Featured Video

Jumat, 20 September 2013

Mereka Jalan Kaki 6 Kilometer untuk Sekolah di Gubuk Reot

Tak punya gedung sekolah anak-anak terasing dari suku Bunggu di Mamuju utara terpaksa belajar berpindah-pindah dari kolong rumah ke kolong rumah warga lainnya agar bisa bersekolah

Puluhan siswa Sekolah Dasar (SD) Petunggu di Dusun Saluraya, Desa Gunung Sari, Kecamatan Pasangkayu, Kabupaten Mamuju Utara, Sulawesi Barat, sudah meninggalkan rumah mereka sejak pagi sekali.


Minimnya sarana dan fasilitas pendidikan di dusun tersebut memaksa para siswa dari suku Bunggu yang tersebar di sejumlah dusun terpencil itu berangkat saat sinar matahari belum memancar penuh. Tak lain ialah agar mereka yang harus berjalan kaki enam kilometer bisa sampai ke sekolah tepat waktu.

Setiba di sekolah, jangan pernah bayangkan ada bangunan sekolah permanen untuk tempat mereka belajar. Sebab, puluhan bocah ini harus menimba ilmu di kolong-kolong rumah warga secara berpindah-pindah, termasuk memanfaatkan balai pertemuan suku Bunggu yang sudah hampir ambruk. Bangunan itu lebih pantas disebut gubuk reot karena tiang-tiang penyangga, dinding, maupun atapnya sudah tak beraturan lagi.

Para siswa ini duduk di bawah, tanpa meja dan kursi. Dinding dan atap yang bocor tentu mengganggu, apalagi saat musim hujan tiba. Kondisi itu tentu menimbulkan keluhan.

Para pelajar tentu memimpikan suasana belajar yang lebih layak. Salah seorang siswi, Once misalnya. Ia mengeluh karena sudah lebih dari tiga tahun dia tak bisa berkonsentrasi saat belajar.

Duduk di bawah pun menyebabkan punggungnya sakit. Belum lagi kaki yang kesemutan karena terlalu lama "melantai". "Bangunannya tua dan hampir roboh. Kalau hujan sering, pelajaran dihentikan karena kehujanan. Juga tak ada dinding pembatas sama sekali," tutur Once.

Minimnya perhatian pemerintah membuat pendidikan anak-anak terasing dari suku Bunggu kian terbelakang. Dua guru perempuan yang setia mengabdikan diri untuk kemajuan pendidikan di wilayah ini berharap pemerintah serius.

Mereka meminta pemerintah membenahi infrastruktur pendidikan di tengah komunitas suku Bunggu yang masih memprihatinkan. "Warga sudah lama mengeluhkan fasilitas dan sarana sekolah, tapi belum ada tanggapan pemerintah. Siswa pun terpaksa belajar dalam kondisi darurat seperti ini," ujar Nurlina, salah satu guru.

S

Tidak ada komentar:

Posting Komentar