Featured Video

Sabtu, 06 Agustus 2011

Tiap Bulan Punya Tradisi-Lamang


DAMANHURI

BAGI masyarakat Piaman (Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Pariaman) seluruh bulan Arab memiliki makna dan arti tersendiri, sekaligus punya peristiwa yang hingga kini diperingati di tengah masyarakat. Bulan Muharram adalah “bulan tabuik” di bulan itulah peristiwa besar, dan hingga kini telah menjadi iven yang sangat luar biasa.
Setelah Muharram, bulan Syafar, dinamakan juga dengan bulan syafa. Karena pada bulan inilah masyarakat dari mana saja datang ke Ulakan, berziarah ke makam Syekh Burhanuddin. Bagi umat Islam, terutama yang berfaham lama, bulan Syafar menjadi momen tersendiri bersama-sama datang menziarahi gurunya dan disebut basyafa. Ada syafa gadang dan adapula syafa ketek.
Habis bulan Syafar datang Rabiul Awal. Bulan ini juga tidak bisa dipandang remeh oleh rang Piaman. Masyarakat di kampung-kampung memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW dengan cara tradisi yang melekat sejak dulunya. Peringatan maulid dilakukan di masjid dan surau. Baik surau milik korong, maupun surau milik suku di tengah masyarakat korong terkait. Ketika ada peringatan maulid, jelas ada pula peristiwa malamang. Masyarakat, terutama perempuan, tidak akan merasa nyaman, orang di suraunya memperingati maulid, dia tidak membuat lamang. Hal itu tidak akan terjadi.
Bahkan orang berlomba-lomba membuat lamang. Bulan maulid juga berlaku tiga bulan, yang dimulai dari Rabiul Awal, Rabiul Akhir, dan Jumadil Awal. Artinya, di Piaman dikenal dengan bulan maulid, adiak maulid dan bulan maulid terakhir.
Semiskin-miskinnya rang Piaman, apabila telah berkumpul membicarakan peringatan maulid, pasti ada cara untuk melaksanakan acara maulid. Di silah lahirnya budaya badoncek, sato sakaki, yang tujuan akhirnya menyelesaikan pembangunan rumah ibadah (masjid atau surau).
Begitupun peristiwa yang terjadi pada bulan Rajab. Bulan ini dinamakan rang Piaman dengan bulan sarang bareh. Pada bulan itu masyarakat membuat sarang bareh, jenis makanan yang terbuat dari beras, dan dimakan dengan manisan yang terbuat dari saka (gula merah). Sejak dari awal masuknya bulan ini, masyarakat telah memulai membuat makanan itu, juga diiringi dengan memanggil urang siak ke rumah, dan selanjutnya dipanjatkan doa-doa, dilanjutkan jamuan makan. Acara ini dinamakan dengan doa bulan kanak-kanak.
Sehabis bulan sarang bareh, datang pula bulan lamang, atau bulan Syaban. Pada bulan ini, hampir setiap rumah mengadakan peringatan, atau mangaji kapuaso melibatkan banyak urang siak, atau ahli agama. Di Piaman dinamakan labai beserta pegawainya. Setiap rumah yang mengadakan mangaji kapuaso paling tidak melibatkan enam sampai 10 urang siak.
Selesai mangaji, urang siak diberi lamang, dan sedekah berupa uang oleh yang punya rumah.
Kalau kita pelajari semua bulan demikian, maka erat pula hubungannya dengan tradisi Islam yang pertamakali dikembangkan oleh Syekh Burhanuddin. Malamang tiap kali peringatan Maulid dan mangaji kapuaso tidak ada satu ayat dan hadist pun yang menyuruh. Tetapi, bagi rang Piaman, bila itu telah menjadi tradisi, maka sulit untuk dihilangkan dan itu sambung-bersambung dari genersai-kegenerasi berikutnya.
Barangkala di sinilah letaknya kekuatan adat dan agama. Disebut adat, lantaran tidak dianjurkan dalam agama, dan tidak pula bertentangan dengan tradisi keagamaan. Namun, pekerjaan tersebut bisa berlaku dan malah bertambah besar. Lihat sajalah ketika masyarakat di Ulakan sana memperingati Maulid.
Begitu juga saat peringatan Syafa di Ulakan. Semua tempat dan lokasi padat. Parkir susah, berjalan juga demkikian, karena ramainya manusia yang hadir saat basyafa tersebut. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar