Featured Video

Kamis, 15 Maret 2012

MENGGLOBALKAN RENDANG


Tak habis-habisnya inovasi dikembangkan oleh pengelola pariwisata Thailand untuk menghadirkan turis ke negaranya. Makanya, jumlah turis yang berkunjung ke negara bergajah putih itu jauh lebih tinggi dari kita dan negara-negara Asean lainnya. Lama Uwan tercenung, kok bisa demikian.Padahal, kita memiliki produk wisata yang lebih beragam dan kualitasnya jelas lebih tinggi.

Dari belasan kali berkunjung ke berbagai propinsi disana, Uwan menemukan geliat kolektif bangsa Siam ini dalam membangun kepariwisataannya.Perkembangan yang dahsyat Uwan temukan salah satunya di kota Chiangmai yang menjadi tujuan favorit Uwan kalau mampir ke Thailand.
Kalau dulu, awal 90-an dinamikanya masih primitif, yakni mengandalkan matahari, pasir dan sex (3S: sun, sand and sex ), maka secara signifikan dan tidak terlalu lama telah terjadi perubahan mendasar. Kota Chiangmai kini telah menjadi kota budaya, dimana sudah sangat susah untuk menemukan diskotik esek-esek, produk gogo dancing atau sarana pemuas naluri primitif lainnya. Kota ini kini menyuguhkan kesenian tradisional, penampilan kolosal teatrikal, orkestrasi mancanegara dengan kalender tahunan dan sarana yang bermartabat lainnya. Galery ditemukan di berbagai sudut kota, menawarkan lukisan berkualitas. Itulah potret pariwisata Thailand hari ini.
Rupanya secara strategis otoritas pariwisata Thailand tidak lagi semata-mata mengandalkan keindahan alam dan budaya saja, namun sudah naik kelas dengan mengembangkan pariwisata yang sudah keluar dari pakem wisata konvensional. Salah satunya dengan mendatangkan turis untuk belajar memasak berbagai jenis masakan tradisional mereka yang beragam. Kreatifitas itu perlu diapresiasi.
Hal ini tentu dipicu oleh merambahnya restoran Thailand ke seluruh dunia. Merupakan bagian dari langkah-langkah strategis negara gajah putih itu dalam mengantisipasi globalisasi. Di Jakarta saat ini misalnya, sedikitnya ada 7 restoran bila ingin mencicipi makanan Thai. Mulai dari kue-kue khas yang dikemas kecil-kecil, sampai pada masakan makan malamnya. Dulu waktu berkelana ke kota-kota dunia, Uwan selalu menemukan restoran Thai untuk makan besar, karena relatif taste -nya mirip masakan Padang. Karena sesama ASEAN atau melihat kecenderungan konsumen yang berlatar belakang muslim, dikembangkan pula restoran yang berlabel halal, misalnya restoran D'jit Pochana yang pernah Uwan kunjungi di jantung kota Bangkok. Begitu pula berkembang sangat pesat restoran muslim di belakang pasar malam kota Chiangmai. Saking ramainya, harus booking dulu kalau mau makan malam kesana. Padahal itu hanyalah sekelas foodcourt saja.
Melihat kecenderungan pasar demikian, pihak pariwisata Thailand mengemas suatu produk yang berbasis pada aktifitas pengolahan makanan ini. Di Jakarta saja, kalau tak salah ada 7 biro perjalanan yang mengatur perjalanan wisata memasak, lengkap dengan iming-iming tambahan dan berbagai diskon. Mengingat segmen pasar yang strategis adalah kaum ibu dan wanita, gencar sekali dilakukan kerjasama pemberitaan dengan majalah dan tabloid wanita di Indonesia. Secara rutin para wartawati diundang berkunjung ke Thailand meliput kegiatan yang didominasi para ibu dan oma-oma ini.
Sesampainya di Bangkok, para turis yang ikut kursus segera diajak ke pasar terapung terkenal Ratchaburi. Hiruk pikuk transaksi dan hilir mudiknya ratusan sampan-sampan tradisional mengawali kursus, menyeret peserta segera masuk ke suasana kehidupan nyata masyarakat lokal. Para peserta diajak memilih sayuran, bumbu masak yang dibutuhkan dan buah-buahan pendukung. Tentu saja tak lupa, para turis sudah bisa membuka kocek untuk mulai membeli cinderamata.
Dengan instruktur masak yang terampil, kursuspun dimulai di gedung UFM Baking and Cooking School. Waktu kesana, Uwan lihat ada dua instruktur yang fasih berbahasa Indonesia, disamping guide yang disediakan biro perjalanan. Paket tiga hari kursus disana, peserta sudah dinilai mampu membuat Tom Yam Gung, Som Tome, Ayam Masak Kari, Ayam Bungkus Pandan, Garupa Goreng Saus Kombinasi dan masakan penutup Foy Thong.
Kursus ditutup dengan makan malam di sebuah restoran sea-food pinggir sungai yang kinerja pelayanannya kelas tinggi. Peserta diberi sertifikat dan berbagai macam nick-nack kenangan sekaligus undangan untuk berkunjung kembali mengikuti kursus lanjutan. Berbagai penawaran kursus lengkap dengan waktu dan biaya tentulah terselip dalam tumpukan cinderamata. Ada satu hari lagi untuk city tour sebelum pulang kembali ke negara asal.
Hasil yang diperoleh, sensasi dan atraksi yang dialami peserta sekaligus keramahan instruktur dan penyelenggara niscaya akan selalu melekat dalam ingatan. Uwan lihat, beberapa ibu meneteskan airmata karena harus segera berpisah setelah 5 hari interaksi intensif dalam grup kursus. Rasanya, mereka akan saling telepon pada bulan-bulan awal sekembalinya di tanah air. Bukan tak mungkin pula mereka akan merencanakan kemungkinan untuk ikut kursus lanjutan.
Fenomena itu selalu mengusik kenangan Uwan bila berkunjung ke Thailand dan bermuara pada geram tak sudah bila membenturkannya dengan potensi Sumatera Barat. Kita berpeluang mengembangkan hal serupa, bahkan mungkin lebih baik karena produk masakannya pasti halal. Produk wisata berupa kursus memasak masakan Minang bukanlah hal yang sulit untuk dikemas.
Apalagi sejak tahun lalu rendang sudah dinyatakan sebagai produk makanan terenak global. Artinya tidak susah-susah lagi memperbarui produk karena image branding telah dibangun lewat rendang. Tentu produk wisata kursus memasak ini dikombinasi dengan atraksi berlanglang buana ke seantero propinsi yang jaraknya tidak berjauhan. Ada paket tur memasak gulai itik di Koto Gadang sekalian mengunjungi kerajinan perak dan sulaman Amai Setia; belajar aneka masakan kapau langsung ke nagari Kapau; ingin terampil memasak asam pedas ambu-ambu datang ke Pauh Pariaman; bila ingin tahu rendang Solok, silahkan belajar ke nagari Selayo dan pulangnya berdingin-dingin lewat Danau Kembar; Bila perlu ilmu membuat Soto Awak yang dagingnya tetap garing walau sudah dikuahi mari berkunjung ke Muaro Kalaban dll. Disela-sela kursus tentu akan bertahan alamiah transaksi oleh-oleh yang akan menghidupkan pula bisnis ikutan cinderamata dan jasa pendukung lainnya yang akan dikelola secara profesional pula oleh penduduk setempat.
Ibu-ibu dari kota-kota besar di tanah air, masyarakat rumpun Melayu di Semenanjung Malaysia sampai ke Sabah, Serawak dan Brunei adalah pasar potensial yang strategis untuk digarap. Intinya canggih mengemas, gencar berpromosi dan profesional mengelola.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar