Featured Video

Jumat, 05 Juli 2013

POHON ANDALAS, RIWAYATMU KINI



Barang kali, semua orang pernah mendengar kata ‘Andalas’ sebagai salah satu nama Universitas di Sumatera Barat. Dahulu  Pulau Sumatera juga bernama Pulau Andalas karena banyak ditemukan pohon andalas. Pohonnya dengan nama latin (Morus macraura, Mic) itu berciri fisik tinggi kokoh menjulang ke langit, seratnya bersilang-silang, menandakan kuat tak disukai rayap.

Karena kekuatannya, dan keawetan pohon tersebut, Andalas terus diburu, dan saat ini sulit ditemukan. Pada tahun 50an masyarakat di sekitar lereng Gunung Marapi memanfaatkan pohon itu untuk tiang-tiang masjid, dan rumah gadang.
Konon pohon itu, bisa awet hingga beratus tahun lamanya. Tak hanya itu pohon tersebut jika dipotong menggunakan mesin sinsaw, maka mata pisau sinwaw tersebut akan cepat tumpul.
Penyebaran pohon Andalas atau ketelap bagi masyarakat Jambi itu, berada di India, Cina Selatan, Kamboja, Thailand, dan Indonesia hanya ada di Sumatera serta Jawa Barat.
Pohon yang juga menjadi flora identitas bagi Provinsi Sumatera Barat itu menyimpan banyak cerita, mulai dari pemberian nama Pulau Sumatera, legenda tongkat Datuak Parpatiah Nan Sabatang, sampai kegunaannya sebagai obat kanker.
Menurut Kurator Herbarium Universitas Andalas, Dr. Nurainas, sekarang pohon ini sudah langka. “Jumlah pohon andalas yang tersisa saat ini tidak diketahui berapa. Namun, beberapa orang yang mencari pohon ini untuk penelitian, mengalami kesulitan,” ungkap Nurainas saat ditemui Haluan di Labor Sumber Hayati Sumatera (Unand), Selasa (2/7).
Pohon andalas diketahui besar sekali. Dr. Nuraianas pernah melihat pohon tersebut di Nagari Andaleh Baruah Bukit, Kecamatan Su­ngayang, Kabupaten Tanah Datar. “Butuh 9 orang dewasa mem­bentangkan tangan untuk bisa memeluk pohon tersebut. Demikian kira-kira besarnya.”
Dia menambahkan, masyarakat sekitar menceritakan bahwa pohon andalas yang besar tersebut berasal dari tongkat Datuak Parpatih nan Sabatang. Cerita itu bermula ketika Datuak yang merupakan tokoh penyusun adat bagi masyarakat Minangkabu itu berjalan melewati bukit sekitar Andaleh Baruah Bukit, lalu di berhenti dan menancapkan tongkatnya ketanah, dan tongkat itu pun berubah menjadi pohon andalas.
Mengenai daerah berkemba­ngnya Andalas diketahui hidup di ketinggian antara 900 sampai 2.500 meter dpl. Pohon ini berakar tunggang yang banyak menyerap air. Andalas juga memiliki keuni­kan dimana satu pohon memiliki satu jenis atau ada pohon jantan dan ada pohon betinanya.
Banyak faktor yang menye­babkan langkanya populasi pohon ini. Menurut Nurainas yang terus meneliti pohon tersebut menje­laskan, pohon  andalas termasuk tumbuhan yang sulit berkembang biak, sebab dalam satu pohon hanya ada satu jenis kelamin. Kalau tidak jantan, betina saja. Biasanya dalam satu pohon ada dua jenis kelamin, serbuk sari dan bunga.
Faktor lain yang menyebabkan kelangkaan pohon andalas, kata Nurainas adalah, penggunaan Pohon Andalas sebagai kayu pokok pem­ban­gunan mesjid dan rumah adat bagi masyarakat Minang­kabau zaman dahulu. “Karena kayunya tidak dimakan rayap dan tahan terhadap hujan maupun panas, maka masyarakat Minangkabau dulunya mengambil pohon andalas untuk membangun mesjid dan rumah adat. Namun, eksploitasi tersebut tidak dibarengi dengan regenerasi, sehingga sekarang sulit dijumpai Pohon Andalas yang berukuran besar.”
Dijadikan Nama Pulau Sumatera
Nama lain Pulau Sumatera adalah Andalas. Nama ini diambil dari nama sebuah pohon yang dulunya banyak tumbuh di Pulau Sumatera, khususnya Sumatera Barat.
Menurut Direktur UPT Biota Labor Herbarium Unand, Prof. Dr. H. Dayar Arbain, orang zaman dahulu cenderung memberi nama daerah dari nama pohon atau tumbuhan.
Karena Pohon Andalas adalah pohon paling besar di antara semua jenis pohon di Sumatera.
Berfungsi Sebagai Obat Kanker
Pohon andalas sangat berpotensi di bidang ekonomi karena kayunya bagus untuk membangun rumah dan diperkirakan sangat mahal har­ganya. Namun, untuk bisa dipanen butuh waktu hampir seratus tahun. Oleh karena itu, menurut Dayar Arbain, sulit bila nilai jual pohon andalas diambil dari segi kayunya.
“Pohon Andalas tetap bernilai jual tinggi, karena senyawa yang terdapat dalam daun Andalas aktif terhadap sel kanker P388. P388 adalah sel kanker yang sudah membiak. Jadi, tak perlu menunggu sampai ratusan tahun untuk mengambil nilai ekonomi dari pohon ini. Jika daunnya sudah lebat, maka sudah bisa dipanen,” jelas Dayar.
Untuk memperbanyak populasi pohon andalas, sekarang ini Labo­ratorium Herbarium Hayati Unand sedang menggalakkan pembibitan kultur jaringan.
“Pembibitan kultur jaringan ini cukup berhasil. Pembibitan ditem­patkan di kaki Gunung Tandikek. Sekarang Sudah puluhan jumlah­nya. Di Unand sendiri ada beberapa pohon andalas yang berumur belasan tahun,” jelasnya. 

s

Tidak ada komentar:

Posting Komentar