Featured Video

Rabu, 05 September 2012

Berebut Air, Picu Bentrok Berdarah

Kronologis Kejadian



Hanya ga­ra-gara berebut air untuk kantong ikan keramba (jala apung) di Linggai, Nagari II Koto Malintang, Kecamatan Tanjungraya, dua kelompok petani dari dua nagari bertetangga di pinggir Danau Maninjau, yaitu Linggai dan Bayua terlibat perkelahian. Dua petani luka-luka akibat pengeroyokan yang dilakukan petani ikan keramba dari Linggai, Senin (3/9) pukul 21.00 WIB.


Suasana mencekam terjadi di lokasi perkelahian dua nagari itu. Dua petani Bayua yang terluka Syafril A, 34, dan Budi Prabowo, 30. Syafril me­nga­lami luka robek dan Budi Pra­bowo mengalami luka serius pada bagian kepala karena dihantam balok. Ia dirujuk ke RS Yarsi Bukittinggi dan mendapat 26 jahitan.

Informasi warga setempat, pe­nge­royokan dan perkelahian an­tar­warga itu terjadi hingga pukul 04.00. Ketika diketahui ada dua warga Bayua ter­luka, sempat terjadi cakak ban­yak­ dan penyerangan. Untung jajaran Polsek Tanjungraya dan Polres Agam ce­pat melerai tawuran tersebut de­ng­an melepaskan tembakan pe­ringatan ke udara.

Hingga Selasa siang, tujuh warga diamankan di Mapolres Agam untuk menjalani pemeriksaan. Namun, tersangka utama dalam pengeroyokan tersebut belum ditentukan.

Di antara warga yang di­periksa yakni, RM, 22, TC, 27, dan JS, 27. “Senin malam, aparat sudah turun ke lokasi pe­nge­royokan. Kedua belah pihak su­dah berhasil diredam emo­sinya,” kata Kapolres Agam AKBP Noor­tjahyo didampingi Ka­polsek Tanjungraya, AKP Dedy Novra, kemarin.

“Kondisi sekarang sudah kondusif. Kedua warga nagari ini diminta menahan diri. Ini hanya kesalahpahaman saja,” tambah Kasat Reskrim Polres Agam, AKP Alber Zai.

Korban Membaik

Budi yang ditemui di RS Yarsi Bukittinggi terlihat sudah sadar. Dia tegar, walaupun ke­pala dibalut perban. Dia men­ce­ritakan, saat itu dia bersama lima petani lain mengisi plastik de­ngan air bercampur oksigen untuk membawa ikan hasil keramba di Linggai.

Karena hujan deras, dia bersama lima temannya ber­teduh dan meninggalkan semua peralatannya. Sambil berteduh, Budi se­da­ng meramu obat campuran air ke dalam plastik. Ti­ba-tiba da­ta­ng sekitar sem­bi­lan warga Ling­gai menendang peralatan yang dibawa Budi dan kawan-kawannya.

Tidak terima dengan perla­ku­an itu, kedua kelompok petani ini langsung baku hantam. Awal­nya masih menggunakan tangan kosong. Kemudian, salah seo­rang warga Linggai me­lem­parkan batu ke kepala Budi.

“Setelah itu Kepala saya langsung dihantam balok dari samping kiri. Karena darah bercucuran, saya melarikan diri ke Puskesmas Akaik sekitar 250 meter dari lokasi,” kata Budi. Budi mendapat 10 jahitan dalam dan 16 jahitan luar di kepala. 



sumber



Tidak ada komentar:

Posting Komentar