Featured Video

Selasa, 17 Februari 2015

MENGENANG HAMKA (17 FEBRUARI 1908 - 24 JULI 1981)

Hasil gambar untuk hamka


HAJI Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) adalah ba­­gian sejarah dan to­koh nasional yang layak diteladani. Pribadi yang me­miliki ragam pengalaman, sarat ilmu, dan tak mundur langkah di hadang rezim pe­merintah. Keberanian Hamka per­nah mengantarkannya ma­suk pen­jara tanpa peradilan selama dua tahun empat bulan. Tuduhan atau fitnah yang di­tim­pakan di masa orde lama itu adalah subversif.

Di penjara Sukabumi, pria yang juga akrab disapa Buya Hamka ini mengalami per­lakukan yang tidak pantas dan cenderung penyiksaan. Meski demikian, kelahiran 17 Fe­bruari 1908 itu tidak me­nyimpan dendam dan ikut men­sha­lati jenazah Bung Kar­no. Bahkan konon, pimpinan orde lama itu sendiri yang meminta Hamka memimpin shalat jenazah tersebut.
Pada zaman orde baru, saat menjadi ketua MUI dan me­nge­luarkan fatwa haram bagi umat islam untuk me­lak­sa­nakan natal bersama, dia me­nga­lami tentangan dari banyak pihak. Pe­merintah juga tidak seja­lan dengan pemikiran te­r­s­ebut.
Akhirnya, ayah dari dua belas anak itu rela melepaskan jabatan dengan te­tap me­me­gang prin­sip. Ter­lepas dari pro-kon­tra fatwa, paling tidak, keteguhan hati dan tang­gung ja­wab to­koh Muham­ma­­di­yah ini ter­ha­dap ij­ti­had-nya pantas diacungi jem­pol.
Sebuah pan­tun yang digu­bah Datuk Pan­duko Alam da­lam bu­ku Ran­cak di La­­buh, menjadi pelecut se­mangat dan ke­be­ranian Hamka dalam meng­hadapi hidup. Ini me­ngins­pirasi lelaki yang tak pernah tamat pen­didikan for­mal tersebut untuk selalu optimis dan pantang takut pada apapun jua.
Putuslah tali layang / Ro­bek kertasnya dekat bingkai / Hidup nan jangan manga­palang (hidup jangan tang­gung-tanggung) / Tidak punya berani pakai (jika tergolong bukan orang yang berpunya atau kaya, pakailah keberanian sebagai modal).
Mungkin tidak banyak o­rang t­ahu kalau Hamka muda adalah pimpinan di sejumlah angkatan perjuangan. Pemuda yang pada usia 18 tahun nekat belajar di Mekkah meski ke­mampuan bahasa arab-nya ma­sih minim tersebut aktif di medan perang dan jadi target penjajah. Dia sempat menjadi pimpinan di Front Ke­mer­dekaan Sumatera Barat, Ten­tara Keamanan Rakyat, Front Per­tahanan Nasional, dan Barisan Pengawas Negari dan Kota.
Atas jasanya di masa per­juangan kemerdekaan, Jen­deral Nasution di tahun 1960 pernah menawari-meski ke­mudian ditolak secara halus—penulis Di Bawah Lindungan Ka’bah ini pangkat kehor­matan Mayor Jenderal Tituler. Walaupun hanya pangkat ke­hor­matan, fasilitas yang dida­pat sama dengan pang­­kat karir.
Irfan Hamka, putra kelima Buya Hamka, menulis buku berjudul Ayah... yang dide­dikasikan bagi peraih Doktor Honoris Causa dari Univer­sitas Al Azhar tersebut. Isi buku terbitan Republika tahun 2013 itu tidak melulu soal pemikiran seni, budaya, aga­ma, dan politik penulis tafsir Al Quran monumental Al-Azhar tersebut. Irfan juga mengisahkan banyak penga­laman selama hidup bersama Hamka hingga sang panutan meninggal dunia.
Dari buku ini tampak kete­nangan Hamka dalam men­jalani hidup. Bagaimana ke­besaran jiwa dan karakter pasrah pada sang khalik, telah i­d­en­tik bagi pria yang men­dapat predikat resmi Pah­lawan Nasional pada 2011 tersebut.
Dalam sebuah perjalanan darat dengan mobil dari Irak menuju Mekkah bersama istri (Siti Raham Ra­sul), Irfan, dan se­orang sopir (U­­mar), Ham­ka tak henti memberi motivasi dan mene­nang­kan semua pe­num­pang. Sebab, berulang kali mereka men­dapat pengalaman menegang­kan dalam per­ja­lanan tiga hari empat malam di tahun 1968 itu. Misalnya, saat mobil me­reka nyaris diter­pa angin topan gurun, dikejar air bah selepas hujan yang tiba-tiba turun, dan saat mobil nyaris terguling karena Umar tertidur sambil menyetir sa­king lelahnya (hal: 162)
Hamka juga begitu bijak saat mengetahui kalau seru­mah dengan jin. Makhluk ha­lus yang dijuluki Innyiak Ba­tungkek (kakek bertongkat) itu kerap menimbulkan suara aneh atau menggerak-ge­rak­kan sesuatu. Dalam sebuah “ritual” kecil, mantan aktivis dan tokoh Yayasan Pesantren Indonesia itu bercakap-cakap dengan Innyiak melalui sim­bol-simbol ketukan.
Pria yang menolak tawaran menjadi Dubes RI di Arab Saudi karena ingin fokus me­ngem­bangkan Masjid Agung Al A­zhar Kebayoran Baru ini tidak lang­sung mengusir jin. Mes­kipun sebenarnya sanggup me­­nge­­nyah­kan Innyiak dari ru­mah tersebut, dia me­mutuskan un­tuk hidup berdampingan. De­ngan catatan, jin tersebut berhenti meng­ganggu keluar­ganya (hal: 69).
Salah satu yang turut me­warnai buku ini adalah kata pengantar yang ditulis Dr Tau­fiq Ismail. Taufiq menyi­sipkan tentang kondisi sebe­rang pen­dapat antara Pra­moedya Anan­ta Toer dan Ham­­­ka. Be­tapa dulu Pram kerap melon­tarkan kritikan keras pada karya dan pe­mi­kiran Hamka. Semisal, saat halaman Lentera yang diasuh Pram di harianBintang Timur melansir tudi­ngan pla­giat un­tuk karya Ham­ka ber­judul Tenggelamnya Ka­pal Van der Wijck.
Seberapapun keras dan ber­tolak belakang pemikiran dua sastrawan besar tersebut, ter­nyata di masa tua, Pram me­nyuruh calon me­nan­tunya be­lajar agama pa­da Hamka. Ula­ma besar yang sempat ru­tin mengisi pengajian di RRI dan TVRI itu pun ti­dak ke­beratan. Taufiq yang bisa dibi­lang salah satu saksi hidup “per­tikaian” mereka di masa lalu, kini bersaksi pula kalau sejatinya mereka sudah “ber­damai”. (*)

RIO F. RACHMAN
(Mahasiswa S2 Media dan Komunikasi Universitas Airlangga) H