Featured Video

Rabu, 29 Februari 2012

Elly Kasim


Berbicara mengenai budaya Minangkabau (Padang), Sumatera Barat, rasanya tak lengkap jika tidak menyebut nama Elly Kasim. Kiprahnya dalam memperkenalkan kebudayaan Minangkabau, terutama tari dan nyanyi, telah diakui hingga ke mancanegara. Berkat suara emasnya, lagu-lagu Minang makin populer dan digemari masyarakat di luar daerah Padang. Tapi sayang, hingga saat ini belum juga bermunculan penerusnya, yaitu penyanyi-penyanyi Minang yang memiliki kemampuan seperti dia.

Elly Kasim
Sejumlah lagu-lagu Minang yang dibawakan perempuan kelahiran Tiku, Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada 27 September 1944 itu, terkenal hingga hari ini. Sebut saja lagu AyamDen Lapeh, Barek Solok, Kaparinyo, Si Nona, Lamang tapai, Dayung Palinggam, Kelok Sembilan, Roda Padati, dan Mudiak Arau.
Lagu-lagunya telah dimuat dalam puluhan piringan hitam, kaset, maupun VCD selama 45 tahun. Meski lagu-lagu yang dibawakannya adalah lagu daerah, tapi ia mampu menjadi legenda di antara penyanyi-penyanyi kawakan di Tanah Air.
Tes Menyanyi
Hampir tiga perempat dari usianya dihabiskan Elly di Jakarta. Ketika usianya masih beberapa bulan, ibunya, Emma Effendy berpisah dengan ayahnya, Kasim. Ia pun diasuh oleh sang nenek di Jakarta.
Lalu ketika mulai masuk sekolah dasar, neneknya yang berprofesi sebagai guru di Jakarta, pensiun dan memilih pulang ke kampung halaman. Elly pun kembali tinggal dengan ibunya dan ayah tirinya, Ali Umar di Bukit Tinggi, Sumatera Barat, dan meneruskan sekolahnya di sana.
“Ketika saya akan naik kelas III SMP, kami sekeluarga pindah ke Pekanbaru, karena papa pindah tugas ke sana,” katanya.
Menamatkan SMA-nya pada 1950-an, Elly pun hijrah kembali ke Jakarta sampai sekarang. Saat itu ia tinggal bersama salah seorang pamannya. Di tempat itulah ia mulai memasuki dunia tarik suara.
Ketika tiba di Jakarta untuk kali kedua itu, lagu Minang berjudul Ayam Den Lapeh yang dianalogikan sebagai kehilangan kekasih, tengah populer dinyanyikan kelompok Orkes Gumarang. Tak hanya di Jakarta, lagu itu pun terdengar di hampir seluruh pelosok Padang setiap hari.
“Lagu-lagu yang dibawakan Orkes Gumarang semuanya bagus-bagus sehingga disenangi masyarakat, bahkan tidak cuma oleh orang Padang tapi juga dari suku lain. Soalnya walau lagu Minang, tapi lagu-lagu mereka mudah dicerna dan dinikmati masyarakat dari luar Padang. Karena sering mendengarkan lagu-lagu mereka, saya pun jadi ingin bisa menyanyi. Saat itu usia saya sekitar 17 tahun,” ujar Elly yang dipersunting Nazif Basir ini.
Ia pun mulai mencoba ikut tes menyanyi di Radio Republik Indonesia (RRI) Jakarta. Waktu itu televisi belum ada, dan untuk bisa bernyanyi di RRI harus mengikuti seleksi layaknya sebuah festival.
Lagu Titik Puspa berjudul Esok Malam Kau Ku Jelang, yang dibawakannya ketika itu, membuatnya berhasil lolos seleksi. Selanjutnya ia diminta sang paman untuk bergabung bersama teman-temannya dalam kelompok band Minang, Gatario. Di kelompok band itu ia tampil bersama pimpinan orkes Kumbang Tjari, Nuskan Syarif.
“Tidak lama setelah Nuskan Syarif bergabung bersama kami, datang tawaran rekaman. Waktu itu kami membawakan lagu berjudul Lamang Tapai, Mayang Ta’ Urai, Sala-lauak, dan lain-lain,” ia menjelaskan.
Ia beruntung, karena sejak kehadiran Orkes Gumarang yang dipimpin Asbon Majid, lagu-lagu daerah Minang mulai digemari masyarakat luas, tidak terkecuali oleh masyarakat di luar Padang. Maka ketika album pertama mereka beredar, masyarakat pun menyambut baik.
“Zaman dulu lagu daerah banyak diminati masyarakat, dan ujung tombak lagu daerah ketika itu lagu-lagu Minang. Dan pelopor lagu pop Minang adalah Orkes Gumarang. Setelah Orkes Gumarang muncul, barulah mulai bermunculan lagu-lagu daerah lain,” tuturnya.
Usaha Nenek

Elly Kasim
Sukses di dunia tarik suara dan mulai dikenal masyarakat luas, Elly pun kembali menggeluti dunia tari yang pernah ia tekuni semasa masih bersekolah di Padang. Bersama sanggar tari Sangrina Bunda yang didirikannya pada 1978, ia pun kerap berkunjung ke beberapa negara, seperti Suriah, Uni Emirat Arab, Dubai, hingga Amerika Serikat. Kelompok tarinya itu juga sering diminta tampil untuk menyambut tamu-tamu kenegaraan di Istana Negara.
“Saat unjuk kebolehan di mancanegara atau di Istana Negara kami tidak hanya membawakan tarian Minang, tapi juga tari-tarian dari daerah lain,” ia mengenang.
Kini, di sela-sela kesibukannya show menyanyi dan menari, Elly bersama suaminya juga tengah meneruskan usaha sang nenek di bidang pengadaan perlengkapan pernikahan adat Sumatera Barat.
“Tak hanya menyediakan pelaminan, kami juga bisa membantu mengatur tata cara perkawinan sesuai dengan adat Minangkabau,” ujarnya.
Dalam meneruskan usaha neneknya itu, Elly dan suaminya memberikan beberapa modifikasi, baik itu pada pelaminan, pakaian pengantin, maupun tata cara pelaksanaannya. “Modifikasi itu dimaksudkan agar anak-anak Minang yang tidak lahir dan dibesarkan di Padang tetap tertarik untuk menggunakan adat Minang dalam upacara perkawinan mereka,” katanya.
Di antaranya, dengan menghadirkan tarian penyambutan tari gelombang di sebuah pesta perkawinan. Zaman dulu tarian penyambutan hanya dihadirkan pada saat menyambut tamu-tamu raja atau kenegaraan. “Dulu banyak orang tua Minang yang kecewa melihat ulah saya, karena sudah ratusan tahun pesta pernikahan adat Minang ya seperti itu. Lalu saya melakukan beberapa perubahan. Namun, akhirnya mereka bisa menerima, apalagi perubahan yang saya lakukan tetap berpegang pada akar budaya Minangkabau. Dan kini tarian itu sudah lazim ada di dalam setiap pesta pernikahan Minang,” tutur ibu satu putri ini. [Pembaruan/Yumeldasari Chaniago]
Sumber : http://www.suarapembaruan.com/News/2006/04/21/Personal/pers01.htm
Sumber:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar