Featured Video

Jumat, 05 Agustus 2011

Ratusan Hektare Kebun Terancam Gagal Panen-Merapi


PASCALETUSAN GUNUNG MARAPI
Letusan Gunung Marapi yang menyemprotkan debu vulkanik, pada Rabu (3/8) lalu, mengakibatkan ratusan hektare tanaman sayur di Kecamatan X Koto Tanah Datar dan Agam terancam gagal panen. Sementara sebagian masyarakat, menyambut gembira adanya semburan abu gunung itu.

PADANG PANJANG, HALUAN — Dari amatan Haluan, nagari-nagari di Kecamatan X Koto yang cukup parah terkena siraman abu vulkanik Gunung Marapi antara lain Koto Baru, Pandai Sikek, Singgalang, Aie Angek, Koto Laweh dan Panyalaian.
Sementara itu, warga Nagari Batu Palano, Sungai Pua Kabupaten Agam malah sebaliknya, menyambut baik meletusnya Gunung Marapi yang menge­luarkan abu vulkanik karena abu vulkanik itu dapat menyuburkan tanah pertanian.
Sebagain masyarakat mengaku, meletusnya Gunung Marapi hal yang biasa bagi, malahan diharapkan setiap tahun gunung itu meletus untuk kesuburan tanah.
“Gunung ini sudah lama tak meletus mengeluarkan vulkanik, maka banyak tanaman masyarakat yang tidak subur lagi. Syukurlah gunung meletus kemarin. Mudahan-mudahan abunya menyuburkan tanah kami untuk pertanian,”  kata Imul, warga Batu Palano kepada Haluan Kamis (4/8).
“Warga kami aman-aman saja dan tidak ada merasa apa-apa seperti yang dihebohkan media bahwa gunung merapi dalam status waspada level dua,” tambahnya.
Menurut Imul, setiap kali Gu­nung Marapi meletus, warganya yang biasa berladang lobak dan kol atau mencari belerang ke puncak gunung berhenti tanpa disuruh. Karena memang sudah menjadi kebiasaan masyarakat berhenti beraktivitas di sekitar puncak kawah gunung setiap usai gunung meletus.
Sejak meletusnya gunung merapi  kemarin, hujan deras terus mengguyur Bukittinggi, Agam dan Pasaman.
Andi Asmadi, Wali Nagari Koto Baru, Kecamatan X Koto, kepada Haluan Kamis mengatakan, letusan Gunung Marapi seperti ini, sebelum­nya juga terjadi sekitar tahun 2006 silam. Selain merusak tanaman sayur segar petani, ruas-ruas jalan tampak memutih serta munculnya bau belerang yang cukup menyengat serta menyesakkan napas.
Abu vulkanik bercampur debu belerang hinggap di daun sayur sayur seperti kol, broccoli, sawi, sayur manis, tomat dan sayur-sayur segar lainnya. Setelah tersiram hujan yang turun menjelang Magrib Rabu sorenya abu tersebut menyelinap di pelepah daun sayur. Sehingga akan menyebabkan kerusakan daun sayur sayuran tersebut. Daunnya menjadi kuning dan akhirnya akan mati. Kecuali sayur sayuran berupa umbi umbian, abu vulkanik justru akan  menyebabkan  kesuburan tanaman
Syaiful, petani lobak bunga di Koto Baru yang ditemui Haluan di Koto Baru Kamis siang mengaku khawatir panen sekitar 9.000 batang  kol bunganya yang siap panen. Lahan sekitar ¼ hektare yang ditamaninya kol bunga, terlihat memutih akibat abu vulkanik yang menyiram tana­man sayurnya.
“Saya kahwatir jika hujan tidak turun lagi dalam waktu dekat ini, maka dipastikan panen lobak bunga saya akan gagal. Hal ini sekaligus akan mengakibatkan gagal pula pengembalian KUR yang diman­faatklan sebagai modal usaha perta­nian ini,” sebut Syaiful yang juga Wali Jorong Panta di Kantor Wali Nagari Koto Baru.
Andi Asmadi yang ditanya terkait dampak abu vulkanik Marapi ini mengatakan, setiap kali terjadi hujan abu belerang  tetap saja membawa pengaruh terhadap hasil panen petani di Koto Baru yang umumnya adalah petani sayur sayuran.
Di Nagari Koto baru terdapat sekitar 500 hektare lahan sayur yang dikelola oleh 9 kelompok tani. Sekitar 70 persen  petani tersebut memakai dana pinjaman modal  KUR (kredir usaha rakyat) yang disalurkan Bank Nagari Padang Panjang.
“Menjelang Lebaran setiap tahun  biasanya petani memburukan agar mereka bisa panen untuk memenuhi kebutunan pasokan sayur mengha­dapi Lebaran. Namun akibat turun­nya debu vulkanik, kata Andi, dikha­watirkan panen petani akan berkurang sekaligus akan menyebabkan sulitnya mengembalikan pinjaman mereka. Namun demikian kita belum mela­kukan pendataan secara pasti terkait kerusakan yang muncul akibat letusan Gunung Marapi ini,”  ujar Andy Asmadi menjelaskan.
Aktivitas Gunung Marapi  sam­pai Kamis kemarin terus menurun, namun sejak pagi hingga sore ditutup kabut dan wilayah sekitarnya diguyur hujan, kendati statusnya masih waspada.
Sementara sekitar pukul 09.00 masyarakat di wilayah Agam mera­sakan adanya gempa, namun hal itu dianggap biasa, hanya disebut sebagai pertanda akan datang musim hujan setelah sekitar sebulan lalu dilanda musim panas, dengan kondisi demi­kian masyarakat  tetap melakukan akti­vitas seperti hari-hari sebe­lumnya.
Di kecamatan Canduang, Agam, tempat yang paling dekat ke kawah Gunung Marapi dengan jarak sekitar 3 km adalah Jorong Batang Sulasiah dan Gobah Nagari Bukik Batabuah, sementara di kecamatan Sungai Pua nagari Limo Suku, namun tidak ada warga di daerah itu yang merasa khawatir dan perlu dievakuasi.
Jumlah penduduk di kedua jorong itu sekitar 5 ribu jiwa dengan mata pencarian rata-rata berkebun sayur.
Menurut Camat Canduang Mo­nis­­far, di satu sisi abu vulkanik sangat me­nguntungkan petani karena akan me­nyuburkan tanah, tetapi disisi lain, abu yang mengandung belerang itu me­ngotori daun sayuran sehingga ti­dak dapat dimakan dan dijual ke pasar.
“Kalaupun dicuci tetapi kita khawatir juga, siapa tahu nanti menimbulkan penyakit, sekarang itulah yang kami khawatirkan ,kalau abu gunung terus menimpa sayur ada alamat kami tidak dapat berle­baran karena kami memperoleh uang dari hasil penjualan sayur,” kata Bujang, salah seorang petani di Gobah.
Juga dikatakan petani itu sebe­narnya Gunung Marapi memang sering mengeluarkan abu, tetapi yang terjadi Rabu lalu agak berlebihan, hingga banyak warga yang khawatir. (h/0ne/son/ks/jon)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar