Featured Video

Selasa, 13 Maret 2012

Indonesia Laboratorium Tanaman Obat Dunia


KOMPAS/RIZA FATHONI
Ilustrasi


SOLO, Indonesia adalah salah satu laboratorium tanaman obat terbesar di dunia. Sekitar 80 persen herbal dunia tumbuh di negeri ini.

"Nenek  moyang kita memanfaatkan flora kekayaan alam itu dengan cerdas. Dikenal istilah jamu untuk menyebut ramuan dari tanaman obat," kata Paramasari Dirgahayu, PhD di Solo, Senin (12/3/2012).
Pramasari menyampaikan orasi ilmiah berjudul "Aktualisasi Kearifan Lokal Bidang Kesehatan Untuk Mewujudkan Pembangunan Milenium (MDGs), pada Dies Natalis ke -36 Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS).
Paramasari mengatakan, Indonesia merupakan salah satu pusat keanekaragaman  hayati terbesar di dunia. Kurang lebih 30.000 jenis tumbuhan dan sekitar 7.000 di antaranya berkhasiat obat.
Terdapat 45 macam obat penting yang beredar di Amerika Serikat (AS) berasal dari 14 species tumbuhan Indonesia. Termasuk, vinblastin dan vincristin (obat anti kanker) yang berasal dari tanaman tapak dara.
"Namun sangat disayangkan bahwa potensi besar itu belum dimanfaatkan seoptimal mungkin. Cina, Korea dan Jepang lebih dikenal sebagai negara penghasil herbal terkemuka di dunia," ujar Pramasari.
Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia belum percaya pada pengobatan herbal. Indonesia masih mengimpor herbal dari China, Korea dan Jepang.
Menurut Pramasari, tren kenbali ke alam, banyaknya penyakit kronis, kegagalan obat modern, mahalnya obat dan komplikasi seharusnya dipandang sebagai kesempatan mengembangkan obat herbal.
Pramasari menegaskan, obat herbal harus berubah dari yang semula dianggap sebagai obat tradisional menjadi obat tersertifikasi.
Data menunjukkan banyak obat standard kedokteran berasal dari herbal, antara lain Asam Salisilat, Morfin, Efedrin, Kloroquin dan Kurkumin, Kina, Artemisinin, Vinblastin dan Vincristin.
Data dari secretariat Convention on Biological Diversity (CBD) menunjukkan angka penjualan global obat herbal dapat menyentuh angka 60 miliar dolar Amerika serikat setiap tahunnya.
Peningkatan kapasitas peneliti Indonesia, dana, peralatan biologi molekuler adalah beberapa hal yang harus dipenuhi untuk mengembangkan obat herbal yang diharapkan bisa menyehatkan dan menyejahterakan masyarakat.http://sains.kompas.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar