Featured Video

Sabtu, 17 September 2011

SENI BUDAYA DIKEBIRI DI NEGERI INI


Kalau mau berjujur-jujur mengungkapkan rea­litas, tidak segan ka­lau akhirnya dianggap orang mencabik baju di dada. Sungguh. Menga­ku sa­jalah kita, bahwa nasib  seni dan budaya sekarang seperti “ke­ra­kap tumbuh di batu”, hidup segan, matipun malu. Nantilah dihitung, siapa siapa penge­lolanya, dana atau anggaran yang tersedia saja, sepantun dengan “kain sarung”. Ditarik ke atas terjulur kaki. Habis kaki dek rangit. Ditarik ke bawah,  terjulur muka. Dan tentunya muka yang akan merasai. Selain rangit, dingin mencucuk ke telinga. Men­dengung saja bunyi kehidupan ini terasa.

Betapa tidak? Sektor pariwisata misalnya. Sektor ini tadinya dijunjung-junjung benar sebagai andalan yang akan dijual untuk pemasukan (in come) daerah. Ianya disang­kutkan di “menara gading” setiap ekspos pejabat “pemimpin” yang berpidato.
“Pemim­pin” yang bicara tentang pariwisata itu dengan kondisi yang dihadapi sekarang,  tak menyadari, dirinya telah menjadi pemimpin kehilangan huruf “n”,  “pemimpi”. Figur yang keahliannya  membayang-bayangkan apa yang bergoyang saja. Didudukkan benar di kursi goyang, pening dia. Naik perut dan ulu hatinya. Muntah dia. Sebab, peningkatan penanganan di sektor ini tidak ada secuilpun juga.
Setelah diinap-inapkan, tekad memajukan dunia pariwisata yang didengung dengungkan itu, maaf hanyalah retorika, yang pada kenya­taannya lebih sering “salah rosok”. Entah mana yang sakit, entah mana yang diurut. Entah mana yang gatal, entah mana yang digawit. Pembinaan kesenian, nyaris mengarah ke “pem­binasaan” kesenian. Iven pariwisata bisa terlihat sebagai para sitawa. Gelak orang, gelak awak. Yang digelakkan orang, awak. Berpekan budaya orang, berpekan budaya awak. Pado indak. Berbudaya sepekan, sudah itu tertekan.
Di Era kepemimpinan “baliau-baliau” yang (merasa) segala pandai, dan pantang bertanya ini, memang sulit menyumbang saran. Kaca mata kuda yang dikenakannya memang terlalu gagah,  sarat akan manik-manik timah. Salah salah sorong awak, ditanyanya “gelar” awak. Apa mau “dikecat”,  beliau orang “hebat hebat” yang selama ini jauh di seberang (pikiran) awak. Begini-begini saja, sudah untung ini. Coba, kalau dia berang, tidak dikerjakannya sama sekali? Atau ditunggang­balikkannya semua?! Berbayir hutang!
Yang membuat kita tidak cepat jatuh sakit, adalah mengangguk-angguk saja. Katakan dalam hati. Kisailah, apa yang ketuju. Mahonjak atau merantaklah sukati awak.  Nanti, kalau tertungkut, katakan saja diri ini “cinta tanah air”. Mencium tanah, kan cinta tanah dan  air itu kan ?
Kita tidak akan menunjuk hidung bapak yang gubernur. Hiba kita. Juga, tidak akan menohok dada  Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Melawanlah dia. Kita berbaik-baik sangka saja. Apalagi, kedua-duanya berlatar belakang “guru”. Orang yang  “diguguh dan ditiru”. Walau tidak mengajak atau berseru: “Jangan “bolok”an mereka dulu.” Tak dibo­lokan saja, sudah begini keadaan. Anggap saja, selama ini, mimpi di atas mimpi.
Kalau ada yang perlu kita papar­kan, adalah perasaan agak terabai di dunia seni, budaya dan pariwisata. Dalam arti perhatian dan pembinaan yang konkret. Tidak retorika. Tidak semboyan. Tidak pula basa-basi, karena “ondong ayia, ondong dadak”. Ndak “sata” pula awak kata orang berseni-seni. Ya, agihlah mereka-mereka itu kesempatan mewujudkan diri. Beri. Jangan dikebiri.

ALWI KARMENA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar