Featured Video

Senin, 15 Oktober 2012

Hikkkss.. Air Mata Keluarga Jepang Untuk Mahasiswa Indonesia


Jakarta Dua mahasiswa asal Indonesia Arga Stefanus dan Fitria Rusmanida berkesempatan tinggal selama dua pekan di kota Sakai, Jepang, bersama keluarga lokal. Meski dalam waktu singkat, keduanya berhasil memberi kesan mendalam bagi keluarga baru mereka.

Arga dan Fitria adalah mahasiswa asal Universitas Nasional jurusan Sastra Jepang semester 8. Keduanya mengikuti program pertukaran pelajar dalam rangka Asean Weekly Committe yang digelar oleh pemerintah Kota Sakai sejak awal Oktober 2012.

Arga tinggal bersama keluarga Tomomi Tate, lalu Fitri menjadi bagian baru keluarga Sumiyo Miyama. Dosen mereka, Ucu Fadhilah, juga ikut menjadi homestayer bersama keluarga Nuriko Doi.

Ketiganya menjalin interaksi dan bertindak layaknya orang Jepang sehari-hari. Pola makan, cara berpakaian, etika dalam bertamu, hingga kebiasaan mandi diikuti agar bisa cepat beradaptasi.

"Program ini jadi pembelajaran buat mahasiswa jadi bisa mempraktikkan langsung dan mengalami kehidupan orang Jepang," tutur Ucu.

Khusus bagi Arga, pengalaman ini sangat berharga karena dia bisa melatih kemampuan berbahasa Jepangnya sambil berkenalan dengan orang-orang baru. "Sangat berharga, kita jadi belajar disiplin. Bagi mereka, keteraturan di keluarga itu adalah awal dari kesuksesan kita di luar," tuturnya.

Sementara bagi Fitri, kesempatan ini menjadi bahan penting bagi hidupnya. Meski ada beberapa budaya yang sempat membuat shock.

"Orang Jepang sangat tepat waktu. Kalau saya biasa ngaret 5 menit, kalau di sini nggak bisa," kesannya.

Saat dimintai tanggapan soal kedua mahasiswa tersebut, keluarga di Jepang pun merasa senang. Keluarga Tomomi Tate menilai Arga sosok yang cukup pandai beradaptasi. Kemampuan bahasa Jepangnya pun bisa diandalkan.

"Arga seorang pelajar yang baik," kata Tate.

Khusus untuk keluarga yang ditinggali Fitri, bahkan sempat menangis saat acara perpisahan. Keluarga Miyama tak kuasa menahan haru saat melepas kepergian Fitri kembali ke Tanah Air.

"Fitri sudah kami anggap sebagai anak kami sendiri," ujar Miyama sambil menangis.

Selain homestay, program ini juga diisi dengan sejumlah aktivitas lain. Di antaranya pembacaan deklarasi mahasiswa ASEAN, lalu pertukaran budaya, dan mengajar di sekolah-sekolah Jepang.

Menurut Wali Kota Sakai, Osami Takayema, kegiatan ini penting untuk mempererat hubungan negara-negara di ASEAN khususnya yang memiliki hubungan sejarah dengan Sakai. "Karena itu, program ini harus terus berjalan," ucapnya.


sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar