Featured Video

Selasa, 06 September 2011

PEREMPUAN TUA YANG TAK MENGENAL DIRINYA


Kaki kirinya diperban hingga lutut. Kening dan dagunya ada jahitan. Keningnya yang keri­put masih membekas darah-darah beku. Tubuh renta itu terlentang tak berdaya di RS M. Djamil Padang tanpa didampingi keluarga sejak Jumat (2/9) lalu,
Yang bisa dikenali dari tubuh tua itu adalah jenis kelaminnya perempuan. Rambut yang memutih serta kulitnya yang keriput menan­dakan ia tak muda lagi. Selebihnya, tak ada yang diketahui. Menurut seorang penjaga, ia dibawa ke RS M Djamil oleh salah seorang warga dari Pariaman.
Seorang saksi mata yang tak mau disebutkan namanya di RS M. Djamil mengatakan, peristiwa bermula di Lubuk Alung. “Ia melon­cat dari rel kereta api (KA) ke jalan raya,” katanya. Tidak dijelaskan kapan kejadian tersebut, tapi sebuah mobil jenis sedan telah menunggunya di jalan raya.

Akibatnya, kening, dagu, dan kaki kiri perempuan tua itu penuh dengan luka-luka. Menurutnya, setelah kejadian, ia  berkeliling untuk mencari keluarga korban. Namun, hingga dibawa ke Kota Padang tak ada satu pun yang mengaku keluarganya.
Namun, hingga hari keempat dirawat di ruang Trauma Centre RS M. Djamil Padang, belum juga ada keluarga yang mengaku kehilangan ibu, kakak, ataupun nenek.
Yudi, yang sedang menunggui ibunya di ruangan yang sama menyebutkan, perempuan tua itu sering mengingau. Bila ditanya jawabannya sering berubah-ubah.
Saat Haluan membezuknya, Senin (5/9) ia terlihat beberapa kali meronta. Ia juga berusaha melepaskan infus yang terpasang di tangan kanannya. Mencegah tindakan yang tak diinginkan, pihak rumah sakit mengikat tangannya dengan kain.
Perempuan tua itu juga tak mengatahui namanya. Bila itu dita­nyakan, kadang ia menyebut Nurteti dengan tidak sempurna. Ia juga menyebut Asrama Polisi dengan logat yang tidak jelas. Tapi, ia lebih sering mengucapkan grrr daripada mem­berikan sebuah petunjuk yang jelas.
Namun, matanya terlihat sangat tajam ketika ada tamu yang datang. Ia menatapnya sampai beberapa lama. Lagi-lagi, ia juga tak juga mengeluarkan kata-kata yang bisa dijadikan petunjuk.
Yudi sendiri sering menanyakan itu kepada sang perempuan tua. “Yang sering saya tanyakan, nama ibu siapa, di mana tinggal, di mana keluarga,” ujarnya. Namun, setiap pertanyaan yang diajukan Yudi tak ada mendapat tanggapan.
Perempuan tua itu juga menjadi perhatian di bangsal Trauma Centre. “Kasihan, perempuan setua itu diabaikan oleh keluarganya,” kata seorang ibu-ibu di bangsal yang sama.
“Selama empat hari itu, perawat yang menjaganya,” kata Kepala Humas RS M. Djamil Padang Gustafianof. Pihak rumah sakit juga yang memberikan makanan, baju, dan kebutuhan lainnya.
Menurut Gustafianof, pihak rumah sakit belum bisa memastikan apakah pasien tersebut tidak waras atau hilang ingatan. Pihak rumah sakit, katanya, sementara akan berusaha menyembuhkan luka-lukanya terlebih dahulu.
Namun, yang lebih diharapkan Gustafianof, perempuan tua tersebut memiliki keluarga yang akan mera­watnya di rumah sakit. (Laporan Andika D. Khagen)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar