Featured Video

Minggu, 10 Juli 2011

Jadi Simalakama, Nazar Menghilang Diskenariokan


M. Rizal,Deden Gunawan - detikNews

LAPOJadi Simalakama, Nazar Menghilang Diskenariokan 


Jakarta - Setelah dikabarkan menghilang dari Singapura, Nazaruddin mengaku ia diancam akan dibunuh karena membuka aib Partai Demokrat (PD). Tapi pengakuan Nazar ini ramai-ramai disangkal oleh elit partai berlambang Mercy biru itu. 

"Siapa bilang ada upaya pembunuhan itu. Itu berita dari mana?" kata anggota Komisi III FPD DPR RI, Didi Irawadi Syamsuddin kepada detikcom.

Ketua Biro Investigasi dan Analisi Departemen Pemberantasan Korupsi dan Mafia Hukum DPP PD, Patra M Zen juga membantah adanya upaya pembunuhan secara fisik maupun karakter terhadap Nazar. 

"Ya kalau dia merasa terancam jiwanya kenapa tidak minta perlindungan ke Polri dan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) saja. Dan dia membuka ini semua ke KPK," ujar Patra kepada detikcom.

Ditegaskan, PD tidak ada niatan untuk membungkam Nazar. Presiden SBY dan PD sangat serius ingin Nazar segera pulang. Bahkan, SBY telah memerintahkan kepada Kapolri Jenderal Pol Timor Pradopo untuk menangkapnya beberapa waktu lalu. 

"Saya pikir Polri dan KPK harus bekerja keras dan meminta bantuan Interpol untuk bisa menangkapnya di mana pun diduga, di negara di mana ada Nazarudin. Untuk di dalam negeri bagaimana dilakukan penyitaan dan pembekuan aset milik Nazar," ungkap Patra.

Wasekjen PD Saan Mustofa yakin Nazar bisa dipulangkan. Sebab sudah ada presedent sebelumnya. Menkum HAM Andi Mattalatta pernah berhasil memaksa pulang seorang koruptor David Nusa Wijaya. Untuk itu Saan meminta kepada seluruh pihak-pihak yang terkait seperti Kepolisian RI, Kejaksaan Agung, KPK maupun Kemenkum HAM untuk berkoordinasi memulangkan Nazaruddin.

Boleh saja PD berkilah dan memberikan setumpuk argumen bila serius akan menyerahkan Nazar ke KPK. Namun semua dinilai sejumlah kalangan hanya manis di bibir saja. Semua hanya basa-basi dan kepura-puraan sebab tidak ada aksi nyata. 

Awal Juni 2011 lalu, Demokrat membentuk tim untuk menemui Nazar di Singapura. Jika memiliki itikad baik dalam penuntasan kasus Nazar, seharusnya mereka segera memberitahu KPK alamat sementara Nazar."KPK kan bukan orang bodoh, tentu bisa melacak," kritik peneliti Pusat Kajian Antikorupsi (Pukat) UGM Hifdzil Alim.

Saran PD agar Nazar minta perlindungan ke LPSK juga bakal mentok. Ketua LPSK Abdul Haris Semendawai mengatakan, pihaknya tidak dapat melindungi orang yang sudah berstatus tersangka. LPSK baru bisa memberi perlindungan bila status orang itu masih saksi atau pelapor. "Ada instansi lain yang lebih tepat untuk melindunginya," kata Abdul Haris.

PD semakin mengesankan hanya bersandiwara ingin memulangkan Nazar terlebih akhir-akhir ini malah meralat pernyataan dan mengaku tidak tahu menahu di mana keberadaan mantan bendahara umumnya itu. "Apalagi belakangan mereka menyebut yang ke Singapura itu bukan tim penjemput," cetus Hifdzil.

Ketidakseriusan ini juga diperlihatkan dengan sikap PD yang tidak kunjung memecat Nazar baik sebagai kader partai maupun sebagai anggota DPR. Soal tudingan itu, Saan menjelaskan partai memiliki mekanisme sendiri. 

"Dewan kehormatan tidak takut memecat Nazaruddin, kita punya mekanisme sendiri,” kata Anggota DPR dari Dapil Karawang Bekasi ini lagi. 

Tidak bisa dipungkiri PD memang bersikap gamang terhadap Nazar sebab ia bak buah simalakama. Apapun langkah yang diambil PD pada Nazar sama-sama pahit dan menyakitkan. Bila dibiarkan bebas di persembunyiannya, Nazar bisa seenaknya balas dendam membongkari semua borok elit di partainya sendiri. 

Bagaimanapun Nazar adalah pengurus inti dalam PD. Jadi apa pun yang dilakukannya mustahil dilakukan seorang diri. Melainkan melibatkan sejumlah pengurus PD yang lain. 

Maka bila diserahkan ke KPK, kicauannya pun membahayakan. Bila Nazar pulang banyak elit PD yang akan khawatir. Dan ini bisa berbuah kekacauan di internal PD.

Dan bila dihabisi pun, PD akan terkena tudingan melakukan skenario pembunuhan terhadap pengusaha dan politisi berusia 33 tahun itu, yang kini hilang entah berada di negara mana itu. 

"Nazaruddin itu memang seperti simalakama," kata peneliti ICW Emerson Juntho.

Karena simalakama ini, PD tidak akan mau memaksa Nazar untuk pulang. Hifdzil menduga kuat ada skenario untuk sengaja 'menghilangkan' Nazar. 

Maka itulah pria 33 tahun itu tiba-tiba meninggalkan Singapura, padahal negara itu dianggap aman untuk orang-orang yang terlibat korupsi. Selama ini banyak koruptor yang kabur ke Singapura tidak tersentuh hukum Indonesia.

Nazar menghilang merupakan solusi terbaik bagi PD. Ada mafia kekuasaan yang berdiri di belakangnya. Mafia kekuasaan ini enggan kasus dugaan suap di Kemenpora diusut tuntas, sehingga Nazar dihilangkan jejaknya. Mafia ini diduga juga berperan dalam kasus menghilangnya Nunun Nurbaeti, tersangka suap pemilihan Deputy Gubernur Senior Bank Indonesia (DGS BI).

"Siapa (mafia) itu saya tidak tahu. Tapi sepertinya juga ada kelompok atau kelompok kepentingan yang tidak mau ini dibongkar," kata Hifdzil Alim.

Mafia kekuasaan yang 'menyembunyikan' Nazar itu bisa jadi elit PD sendiri. Nazar lewat BBM-nya setelah menghilang dari Singapura justru membuat pengakuan mengejutkan. Ia mengatakan ke Singapura satu hari sebelum dicekal KPK justru atas perintah Ketua Umum PD Anas Urbaningrum. 

"Mas Anas janji pada saya untuk membereskan urusan ini dengan KPK.Saya pun diminta ke Singapura untuk istirahat. Saya diminta untuk menghilang dulu selama 3 tahun," kata Nazar dalam BBM nya kepada wartawan, Kamis (7/7/2011). Sayang benar tidaknya BBM itu dioperasikan langsung oleh Nazar, hingga kini belum ketahuan. Terlebih Nazar sendiri tidak bisa ditelepon.

Dan tudingan Nazar tentu saja dibantah oleh PD. "Itu ngarang saja dia. Terlepas dia itu panik atau ngawur itu tidak dapat diterima. Masa Anas seperti itu ke Nazar, pasti ndak benarlah," bantah Wasekjen PD Ramadhan Pohan.

(zal/iy)

RAN KHUSUS TERBARU

Tidak ada komentar:

Posting Komentar