Featured Video

Sabtu, 29 Desember 2012

Singapura, Negara dengan Penduduk Paling Sedih di Dunia


SURVEI yang digelar situs Gallup.com memperlihatkan bahwa negra-negara di Amerika Latin terutama Panama didiami orang-orang yang paling bahagia. Lalu, di manakah penduduk yang paling tidak bahagia di dunia ini? Ternyata tak jauh-jauh, yakni negeri jiran Singapura. 


Ya, Singapura yang dikenal dengan kedispilinannya itu ternyata memiliki kadar kebahagiaan paling sidikit di muka bumi ini. Apa penyebabnya? Orang-orang yang paling sedikit melaporkan emosi positif tinggal di Singapura, wilayah kaya dan tertib sekaligus ternasuk negara yang paling berkembang di dunia. 

Padahal, Singapura melampaui Panama soal Indeks Pembangunan Manusia, tetapi berada sebaliknya pada daftar kebahagiaan. 

Richard Low, seorang pengusaha berusia 33 tahun di Singapura mengaku, ''Kami bekerja seperti anjing dan dibayar dengan kacang. Hampir tidak ada waktu untuk liburan atau hanya untuk bersantai pada umumnya karena Anda harus selalu berpikir ke depan. Hampir tidak ada rasa keseimbangan hidup dan kerja di sini.'' 

Tak hanya itu, negara-negara kaya lainnya secara mengejutkan juga memiliki kadar kebahagiaan yang rendah pada daftar tersebut. Jerman dan Prancis berada tak jauh negara miskin si Afrika, Somalia, di peringkat ke-47. 

Jajak pendapat itu menunjukkan bahwa negara-negara makmur belum tentu memiliki penduduk yang bahagia. Sebaliknya, negara miskin juga belum tentu didiami orang-orang yang merasa menderita. 

Hal ini pun tak pelak menjadi paradoks dengan implikasi serius bagi bidang yang relatif baru dan kontroversial yang disebut dengan ekonomi kebahagiaan yang bertujuan untuk memperbaiki kinerja pemerintah dengan menambahkan persepsi orang tentang kepuasan mereka terhadap metrik tradisional seperti harapan hidup, pendapatan per kapita, dan tingkat kelulusan. 

Selain Singapura, negara lain yang juga berpenduduk kurang bahagia yakni Georgia dan Lithuania. ''Merasa sedih adalah bagian dari mentalitas nasional di sini,'' kata Agaron Adibekian, seorang sosiolog di ibukota Armenia, Yerevan. 

''Armenia seakan memang merupakan negara dengan kesedihan, ada begitu banyak pergolakan dalam sejarah bangsa ini. Orang-orang Amerika mungkin masih tetap bisa senyum guna menghindari berbagai masalah. Tapi, orang Armenia justru merasa malu bila dikatakan sukses.'' 


s

Tidak ada komentar:

Posting Komentar