Featured Video

Sabtu, 13 Desember 2014

Cantiknya, Ratu Jamu Gendong Indonesia 2014 Ini

Cantiknya, Ratu Jamu Gendong Indonesia 2014 Ini
Citra Wahidatul Jannah (21), asal Purworejo Jawa Tengah, pemenang Ratu Jamu Gendong Indonesia 2014. 
Citra Wahidahtul Janah, asal Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, terpilih sebagai Ratu Jamu Gendong Indonesia 2014. Citra menyisihkan 10 finalis lainnya dari beberapa kota di Indonesia.

Perempuan berusia 21 tahun itu memikat hati dewan juri karena kepiawaiannya meracik aneka rempah-rempah menjadi jamu tradisional. Citra juga dinilai paling luwes tatkala menyajikan jamu racikannya kepada para konsumen.
Selain Citra, Eka Sulastri yang berasal dari Kabupaten Garut, Jawa Barat, terpilih sebagai pemenang Jamu Gendong Teladan 2014 setelah menyisihkan 10 finalis dengan kategori yang sama. Eka dinilai paling telaten namun cekatan ketika menghaluskan aneka bahan tanaman seperti jahe, kencur, beras, dan daun-daunan untuk menjadi jamu.
Pada kategori ini, pengalaman serta dedikasi terhadap profesi penjual jamu gendong juga menjadi penilaian dewan juri.
“Saya tak menyangka bisa menjadi juara, rasanya senang dan bangga. Namun, di sinilah tantangan saya agar tetap melestarikan warisan nenek moyang,” kata Eka.
Perempuan berusia 36 ini mengaku mulai meracik jamu sejak umur 16 tahun. Selepas menamatkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP), Eka langsung terjun untuk meracik jamu dan berbisnis jamu keliling hingga Bandung, Jawa Barat. Resep racikan jamunya diperoleh Eka dari keluarganya yang memang sudah berjualan jamu turun-temurun.
Grand Final Pemilihan Ratu Jamu Gendong dan Jamu Gendong Teladan Indonesia 2014 diselenggarakan di pelataran Candi Borobudur,Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Minggu (7/12/2014).
Kontestasi ini diselenggarakan oleh perusahaan jamu PT Jamu Jago bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Magelang dan PT Taman Wisata Candi Borobudur (TWCB). Direktur Utama PT Jamu Jago, Ivana Suprana, mengatakan ajang ini digelar sejak tahun 1980 silan. Namun setelah itu vakum dan kembali digelar rutin mulai tahun 2008.
Menurut Ivana, kontestasi ini merupakan wujud partisipasi aktif untuk melestarikan jamu tradisional Indonesia, serta merupakan upaya untuk terus menggalakkan budaya minum jamu di masyarakat terutama di kalangan generasi muda.
“Jamu adalah warisan budaya Indonesia yang harus dipertahankan dan lestarikan. Terbukti, relief di Candi Borobudur ada yang menggambarkan budaya minum jamu, karenanya grand final kami helat di candi ini," ungkap Ivana.
Para pemenang kompetisi ini, lanjut Ivana, akan menjadi duta jamu Indonesia. Mereka akan bertugas mempromosikan jamu sebagai obat tradisional asli Indonesia di acara-acara berskala nasional maupun internasional. Pihaknya berharap melalui kegiatan ini, masyarakat semakin mencintai jamu serta menghargai penjual jamu sebagai profesi yang luhur.t