Featured Video

Selasa, 03 Maret 2015

KREATIVITAS TANPA BATAS PENGHUNI LAPAS



Tangan Piter begitu te­ram­pil meraut tempurung kelapa hingga menjadi sebuah ikat (ring) untuk batu akik. Ma­tanya juga liar menggiliri detail sisi demi sisi kerajinan seni yang ia cintai. Saat menjalani masa-masa pembinaan di da­lam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas), Piter mengisi harinya dengan berkreasi tanpa batas.

Haluan bertemu Piter di Lapas Klas IIA Muaro Padang, di sela-sela pelatihan pem­buatan bata ringan yang diikuti 20 warga binaan pema­syara­katan (WBP) Lapas. Piter tidak ikut serta dalam latihan terse­but karena sudah punya keah­lian sendiri yang menga­gum­kan, membuat ikat dari tem­purung.
“Saya sudah membuat kera­jinan ini sejak 2013 yang lalu, waktu itu saya masih di Lapas Sijunjung. Sempat pindah ke Lapas Bukittinggi dan sekarang di sini, saya tetap sibuk mem­buat ikek dari bahan tem­purung. Awalnya saya mem­pelajarinya dari seorang teman sesama WBP di Lapas Sijun­jung,” ucap Piter mengenang masa lalunya.
Membuat ikat cincin dari tempurung kelapa memang masih terdengar asing di te­linga. Tapi ketika batu akik sedang booming dan digilai seperti sekarang, hasil kera­jinan yang diciptakan Piter layak dianggap berpotensi menjadi salah satu usaha kreatif nan menjanjikan. Apalagi, ikat yang ia buat tak kalah indah dibanding ikat yang terbuat dari bahan yang sudah lumrah seperti besi putih, titanium, perak bali dan perak.
“Untuk membuatnya, saya bu­tuh tempurung kelapa tua, gulungan kecil tembaga untuk penghias, arang tem­purung dan amplas (kertas pasir) untuk mengilatkan serta beberapa pelatan sederhana. Se­dang­kan untuk ukiran pada ikek, saya mengandalkan perasaan dan kata hati saja untuk mengukir suatu mo­tif yang saya anggap indah,” terang Piter.
Piter mangaku, kebanyakan hasil ikat cincin yang dibuatnya meru­pakan pesanan teman-temannya sesama WBP di Lapas Muaro. Sedangkan mengenai upah jasa, satu ikat dijualnya seharga Rp50 ribu dengan permintaan model sesuai dengan selera pemesan.
“Dalam sehari saya hanya mam­pu menyelesaikan 2 pesanan, berarti pemasukan saya dalam sehari ku­rang lebih Rp100 ribu. Sistem pembayaran dari teman-teman yang memesan bisa tunai dan cicilan. Tapi, karena sesama penghuni lapas tentu tidak selalu punya uang, ada yang mencicilnya Rp10 ribu hingga 30 ribu per bulan. Saya tidak mem­permasalahkannya,” ucap Piter sambil tersenyum.
Pihak pengelola Lapas mengaku terkesan dengan keahlian yang dimiliki Piter, Kepala Lapas (Kal­a­pas) Klas IIA Muaro Padang Destri Syam begitu antusias ketika mende­monstrasikan hasil kerajinan ikek tempurung buatan Piter di hadapan para wartawan.
“Ikat yang dijual di pasaran, itu sudah barang biasa. Ini ikat yang luar biasa, nilai seninya tinggi dan diker­jakan dengan tangan dari awal hingga ta­hap finishing. Hasilnya bisa lihat sendiri, luar biasa,” ucap Destri Syam.
Kalapas juga mengatakan, Ikat tempurung karya Lapas Muaro pernah dipajang di etalase salah satu toko perhiasan di Jakarta, dan mendapat komentar cukup baik dari pengunjung toko tersebut.
“Sejauh ini memang baru saya saja yang membuat ikat tempurung di Lapas ini, teman-teman ada yang sedang belajar, tapi belum bisa. Kalau banyak yang bisa tentu bagus juga dipasarkan sampai ke luar lapas karena termasuk unik,” harap Piter.
Sebagai WBP, Piter mengaku masih bisa menjalani hidup dengan normal meskipun tidak bisa berin­teraksi langsung dengan dunia luar. Masa-masa yang dilewati di dalam Lapas dianggapnya sebagai waktu untuk menebus segala kesalahan yang dilakukan pada masa lalu. Apalagi, ia disibukkan dengan kegiatan membuat ikat tempurung di Lapas, ia merasa senang dengan aktivitasnya itu.
“Namanya saja kita ditahan atas kesalahan, tentu akan sangat tertekan batin jika tak berpandai-pandai mengisi waktu. Sejauh ini kehidupan saya di Lapas cukup baik dengan aktifitas yang saya jalani saat ini. Dari pagi hingga sore saya asik meraut dan mengukir tempurung, lalu mere­katkan gulungan kecil tembaga sebagai pelengkap hiasan. Pihak lapas juga senang saya berak­tifitas positif seperti ini,” tambahnya lagi.
Sejak 2013 Piter membuat ikek cincin dari tempurung, hingga 2018 nanti mungkin Piter tetap setia melakukan hal yang sama. Karena hingga 2018 Piter harus bersabar menjalani masa pembinaan di Lapas. Meskipun masih tiga tahun lagi, ia mengaku biasa-biasa saja dan tak sekalipun mengutuk diri.
“Bagaimanapun, kewajiban ha­rus dijalani. Meskipun saya jarang dikun­jungi keluarga, saya tetap bisa me­menuhi kebutuhan sehari-hari di Lapas dengan membuat ikek cincin ini. Bagi saya keahlian ini meru­pakan karunia Tuhan yang patut disukuri,” kata Piter kembali tersenyum.
Piter yang berasal dari Solok itu mengaku belum menikah. Di kam­pung halaman, hanya adiknya yang masih tersisa dari keluarga, itupun sudah berkeluarga dan mempunyai tanggungan hidup. Hal itu membuat Piter maklum dan rela karena jarang mendapat kunjungan keluarga.
“Nanti setelah keluar dari Lapas, saya mungkin akan mengembangkan usaha saya ini. Karena setahu saya tak banyak orang yang membuat ikek dari tempurung. Kalaupun ada, saya yakin orang itu juga mantan WBP. Dan saya hanya berdoa, se­moga hingga nanti keluar dari Lapas, batu akik masih digilai banyak orang, agar kerajinan ikek cincin dari tempurung ini tetap bisa saya andal­kan untuk mencari makan,” tutup Piter. ***H