Featured Video

Selasa, 23 Oktober 2012

Islam Kian Mekar di Vietnam


Islam Kian Mekar di Vietnam (1)
Masjid Al-Ihsan di An Giang, Vietnam.
 Hidup sebagai Muslim di negara komunis seperti Vietnam ternyata bukanlah hal sulit. Islam mampu berkembang pesat di negara ini. 


Populasi umat Islam di Vietnam kini mencapai 70.700 ribu jiwa dan terdapat 100 masjid di beberapa bagian negeri tersebut.

Konon, Islam masuk ke Vietnam sejak kekhalifahan Utsman bin Affan. Dikisahkan, kekhalifahan ini mengirim utusan resminya pertama kali ke Vietnam dan Cina pada 650. 

Ada pula yang mengisahkan bahwa Islam sampai ke negara yang beribu kota di Hanoi itu karena dibawa oleh pedagang Muslim dari Arab, India, Persia, ataupun Asia Tenggara, terutama Malaysia pada sekitar abad ke-10.

Para pedagang tersebut akan berhenti untuk beristirahat dan berdagang di Vietnam yang saat itu masih dikuasai Kerajaan Champa sebelum mereka melanjutkan perjalanan ke Cina. Sisa-sisa kerajaan itu masih ada di bagian tengah dan selatan Vietnam. Masyarakat dari kerajaan itu sering disebut sebagai orang-orang Cham.

Dahulu, masyarakat Cham adalah penganut agama Hindu dan telah menguasai bagian tengah dan selatan Vietnam selama ratusan tahun. Seiring waktu, mereka memeluk agama Islam. Pada akhir abad ke-15, Kerajaan Champa tergusur ke arah selatan dan lama-lama pengaruhnya semakin hilang. Saat ini, sekitar 80 persen masyarakat Cham sudah menjadi Muslim.

Jumlah penganut Islam meningkat ketika sultan Malaka memperluas kekuasannya pada 1471 setelah Kerajaan Champa hancur. Namun, Islam tidak menyebar luas di antara penduduk Vietnam sampai pertengahan abad ke-17. Sementara itu, pada pertengahan abad ke-19, banyak Muslim Champa di Vietnam yang ber imigrasi ke Kamboja dan menetap di wilayah delta Sungai Mekong.
Kemudian, pada abad ke-20, Malaysia memberikan pengaruh yang besar kepada Muslim Vietnam. Literatur keagamaan semakin banyak yang diimpor dari Malaysia. 

Bahkan, sejumlah ulama didatangkan dari Malaysia. Mereka memberikan khotbah di masjid-masjid dengan bahasa Melayu. 

Pada saat yang sama, semakin banyak pula warga Muslim Vietnam yang pergi ke Malaysia untuk belajar Islam.

Setelah berdirinya Republik Sosialis Vietnam pada 1976, 55 ribu Muslim Vietnam berimigrasi ke Malaysia. Sebanyak 1.750 Muslim juga diterima sebagai imigran oleh Pemerintah Yaman dan tinggal di Ta’izz. 

Namun, masih ada sejumlah Muslim yang tetap tinggal di Vietnam meski mereka berada dalam tekanan. Seperti dilaporkan para penulis pada masa itu, sejumlah masjid ditutup oleh pemerintah sosialis.

Pada 1985, komunitas Muslim Vietnam, khususnya di Ho Chi Minh City, mulai terdiversifikasi. Mereka tidak hanya orang asli Vietnam, tapi juga berasal dari sejumlah negara, seperti Indonesia, Malaysia, Pakistan, Yaman, Oman, dan Afrika Utara. 

Jumlah mereka sekitar 10 ribu orang saat ini. Menurut kantor berita AFP, pada 2010, jumlah penduduk Muslim di daerah tersebut sekitar 1.300 jiwa. Namun, menurut laman religiouspopulation. com, jumlah umat Islam di Kota Ho Chi Minh mencapai 5.000 orang. 

Secara umum, total populasi Muslim, terutama dari komunitas Cham, di negara yang berpenduduk 86 juta orang itu sekitar 100 ribu orang. Namun, menurut hasil survei yang dilakukan The Pew Research Center pada Oktober 2009, jumlah umat Islam di Vietnam mencapai 71.200 jiwa. Angka itu naik dibandingkan data hasil sensus pada 1999 yang hanya 63.146 jiwa.

