Featured Video

Jumat, 26 Agustus 2011

Ramadhan dan Pemimpin Furqon


RIZA FALEPI

HIDUP kita bisa diibaratkan sebagai suatu perjalanan menuju kampung akhirat. Kelak kita akan menemukan surga atau neraka sebagai destinasi terakhir.
Sebagai muslim, tentu kita berharap bisa masuk ke dalam surga, berkumpul dengan para tabiin dan salafush sholeh, meskipun sebagian kita saat ini masih bergelimang dalam dosa. Dalam perjalanan hidup ini begitu banyak ujian dan cobaan yang kita temui, kadang menimbulkan kesedihan namun di lain waktu kita menemukan kegembiraan. 
Semua itu kita lalui silih berganti sebagai bagian dari sunnatullah suatu perjalanan hidup. Persoalannya kembali kepada kita apakah kita dapat menjalani setiap cobaan dengan baik ataukah kita larut di dalamnya sehingga terlena bahkan lupa tujuan utama perjalanan kita menuju kampung akhirat.
Bulan Ramadhan yang datang setiap tahun berfungsi sebagai pengingat sekaligus pembeda mana jalan yang menuju kampung akhirat (surga) dan mana yang sebaliknya hanya menjadi keindahan fana duniawi tanpa berujung kebaikan untuk bekal kita di akhirat kelak. Jika kita kembali kepada firman Allah dalam QS. Al-Baqarah:183, yang berbunyi “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.
Maka jelas dari kewajiban berpuasa tersebut kita diharapkan menjadi insan yang bertakwa. Dengan kata lain, salah satu sarana dan instrumen untuk mencapai ketakwaan adalah melalui puasa. Relevansinya, ketakwaan seseorang akan berbuah kemampuan membedakan yang haq dan yang batil (furqon), untuk mencapai kampung akhirat dengan selamat. Hal ini merupakan sebuah kepastian sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah SWT dalam QS. Al-Anfal:29 yang artinya: “Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu furqaan. Dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa) mu”
Korelasi ini semakin terasa di saat bulan Ramadhan karena referensi furqon itu sendiri dalam Alquran juga diturunkan pada bulan Ramadhan (lihat QS.Al-Baqarah:185). Maka lengkaplah sudah bulan Ramadhan dinamai juga sebagai bulan furqon.
Pembahasan ini terkesan sangat sederhana dari sisi konsep. Namun dalam implementasi kehidupan sehari-hari, hal ini terasa sekali sebagai penuntun. Artinya, semakin takwa kita semakin kita diberi kejernihan hati dan perasaan untuk melihat benar atau salahnya suatu permasalahan. Hal ini biasanya juga diiringi oleh kesertaan Allah (ma’iyatullah) dalam setiap langkah kita sehingga dalam kondisi sesulit apa pun insya Allah kita bisa memilih atau memutuskan dengan sebaik-baiknya.
Oleh karena itulah, dalam konsep kepemimpinan dalam Islam, dalam pemberian amanah kepada seorang muslim untuk mengemban kepentingan umat, maka kriteria takwa selalu menjadi referensi utama. Dalam menjalankan amanahnya, pasti seorang pemimpin akan sering dihadapkan pada berbagai permasalahan, dan seringkali harus mengambil keputusan dalam keadaan yang sangat pelik. Hanya kesertaan Allah lah dengan bermodal ketakwaan yang akan menuntun setiap langkahnya. Allah akan menuntun hatinya sehingga ia mampu membedakan secara proporsional dan tepat keputusan apa yang hendak diambil.
Apabila kita lihat hari ini begitu banyak pemimpin diangkat karena dia memiliki pengaruh, kekuasaan, ketenaran, uang, maupun kepintaran, tapi sering kita lupa untuk memilih pemimpin karena ketakwaannya.
Akhirnya, keputusan-keputusan yang dibuat, seperti yang sudah sama-sama kita saksikan, banyak yang bertentangan dengan hati nurani dan rasa keadilan di masyarakat.
Betapa banyak pemimpin yang kadang membuat kita muak melihat tingkah lakunya. Bisa jadi ketika ia berangkat maju untuk memimpin lebih mengemukan ambisi berkuasa daripada melihat kekuasaan sebagai amanah.
Hal ini wajar saja manakala ia jauh dari sifat takwa apalagi mendapat furqon dan kesertaan Allah. Kita juga pada saat memilihnya lupa mempertimbangkan kadar ketakwaan sang calon pemimpin, lebih terpesona dengan berbagai faktor lain yang bersifat semu. Bahkan kadang pilihan kita bisa ditukar dengan harga sebungkus nasi. Jadi rasa muak itu juga sebenarnya karena kesalahan kita dalam memilih pemimpin.
Mudah-mudahan dalam puasa kali ini bisa melatih kita membangun perasaan yang mampu berpikir jernih sehingga pada akhirnya mampu mewariskan kebaikan pada anak cucu kita. Lebih jauh, akumulasi kebaikan ini diharapkan ke depan akan memberi landasan kebangkitan umat pada masa yang akan datang. Wallahu alam bishowab. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar