Featured Video

Kamis, 18 Juli 2013

Malin Kundang, Antara Penasaran dan Kecewa



PADANG – Legenda Batu Malin Kundang sungguh tersohor ke seluruh penjuru negeri. Banyak orang di dalam maupun luar Sumbar penasaran ingin melihat batu yang menurut legenda itu adalah jelmaan anak durhaka.

Tapi, saat sampai di Pantai Air Manis, boleh jadi mereka yang penasaran itu akan menelan kecewa. Di sana sampah alangkah banyaknya. Pemandangan pasir yang terhampar dan pemandangan laut biru yang harusnya indah, tercemar habis-habisan. Alhasil, pantai air manis dan legenda malin kundang ibarat permata yang dibiarkan hilang kilaunya karena sampah. 
Di sana sampahnya bukan hanya bekas bungkus makanan dan minuman saja. Daun-daun kering hingga pelepah daun kelapa menumpuk sepanjang pantai. Sampah-sampah itu bertumpuk, menyatu dengan pasir di sepanjang pantai. Seolah sampah dibiarkan saja menggeletak berbulan-bulan, lalu bercampur baur ke dalam pasir.
Melihat pemandangan pan tai yang penuh sampah, wisatawan mana yang tak kecewa. Niatnya pergi berlibur menyaksikan peninggalan legenda Batu Malin Kundang dan laut biru, ujung-ujungnya pemandangan tertampuk pada tumpukan sampah di sepanjang mata meman-dang.
“Aduh, sayang sekali ya. Di sini sampahnya banyak sekali. Padahal kalau dibersihkan indah sekali,” ujar seorang pengunjung, Sabri, Rabu (17/7). Sabri ini asal Jawa Tengah. Ia suka menjelajahi pantai-pantai di seluruh negeri. Berbekal alat pancing ia ingin menikmati pemandangan Pantai Air Manis sambil memancing.
Seorang pedagang di sana, Rudi juga amat kesal melihat sampah yang bertumpuk-tumpuk itu. Terkadang Rudi ikut pula membersihkan sampah di sekitar lapak tempat ia menjual makanan untuk pengunjung. Tapi lama-lama ia lelah pula. Dagangannya pun harus diurus. Alhasil, ia hanya membersihkan sampah sisa dagangannya saja.
“Saya dan beberapa pedagang lain dari dulu sudah sering lapor pada pengurus pantai ini. Minta ada petugas kebersihan. Tapi keadaan tak juga berubah. Kami tak didengar,” ujarnya kesal.
Kata dia, sekarang hanya ada dua petugas dari pemerintahan di pantai itu. Mereka hanya membersihkan petak sekitar posisi batu malin kundang saja. Rudi maklum saja, tenaga dua orang manalah cukup membersihkan sampah yang telah bertumpuk berbulan-bulan. Sampahnya ada yang besar-besar, sudah menyatu pula dengan pasir pantai.
Di UPTD Pantai Air Manis pun, sesuai pantauan Singgalang tak terlihat ada petugas penjaga. Kantor UPTD terkunci, dari luar ruangannya terlihat kosong dan berdebu. Di bagian teras apalagi, amatlah kotor seolah memang telah lama tak dikunjungi apalagi dihuni.
Seperti pengunjung lain, Sabri boleh jadi kecewa. Tapi ia tak menampik pantai kepunyaan Sumbar itu alangkah indahnya. Jika matahari sudah naik tinggi dan cuaca cerah, lautnya biru berkilau.
Tak ingin kunjungannya terbuang kecewa, Sabri mencoba menikmati saja perjalannya ke Pantai Air Manis. Ia menyeberang ke Pulau Pisang. Pulau kecil tak jauh di seberang Pantai Air Manis. Ia menyeberang dengan berjalan kaki dengan tinggi air laut yang sudah menyurut hingga selutut. Sesampai di Pulau Pisang kekecewaannya terobati.
“Wah, di sini jauh lebih bersih. Pemandangannya indah sekali…. Wah!” ujarnya tak bisa menyembunyikan ketakjuban melihat pemandangan yang indah. Tak lama kemudian ia larut dengan pancing dan pandangan laut biru.
Pantai Air Manis dan Pulau Pisang ini, kata dia, indah sekali. Saat cuaca cerah, airnya bak permata biru berkilauan.
“Coba tak ada sampahnya, pasti banyak orang yang ketagihan pergi ke sini,” ujarnya datar. 

s

Tidak ada komentar:

Posting Komentar