Sekitar 77 persen umat Islam di Vietnam menetap di wilayah tenggara, yakni 34 persen di Provinsi Ninh Thuan, 24 persen di Provinsi Binh Thuan, dan sebanyak 9,0 persen di Kota Ho Chi Minh. Sekitar 22 persen menetap di wilayah Delta Sungai Mekong, khususnya di Provinsi An Giang Province. Sisanya, sekitar 1,0 persen Muslim tersebar di wilayah-wilayah lainnya di negeri itu.
 Terdapat dua mazhab besar umat Islam di Vietnam, yaitu Mazhab Sunni dan Mazhab Bani. 

Mazhab Sunni tersebar hampir di seluruh penjuru negara. Sedangkan, Mazhab Bani banyak berkembang di daerah Ninh Thuan dan Binh Thuan. 

Mazhab ini tidak banyak dikenal oleh umat Islam di dunia, salah satunya karena dinilai banyak bertentangan dengan ajaran Islam yang benar. 

Belajar Islam dan Makanan Halal

Sebagai kelompok minoritas di Vietnam, kaum Muslim memilih untuk tidak terlalu menonjol. “Kami hanya mengamalkan dan menjalankan ajaran agama Islam. Kami tak peduli dengan urusan berbau politik,” ujar Haji Mousa (52), pengelola sebuah madrasah, seperti dikutip laman muslimvillage.com.

Mousa fasih berbahasa Melayu dan mengenal bahasa Arab. Menurut Mousa, imam-imam yang tampil sebagai pemimpin umat Islam lebih banyak belajar di Vietnam. Beberapa imam dari luar negeri, terutama dari Malaysia, juga sering datang ke negaranya.

Kini, di negara itu juga sudah ada Alquran dengan terjemahan bahasa Vietnam. Sementara, jumlah masjid di seluruh penjuru Vietnam mencapai sekitar 100 buah. Sekitar 16 masjid di antaranya terdapat di Kota Ho Chi Minh. 

Kebanyakan dari masjid tersebut didanai oleh negara-negara Muslim. Salah satunya, yaitu Masjid Jamiul Anwar, yang dibangun pada 2006. Masjid itu didanai oleh Uni Emirat Arab dan Palang Merah.
Meski mendapatkan dukungan dari Timur Tengah, hubungan erat umat Islam di Vietnam justru lebih terjalin dengan Malaysia dan Indonesia. 

Hal ini karena mereka merasa lebih dekat secara kultural. Hubungan erat itu dimulai sekitar 20 tahun lalu saat Vietnam secara bertahap membuka diri secara ekonomi. 

Seorang Muslim bernama Hachot mengaku dirinya tak merasa menjadi bagian dari masyarakat Vietnam yang lebih luas meskipun pemerintah telah membantu membangun kembali rumahnya beberapa tahun lalu. 

Menurut dia, sikap kelompok mayoritas, yakni etnis Kinh terhadap umat Islam yang beretnis Champ, amat beragam. “Beberapa Kinh mengatakan Champ kotor karena keberatan dengan sikap Muslim yang mengharamkan daging babi,” katanya.

Pada masa-masa awal kemunculan Islam, makanan halal memang sulit ditemukan di Vietnam. Namun, kini seiring meningkatnya jumlah penduduk dan turis Muslim yang kebanyakan dari Singapura, Indonesia, dan Malaysia, banyak restoran halal yang dibuka di Hanoi dan Ho Chi Minh City. 

Bahkan, ada website khusus yang dibuat untuk menyediakan informasi tentang semua restoran halal yang ada di Vietnam, yaitu gohalalplanet-vietnam. com. Mereka juga menawarkan produk halal ke seluruh negara tersebut.

Website ini bisa membantu mempromosikan tur halal di wilayah tersebut. Selain itu, sekarang ser tifikasi halal diberlakukan ketat di negeri ini. Negeri yang perekonomiannya mulai menggeliat ini mulai menyasar ekspor ke negara-negara mayoritas Muslim. 

Mohammed Omar, auditor utama Badan Sertifikasi Halal Vietnam (Viet Nam HCA), mengatakan pasar halal global memiliki nilai sebesar 2,77 triliun dolar AS. “Sertifikasi halal adalah skema global untuk produk atau jasa. Ini adalah proses independen untuk memverifikasi bahan halal dan haram, serta kondisi kemurnian diperlukan un tuk memenuhi standar Alquran dan syariah,” ujar Omar.

sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar