Featured Video

Minggu, 12 April 2015

16 Politisi dan Relawan Jokowi Jadi Komisaris, Bahaya Menanti BUMN


Presiden Joko Widodo bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla saat membahas sistem transportasi massal di kantor presiden, Rabu (25/2/2015).

Lima bulan sudah pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla berjalan. Selama roda pemerintahan ini berjalan, kontroversi pun menyeruak seputar penunjukkan komisaris Badan Usaha Milik Negara (BUMN).


Pengamat BUMN Said Didu mempertanyakan pola rekrutmen yang dilakukan dalam seleksi komisaris BUMN saat ini. Pasalnya, komisaris yang ditunjuk kebanyakan terafiliasi partai pendukung hingga memiliki hubungan dengan lingkar Istana.

"Saya tidak tahu bagaimana kapasitas yang lain, tetapi sebagai contoh Sukardi Rinakit menolak jabatan komisaris BTN karena merasa tidak punya kemampuan di bidang perbankan. Selama ini, dia dikenal sebagai pengamat politik. Artinya kan bagaimana memilih orang-orang itu," ujar Said saat berbincang dengan Kompas.com, beberapa waktu lalu.

Mantan Sekretaris Menteri BUMN itu mengungkapkan, penunjukkan orang-orang dekat lingkar kekuasaan menjadi komisaris tidak baik bagi pasar. Hal ini menimbulkan kesan ada jalur khusus yang digunakan oleh pihak-pihak tertentu di luar jalur profesional.

"Ketidakwajaran ini bisa berdampak merugikan BUMN yang seharusnya menerapkan prinsip profesional dan good corporate. Tentu ini akan berakibat pada penilaian pasar," imbuh dia.

Bahayanya lagi, sebut Said, apabila orang yang ditunjuk sebagai komisaris ternyata tak memiliki kemampuan di bidang BUMN yang diawasinya. Sebagai komisaris, ujar Said, seseorang bertanggung jawab melakukan pengawasan dan memberikan arahan strategis untuk mengembangkan BUMN.

"Pengalaman saya komisaris yang tidak punya kompetensi bahayanya apabila masuk ke dalam maka ada tiga kemungkinan yang terjadi yaitu dia jadi komisaris diam menikmati gaji tapi tidak melakukan apa-apa, lalu ikut cawe-cawe dalam pengambilan keputusan direksi sebagai intervensi, dan memberikan usulan yang aneh karena dia tidak paham apa-apa," ujar dia.

Semenjak Jokowi-JK dilantik sebagai presiden dan wakil presiden, setidaknya sudah ada 16 orang yang menjadi komisaris perusahaan pelat merah. Mereka yang ditunjuk ini terafiliasi dengan partai pendukung atau pun kelompok relawan pendukung Jokowi-Jusuf Kalla. Siapa saja mereka? Berikut daftarnya:
1. Imam Sugema.
Imam menjadi Komisaris Utama PGN. Dia merupakan ekonom dari Institut Pertanian Bogor yang menjadi salah satu tim ekonomi Jokowi-JK dalam penyusunan visi dan misi ekonomi pemerintahan saat ini. Imam meraih gelar doktor di bidang ekonomi di Australia National University pada tahun 2000. Setelah itu, dia aktif menjadi peneliti di kampus yang sama sekaligus menjadi pengajar di IPB. Imam sempat pula menjadi penasihat teknis Menteri Perdagangan, staf ahli Badan Pemeriksa Keuangan, dan menjadi ekonom senior di UNDP. Imam aktif juga di Megawati Institute sebagai peneliti.

2. Paiman Rahardjo
Paiman mendapat posisi sebagai Komisaris PGN. Sebelum mendapat posisi itu, Paiman merupakan Sekretaris Jenderal Rumah Koalisi Indonesia Hebat pada pemilihan presiden 2014.

3. Diaz Hendropriyono
Diaz adalah salah satu pendukung utama Jokowi. Alumni PhD di Pusat Publik Administrasi dan Kebijakan di Universitas Teknologi Virginia, Amerika Serikat, itu mengerahkan anak muda dan public figure dalam gerakan Kawan Jokowi yang dibuatnya. Setelah Jokowi menjabat sebagai presiden, nama Diaz termasuk yang paling awal ditunjuk sebagai Komisaris Utama Telkomsel. Diaz juga merupakan anak dari mantan Kepala Badan Intelijen Negara AM Hendropriyono.

