Featured Video

Minggu, 10 Juli 2011

MALAYSIA KIAN MEMBARA


TUNTUTAN REFORMASI PEMILU
Sepanjang lima tahun terakhir, inilah de­monstrasi terbesar di Malaysia. Sebanyak 1.400 demonstran ditangkap polisi, termasuk Anwar Ibrahim dan dua putrinya. Rakyat turun ke jalan menuntut pemilu bersih.
Kuala Lumpur, Haluan — Demonstrasi besar-besar terjadi sepanjang Sabtu (9/7) di pelbagai kota besar di Malaysia. Kota Kuala Lumpur sebagai Ibu Kota Malaysia menjadi pusat pergerakan terbesar. Pemimpin oposisi Malaysia Anwar Ibrahim ikut dalam aksi demo tersebut. Bahkan Anwar terluka saat terjadi kekacauan setelah polisi melepaskan gas air mata untuk membubarkan para demons­tran. Sebanyak 1.400 demonstran ditangkap pihak polisi.

Dalam laman Malaysia Kini, Anwar mengungkapkan dirinya mengalami luka ringan. Tapi dua putrinya, Nurul Izzah dan Nurul Hana ditangkap dalam insiden tersebut. Namun  petangnya, dikabarkan telah dibebaskan.
Demonstrasi kali ini dinilai cukup mengejutkan karena jumlah­nya di luar perkiraan para aktivis gerakan reformasi pemilu bersih.
Sastrawan negara Datuk A Sa­mad Said, juga tampak dalam lau­tan massa mengatakan, keha­diran rakyat yang begitu besar di­per­kirakan mencapai 75 lima ribuan
turun ke jalan, besar artinya terhadap tuntutan pemilu adil dan bersih.
“Kehadiran ribuan rakyat sangat penting artinya walau banyak hala­ngan dari pihak berkuasa. Saya terkejut melihat ribuan orang ikut serta,” kata A Samad Said.
Namun, Perdana Menteri Ma­lay­sia Na­jib Abdul Rajak menilai aksi de­monstrasi ini hanya dilakukan oleh se­­ke­lompok kecil masyarakat Malaysia.
“Ini jelas bahwa ribuan orang yang hadir pada hari ini (Sabtu) adalah mereka yang menolak aksi de­mon­strasi ilegal yang dilakukan seke­lompok masyarakat dalam komunitas kita,” ujar Najib, Sabtu sore.
Aksi koalisi masyarakat yang diberi nama Koalisi Bersih ini berhasil menarik perhatian puluhan ribu masyarakat untuk ikut menggelar demonstrasi. Aksi kali ini diper­kirakan merupakan terbesar di Malaysia sejak empat tahun terakhir.
Para aktivis menuntut peme­riksaan kembali daftar pemilih, penanganan yang lebih ketat dalam menangani kasus kecurangan, serta kesempatan lebih adil bagi partai oposisi untuk menggunakan media milik pemerintah.
Aksi demontrasi kali ini menda­pat dukungan dari Koalisi Bersih yang berada di berbagai negara. Bahkan para pendukung ini akan menggelar aksi solidaritas di berbagai kota di Australia, Inggris, Prancis, Hongkong, Indonesia, Jepang, Filipina, Korea selatan, Thailand, dan Amerika Serikat.
Tangkapi Demonstran
Sepanjang aksi demontrasi ber­lang­sung, Kepolisian Malaysia terus menangkapi para demonstran dari Koalisi untuk Pemilu yang Adil dan Bersih, yang menuntut dilakukannya reformasi pemilu. Terakhir, polisi menangkap lebih dari 1.400 de­monstran di sejumlah titik di ibukota Kuala Lumpur.
“Dalam perkumpulan ilegal, polisi menahan 1.401 orang dan kami dalam proses investigasi individu-individu yang ditahan, utamanya karena perkumpulan ilegal,” kata Kepala Kepolisian Malaysia, Ins­pektur Jenderal Ismail Omar dalam konferensi pers seperti dikutip AFP.
Ismail mengatakan, petugas menangkap para demonstran karena mereka menolak tawaran kami untuk menggelar demo di tempat yang ditentukan. “Jika mereka menerima tawaran kami (untuk berdemo di luar ibukota-red), ini pasti dapat dicegah,” ujarnya.
Ismail mengatakan, barikade yang didirikan sekitar ibukota Kuala Lumpur, yang telah berubah menjadi “Kota Hantu” sejak tengah malam, akan dibongkar jika tidak ada insiden susulan.
Para demonstran yang ditangkap juga termasuk para anggota legislatif yang terkait dengan pemimpin oposisi Anwar Ibrahim. Di antara mereka yang ditangkap adalah Abdul Hadi Awang, presiden partai Pan-Malaysia Islamic Party (PAS), partai oposisi terbesar di Malaysia. Ambiga Sreenivasan, pemimpin Bersih, koalisi yang mengorganisir aksi demo tersebut juga telah ditahan polisi.
Aksi demo tersebut dilakukan untuk menuntut reformasi pemilu yang mencakup langkah-langkah yang akan mencegah para pemilih untuk memilih berulang kali selama pemilu.
Warga Malaysia pun memprotes penangkapan tersebut. “Kenapa pemerintah mencoba mengintimidasi warga?” tanya Mohamad Manij Abdullah, seorang pria berumur 50 tahun yang ikut serta dalam demo tersebut.
“Kami hanya berupaya merefor­masi pemilu dan memiliki pemerin­ta­han yang adil dan bebas,” imbuhnya.
Kepolisian Malaysia juga me­nangkap dua pemimpin utama kelompok Bersih yang mengorganisir aksi demo untuk menuntut refor­masi pemilu itu. Keduanya adalah Ambiga Sreenivasan dan Maria Chin Abdullah. Mereka ditangkap saat polisi menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan ribuan demonstran di Kuala Lumpur.
Ambiga merupakan pemimpin Bersih yang merupakan mantan presiden Malaysian Bar Council. Wanita berumur 55 tahun itu termasuk satu dari delapan wanita di dunia yang menerima penghargaan dari Menteri Luar Negeri AS, Award for International Women of Courage pada tahun 2009.
Kelompok oposisi, menuntut agar Perdana Menteri Najib Razak mem­buat undang-undang pemilu yang lebih adil dan transparan, sebagai persiapan pemilu nasional tahun depan. Unjuk rasa ini sejak awal ditentang oleh pemerintah dan dianggap melawan hukum. (h/naz/berbagai sumber)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar