Portugis, tidak Islam agama orang Portugis itu?
Akan hal pemberian gelar oleh sekelompok kaum (8 suku) kepada seo­rang tokoh masyarakat (Ferri­yanto Gani) yang kebetulan bukan orang Minang asli dan nonmuslim. Oleh (alm) Wisran Hadi, dibuat bertendensi kritik di rubrik ini, kebetulan pas dimuat pada hari beliau wafat, Selasa (28/7). Panghulu Padang Manjagokan Ula Lalokjudulnya. Nyatanya, memang ada “ula” yang “jago”, kemudian menjalar ke hal-hal musykil,  yang hampir-hampir menyentuh si Sara…yang entah gadis, entah randa.
Tak ada alasan kita salah me­ny­alah­kan. Yang memberi (8 suku) ketika ditanyakan, mereka tidak menyesal sedikitpun. Memang sengaja dan telah direncanakan masak- masak. Bahkan, kabarnya sejak 5 tahun yang lalu mereka telah menghubungi Ferryanto Gani, orang yang mereka nilai patut karena banyak berjasa.
“Ula” mereka ada pula berjaga-jaga. Maksudnya, menjaga patuik jo alua yang mereka pelihara.  Mereka merasa bukanlah orang-orang yang “patut di alua” oleh siapapun”. Adaik salingka nagari. Kami berhak pula menghargai orang yang paut kami hargai,” begitu Pak Ong, tokoh 8 suku berucap.
Nah. Mau apa kita? Dia punya muncung pula. Akan tetapi, saya tidaklah berselera benar mengkaji soal gala-gala, yang pada hakekatnya bernilai “semu” itu. Cobalah, orang sedang membicarakan hal-hal pen­ting dan besar. Menurut hemat saya, meributkan soal gala, menjadi hal yang kontra produktif. Soal negara yang terancam ambruk. Soal Century, KPK, Nazaruddin, Nunun, Partai Demokrat dan kabar pilu, tentang orang Indonesia yang dipancung. Itu dibahas orang. Awak? Awak tertung­kut tertilantang mengaji gala-gala. Entah apa-apa saja. Saya saja lupa gala saya. Apa-apa yang ada di langit itu? Matoari, bulan, bintang? Itu gala saya mah, ambillah.
Kepada dunsanak-dunsanak yang sempit dada, sampai sakit pula perutnya, sudahlah, berteduhlah lagi ke dangau persaudaraan yang damai. Jangan ajan-ajan pula tuah  untuk hal-hal yang tidak begitu urgen. Kalau tidak akan mengakui gelar orang, jangan saja sebut galanya. Galak-galak saja kita. Mau Rajo Bintang dia, mau Rajo Rimbo, Rajo Intan, Rajo Singo, Rajo Mulia Nan Indak Talok dek Basi…terserah. Yang kami, biarlah rakyaik badarai saja. Si Buyuang Ketek saja. Dari pada kelibut, ndak bergala bagai pun, ndak anti…