4. Cahya Dewi Rembulan Sinaga.
Dia selama ini dikenal sebagai relawan Jokowi-JK yang tergabung di Tim Transisi Jokowi-JK. Cahaya menjabat sebagai komisaris independen Bank Mandiri. Pada Pemilihan Umum 2009, Cahaya pernah mencalonkan diri menjadi anggota DPR dari partai PDI-P untuk daerah pemilihan Kalimantan Tengah. Namun, dia gagal meraih kursi. Lulusan Magister Hukum Universitas Trisakti ini adalah pendiri PT Radio MS TRI 104,2. Cahaya juga tercatat aktif di Universitas Trisakti sebagai Kepala UPT Multimedia sejak 2007.

5. Pataniari Siahaan
Pataniari Siahaan sebagai komisaris independen BNI. Nama Pataniari Siahaan diketahui merupakan tim ahli dari dari Tim Sukses Pemenangan Jokowi-JK di Pilpres 2014 lalu. Pataniari adalah mantan anggota DPR dari fraksi PDI-P yang menjadi dosen Fakultas Hukum di Universitas Trisakti. Pada pemilu 2014, dia kembali menjadi calon legislatif pada 2014, sayangnya tidak terpilih.

6. Darmin Nasution
Darmin Nasution adalah mantan Gubernur Bank Indonesia. Dia ditunjuk sebagai Komisaris Utama Bank Mandiri. Nama Darmin sempat banyak diusulkan relawan Jokowi untuk menjadi calon Menteri Keuangan saat pembentukan kabinet. Namun, Jokowi akhirnya menunjuk mantan wakil menteri keuangan Bambang Brodjonegoro. Darmin mengambil gelar sarjana di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan selanjutnya meneruskan studi master dan doktornya di Paris-Sorbonne University. Pria kelahiran Tapanuli, Sumatera Utara itu pernah menjadi Direktur Jenderal Pajak, Deputi Gubernur Senior BI, dan Kepala Bapepam.

7. Sonny Keraf
Sony diketahui masuk menjadi kader PDIP pada 1999. Sonny pernah menjabat sebagai Pengurus Badan Penelitian dan Pengembangan PDIP pada 1999-2000. Mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup era pemerintahan Gus Dur ini pernah menjadi Pengurus Badan Pendidikan dan Pelatihan Pusat PDIP sejak 2001. Selain itu, dosen filsafat di Unika Atmajaya ini juga pernah menjadi Wakil Ketua Komisi VII DPR dari Fraksi PDIP pada 2004-2009. Kali ini, Sonny ditunjuk sebagai Komisaris BRI.

8. Refly Harun
Refly adalah seorang ahli hukum tata negara dan pengamat politik Indonesia. Ia pernah ditunjuk oleh Mahfud MD sebagai Ketua Tim Anti Mafia Mahkamah Konstitusi setelah ia mensinyalir adanya mafia hukum di Mahkamah Konstitusi. Sebelumnya Refly aktif sebagai staf ahli salah seorang hakim konstitusi dan juga pernah sebagai konsultan dan peneliti di Centre of Electoral Reform (CETRO). Refly meraih gelar sarjana (S1) dari Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) pada tahun 1995. Refly menyatakan mundur dari posisinya sebagai staf khusus Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) setelah ditunjuk sebagai Komisaris Utama Jasa Marga. Pada masa pemilihan presiden lalu, Refly juga diketahui salah satu pendukung belakang layar Jokowi.

9. Roy E Maningkas
Roy E Maningkas adalah kader PDI-P yang ditunjuk sebagai Komisaris PT Krakatau Steel. Selama pelaksanaan pemilihan presiden lalu, Roy dikenal sebagai anggota Tim Pokja Rumah Transisi Jokowi dan juga petinggi Barisan Relawan Jokowi Presiden.

10. Hilmar Farid
Hilmar Farid adalah Ketua Panitia Simposium Seknas Jokowi. Bersama rekan-rekan lain dia menyusun konsep "Jalan Kemandirian Bangsa” yang bertujuan merumuskan semacam “GBHN” bagi pemerintahan Joko Widodo. Dia juga sudah mendukung Jokowi sejak pemilihan gubernur DKI Jakarta tahun 2012 dengan mendirikan Relawan Penggerak Jakarta Baru (RPJB). Hilmar selama ini dikenal sebagai budayawan dan sejarawan. Dia kuliah S1 di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada 1993. Ia meraih gelar doktor di bidang kajian budaya di National University of Singapore  pada Mei 2014 dengan disertasi berjudul Rewriting the Nation: Pramoedya and the Politics of Decolonization yang akan segera terbit dalam bentuk buku. Setelah itu, ia mengajar di Institut Kesenian Jakarta dari 1995-1999. Sebagai sejarawan dan pengkaji kebudayaan, ia aktif di Asian Regional Exchange for New Alternatives (ARENA) dan di Inter- Asia Cultural Studies Society sebagai editor. Tulisannya tentang sejarah, seni, kebudayaan, film, politik, buruh, dst. tersebar di berbagai terbitan jurnal, majalah, koran dan buku. Meski banyak bergular di bidang budaya, Hilmar akhirnya ditunjuk sebagai Komisaris PT Krakatau Steel.

