Featured Video

Sabtu, 02 Juni 2012

“KALO MAMINTAK-MINTAK, PAILAH KA JANJANG AMPEK PULUAH“

JANJANG 40



Janjang Ampek Puluah di Bukittinggi, meng­hubungkan Pasar Atas dengan Pasar Bawah. Terinspirasi dengan janjang ini, seniman Syahrul Tarun Yusuf membikin lagu berjudul Oi Andam Oii, yang syairnya berbunyi: Bukiktinggi koto rang Agam yo andam oi. Mandaki janjang ampek puluah.
Babelok jalan ka Malalak Sakik sagadang bijo bayam yo andam oi. Sakik bak raso ka mambunuah, Diubek indak namuah cegak.

Dulu janjang ini ramai oleh pejalan kaki dan di janjang banyak kegiatan ekonomi seperti penggalas batu cincin, termasuk para peminta sedekah. Namun kini janjang itu semakin sepi, karena orang dari Pasar Bawah ke  Pasar Atas banyak yang menggunakan kendaraan. Mereka tidak mau lagi capek-capek mandaki janjang yang terjal itu.
Jenjang ini dibangun pada tahun 1908. Pada awalnya merupakan sarana penghubung antara Pasar Atas dengan Pasar Bawah. Sejak didirikan hingga tahun tahun 90–an, jenjang ini selain ramai oleh para pedagang kaki lima (PKL) dan pejalan kaki dari Pasar Atas  ke Pasar Bawah dan sebaliknya, keberadaan Janjang Ampek Puluah juga diramaikan oleh gelandangan dan pengemis (gepeng). Entah dari mana datangnya.
Yang menarik, saking ramainya orang-orang berlalu lintas, Janjang Ampek Puluah ini juga menjadi lahan bagi pengemis untuk meraih rezeki dari para dermawan. Sehingga sepanjang tahun itu muncul istilah bagi orang yang suka mengemis kepada teman atau tetangga, “Kalau ka mamintak-mintak manga di siko. Pailah ka Janjang Ampek Puluah.”
Seiring perkembangan zaman, pembangunan dan renovasi digalak­kan. Termasuk renovasi Janjang Ampek Puluah untuk mendukung keberadaan Kota Bukittinggi seba­gai kota wisata. Para PKL tidak diizin­kan lagi berdagang sehingga pengemis yang biasanya mampu meraup rezeki banyak setiap hari, satu-persatu mulai meninggalkan tempat itu.
Akhirnya, kini istilah “Kalau ka mamintak-mintak manga di siko, pailah ka Janjang Ampek Puluah,”  mulai hilang pula.
Kebijakan pemerintah kota ini banyak mendapat dukungan dan pujian dari warga karena berdam­pak suasana Janjang Ampek Puluah sebagai objek wisata menjadi lebih indah dan bersih. Sebaliknya ada juga yang memaki, terutama bagi orang –orang kehilangan rezeki, seperti para pedagang kaki lima dan juga para pengemis.
Seiring perjalanan waktu, de­ngan berdirinya Banto Trade Centre (BTC), sudah pasti tidak akan ada lagi mobil pariwisata yang parkir di tempat itu, karena memang lahan parkirnya tidak tersedia. Akibatnya, pengunjung yang datang ke Kota Bukittinggi tidak akan menempuh lagi Janjang Ampek Puluah.
Tapi dibalik itu, Pemko Bukit­tinggi juga harus menyediakan lahan parkir di sekitar pasar Banto. Dengan demikian, sudah pasti para pengunjung akan menempuh Jan­jang Ampek Puluah  untuk menuju ke Pasar Atas. Kondisi yang ada sekarang, Janjang Ampek Puluah  hanya ramai ketika masa libur Lebaran saja.
Selain itu, penyebab lengangnya Janjang Ampek Puluah, juga akibat membanjirnya kendaraan roda dua dan empat. Pengunjung maupun warga setempat akhirnya lebih memilih untuk naik kendaraan ketimbang jalan kaki lewat Janjang Ampek Puluah.
“Buek apo penek-penek mandaki Janjang Ampek Puluah. Salain urang ndak ado manggaleh lai di situ, kendaraan alah banyak pulo,” ujar sejumlah warga dan pengun­jung Kota Bukittinggi setiap kali ditanya. (Laporan Ridwan)



www.harianhaluan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar