Featured Video

Sabtu, 03 Agustus 2013

Spiritualitas Iktikaf

Suasana iktikaf (ilustrasi).
Suasana iktikaf (ilustrasi).

 Oleh Muhbib Abdul Wahab
Salah satu menu spiritual dari paket rahmat Ramadhan yang relatif kurang banyak mendapat perhatian dan pengamalan dari umat Islam adalah iktikaf.  Padahal ibadah ini sungguh memberi kenikmatan dan kepuasan spiritual tersendiri.

Menurut riwayat Ibn Umar, Anas, dan Aisyah RA bahwa Nabi SAW selalu melakukan iktikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan sejak datang di kota Madinah hingga beliau wafat. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Secara bahasa iktikaf berarti: berdiam diri, menetapi dan menekuni sesuatu, yang baik maupun yang buruk. Pemaknaan ini didasarkan pada ayat: “Ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada ayah dan kaumnya: patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?” (QS. al-Anbiya’/21: 52) “… Dan janganlah kamu campuri mereka (istri) sedang kamu beri’tikaf di dalam masjid…” (QS. al-Baqarah/2: 187).

Pada ayat pertama (al-Anbiya’: 52), iktikaf berkonotasi tekun menyembah berhala (syirik), sedangkan pada ayat kedua (al-Baqarah: 187) menunjukkan tekun beribadah di masjid (tauhid). 

Esensi iktikaf adalah diam diri, menahan diri (dalam beribadah), tekun, penuh konsentrasi dan konsistensi (al-dawam alaih) dalam ketaatan dan kedekatan spiritual dengan Allah melalui tazkiyatun nafs di masjid.

Tujuan utama iktikaf adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan menyucikan hati dan pikiran, serta selalu merasa diawasi oleh Allah. 

Iktikaf melatih berkonsentrasi, membiasakan tekun beribadah semata-mata karena mengharap ridha-Nya; dan  membelajarkan diri untukkhusyu’, penuh ketaatan, konsentrasi, dan konsistensi dalam beribadah di rumah-Nya, bukan di rumah sendiri.

Iktikaf memberi ruang kesadaran spiritual bagi kita untuk kembali menata dan meluruskan mindset kita bahwa kesibukan duniawi itu tidak pernah ada habisnya dan tidak abadi. 

Kesibukan duniawi tidak boleh melengahkan dan melupakan Muslim dari mengingat Allah (dzikrullah) di rumah-Nya yang suci dan di bulan-Nya yang suci. 

Yang abadi dan menjadi bekal kehidupan ukhrawi adalah spiritualisasi diri dengan tekun dan khusyu’ beribadah kepada-Nya, di saat kebayakan orang ramai sibuk dalam urusan duniawi.
Iktikaf merupakan cerminan dari hamba Allah yang taat, patuh, tunduk, dan khusyu’ dalam beribadah kepada-Nya. 

Iktikaf menyadarkan kita pentingnya menyisakan ruang dan waktu dalam diri kita untuk berada dalam masjid. Sehingga spiritualisasi diri melaluiiktikaf ini dapat melejitkan kecerdasan spiritual dan moral yang tangguh. 

Buahnya adalah perilaku moral yang luhur, berupa keteladanan terhadap sifat-sifat dan nama-nama terbaik Allah (al-asma’ al-husna).

Ketekunan duniawi tidak ada artinya jika tidak diimbangi dengan ketekunan ukhrawi. Iktikaf adalah sarana pendekatan diri kepada Allah yang paling tulus. 

Iktikaf mengharuskan kita melepaskan diri dari keasyikan duniawi, menuju kesucian hati dan kedekatan ruhani kepada sang Maha Pencipta dan Pemilik kehidupan ini melalui transit beberapa saat di rumah-Nya. 

Dengan iktikaf, kecerdasan spiritual kita menjadi lebih meningkat dan menguat, sehingga kita tidak mudah tergoda oleh hiruk-pikuk materialismdan hedonism keduniawiaan yang semu dan sesaat.
 
Sebagai aktualisasi dari sunah Nabi SAW, alangkah meruginya jika momentum Ramadhan ini tidak diisi dengan iktikaf

Menikmati iktikaf sejatinya harus menjadi komitmen setiap Muslim yang merindukan surga. Sebab, tradisi baik (sunah) Nabi SAW ini diamalkan dengan tekun dan khusyu’, niscaya kebugaran spiritual kita menjadi lebih meningkat.

Sehingga hati dan pikiran kita semakin dapat dengan mudah menangkapsinyal-sinyal Ilahi dalam menjalani kehidupan di masa depan.

Sungguh indah dan nikmat, jika di saat masjid-masjid mulai lengangditinggalkan sebagian pelanggan jama’ahnya,  kita bisa melakukan transformasi hati dan pikiran duniawi ke dalam kesucian hati dan pikiran di rumah-Nya.  

Yang sangat dibutuhkan untuk beriktikaf adalah komitmen hati dan disiplin beribadah dengan tulus ikhlas di rumah-Nya, bukan di rumah masing-masing. 

‘Aisyah RA meriwayatkan bahwa  “Jika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, maka Rasulullah SAW selalu mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malam-malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari-Muslim).
s

Tidak ada komentar:

Posting Komentar