Featured Video

Selasa, 12 Agustus 2014

DARI BUNUH DIRI HINGGA SELINGKUH_Tanah Datar

Merebaknya kasus bunuh diri dan selingkuh di kalangan Pega­wai Negeri Sipil (PNS) di Kabu­paten Tanah Datar menyisakan per­­ta­nyaan besar bagi masyarakat Su­matera Barat dan daerah lainnya di Tanah Air. Ada apa dengan Kabupaten Tanah Datar? Mengapa di daerah tertua ranah Minangkabau itu terjadi peristiwa yang termasuk paling dibenci Allah SWT? Banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang muncul atas kondisi di Tanah Datar saat ini.

Mengapa mengundang banyak per­tanyaan? Karena selama tahun 2014 saja, sudah 14 orang warga Kabupaten Tanah Datar yang mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Usia pelaku beragam, ada yang masih usia pelajar, mahasiswa, remaja, dewasa, hingga orang tua. Dengan jumlah itu berarti, rata-rata dalam satu bulan terdapat dua kasus bunuh diri.
Anehnya sampai sekarang belum terjawab apa benang merah dari seluruh rangkaian kasus bunuh diri itu sesung­guhnya. Untuk mengetahui benang me­rahnya, tentu tidak cukup melihat dan menelisik kasus itu secara parsial. Perlu melihat dan menelisik kasus-kasus itu secara komprehensif dari berbagai sisi. Sehingga nanti bisa terjawab, apakah benang merahnya persoalan ekonomi, persoalan sosial, pendidikan, mental, moral dan agama. Atau justru akumulasi dari semua persoalan tersebut.
Untuk mengetahui benang merah yang sesungguhnya memang dibutuhkan pene­litian yang mendalam dan serius. Hingga sekarang belum satu institusi pun yang berinisiatif melakukan penelitian atas maraknya kasus bunuh diri di Kabupaten Tanah Datar tersebut. Inisiatif Pemkab  Tanah Datar belum terlihat, begitu juga dengan Pemerintah Provinsi Sumbar, kampus STAIN Batusangkar dan berbagai kampus lainnya di Sumatera Barat belum ada yang care dengan kasus itu.
Padahal penelitian itu sangat penting. Muaranya dari penelitian tersebut adalah dapat menghentikan daftar rentetan kasus bunuh diri di Kabupaten Tanah Datar. Jika memang persoalan kesulitan ekonomi yang menjadi masalah, tentu perlu diberikan sentuhan dan bantuan di sektor ekonomi kepada masyarakat yang tergolong rentan mengambil jalan pintas berupa bunuh diri. Demikian pula jika persoalannya karena keterbelakangan pendidikan, ke depan tentunya perlu perhatian serius terhadap pembangunan di sektor pendidikan.
Jika pengusaan, pemahaman dan pengamalan ajaran agama Islam yang bermasalah di lingkungan masyarakat, maka perlu pula dilakukan pembenahan di bidang ini. Termasuk jika yang sangat  minim di masyarakat kita adalah persoalan kepekaan sosial dan kepedulian dengan sesama sebagaimana yang disimpulkan sementara oleh pengamat  sosial dari Universitas Andalas, Damsar. Ketika ada masyarakat yang kelaparan atau kesulitan ekonomi, ternyata keluarga dan tetangga yang lain, membiarkan begitu saja. Mereka tidak berupaya berempati dan membantu meringankan beban  atau mencarikan soluasi atas permasalahan yang mereka hadapi. Semoga saja ke depan didapatkan solusi atas permasalahan ini.
Sedangkan maraknya kasus selingkuh PNS di lingkungan Pemkab Tanah Datar juga semakin melengkapi banyaknya pertanyaan yang muncul atas berbagai kasus  yang terjadi di Tanah Datar. Setali tiga uang, maraknya kasus selingkuh dan kasus bunuh diri juga mengakibatkan munculnya berbagai pertanyaan bagi Pemkab Tanah Datar. Mengapa daftar kasus kedua permasalahan itu terus bertambah dan bertambah?.  **h