11. Rizal Ramli
Rizal Ramli adalah seorang ahli ekonomi dan politisi Indonesia. Ia pernah menjabat Menteri Koordinator bidang Perekonomian dan Menteri Keuangan pada Kabinet Persatuan Nasional dimasa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Meski bergulat dengan dunia ekonomi, Rizal sempat menikmati bangku kuliah di jurusan Teknik Fisika - Institut Teknologi Bandung, tetapi akhirnya mendapatkan gelar doktor ekonomi dari Boston University pada tahun 1990. Rizal merupakan salah satu ekonom yang cukup "pedas" mengkritik Jokowi. Namun demikian, namanya sempat diusulkan maju sebagai calon wakil presiden dan salah satu menteri bidang ekonomi pada pemerintahan Jokowi. Kini, dia ditunjuk sebagai Komisaris Utama Bank BNI

12. Hendri Saparini
Hendri Saparini adalah seorang tokoh perempuan Indonesia dalam bidang ekonomi. Ia dikenal karena menjadi peneliti dan konsultan di beberapa lembaga internasonal, salah satunya sebagai managing director ECONIT Advisory Group Hendri merupakan Alumni Fakultas Ekonomi UGM Tahun 1988 dan memperoleh gelar Master dan Doktor dari International Political Economy-Universitas Tsukuba, Jepang. Pernah menjabat sebagai Staf Ahli Menteri pada Menteri Koperasi dan UKM/Kepala Badan Pengembangan UKM RI pada tahun 2001-2002. Selama pelaksanaan pemilihan presiden lalu, Hendri aktif memberi masukan kepada tim transisi. Dia sempat pula diusulkan menjadi Menteri Koordinator Perekonomian hingga Menteri BUMN meski Jokowi akhirnya memilih nama lain.

13. Hironimus Hilapok
Hironimus Hilapok adalah salah satu anggota Pokja Papua di Tim Sukses (Timses) Transisi Jokowi-JK Hironimus Hilapok yang didapuk menjadi komisaris PT Adhi Karya. Hironimus mengenyam pendidikan master bidang ilmu politik dan pemerintahan di Universitas Indonesia.

14. Goei Siauw Hong
Goei Siauw Hong kini ditunjuk sebagai Komisaris Bank Mandiri. Selama ini, Goei dikenal sebagai pengamat perbankan dan pasar modal. Dia juga merupakan seorang pengusaha pemilik perusahaan Gapura Prima Sehati. Pria peraih gelar MBA di Indiana University-Kelley School of Business itu dikabarkan memiliki kedekatan dengan Kepala Staf Kepresidenan Luhut Binsr Panjaitan

15. Jeffry Wurangian
Jeffry Wurangian adalah calon anggota legislatif pada pemilu 2014 lalu dari Partai Nasdem. Namun, upaya Jeffry merenggang ke Senayan gagal karena Nasdem tak mendapat satu kursi pun di daerah pemilihan Jawa Timur V. Saat ini, dia ditunjuk sebagai Komisaris BRI. Meski baru ditunjuk sebagai Komisaris BRI, Jeffry dikabarkan akan diajukan Partai Nasdem sebagai calon Gubernur Sulawesi Utara untuk pilkada serentak tahun 2015 ini. Jeffery pernah pula menjadi Direktur Utama Bank Sulut dan pernah berkarir di Bank Danamon dan HSBC.

16. Dolfie Othniel Fredric Palit
Dolfie O.F.P merupakan mantan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) periode 2009-2014. Selama menjadi politisi Senayan, Dolfie masuk sebagai Anggota Komisi XI DPR dan Badan Anggaran DPR. Lepas dari Senayan, Dolfie aktif sebagai anggota Tim Transisi Joko Widodo-Jusuf Kalla pada masa kampanye Pemilu 2014.

Di luar ke-16 nama itu, ada pula Direktur Eksekutif Soegeng Sarjadi Syndicate Sukardi Rinakit yang juga dikenal sebagai pengamat politik. Sukardi ditunjuk sebagai Komisaris BTN, namun dia menolak karena merasa tidak memiliki kemampuan di bidang perbankan. Dia pun lebih memilih menjadi staf khusus Menteri Sekretaris Negara bidang politik dan pers.k