Featured Video

Minggu, 11 Maret 2012

Terombang-ambing di Lautan Pasir


KOMPAS/TRI AGUNG KRISTANTOSafari di gurun pasir.


Oleh Tri Agung Kristanto
Panas dan gersang. Tak ada pemandangan hijau yang bisa menyejukkan mata. Gambaran itulah yang terlintas saat ada tawaran untuk menikmati wisata gurun pasir di Dubai, Uni Emirat Arab, akhir tahun lalu. Apalagi tawaran mengunjungi gurun pasir itu dilakukan pada pagi hingga siang hari, saat terik matahari menyengat.

Rasa ingin tahu akhirnya mengalahkan bayangan sinar mentari yang teramat panas. Kesempatan mengunjungi gurun pasir, sebagai salah satu ciri kawasan Arab, tidak boleh disia-siakan. Desert safari, itulah sajian yang ditawarkan. Di Dubai, sejumlah perusahaan menawarkan sajian wisata ini, yang tawarannya bisa didapatkan di lobi hotel. Biayanya sekitar 200 dirham atau sekitar Rp 480.000 per orang. Biaya itu termasuk penjemputan dan pengantaran kembali ke hotel.
Sebenarnya ada tawaran untuk menikmati padang pasir pada sore dan malam hari, yang dipadukan dengan makan malam, menunggang unta, dan menikmati tarian padang pasir (belly dance). Namun, jika ada wisatawan yang menghendaki petualangan pada pagi hingga siang hari juga dilayani. Sekitar pukul 08.00, pemandu dari operator wisata menjemput kami di hotel. Pemandu, yang sekaligus juga mengemudi mobil 4 wheel drive itu mengenalkan diri bernama Muhamed. Dia berkewarganegaraan Mesir, tetapi sudah lebih dari 12 tahun tinggal di Dubai.
Terguncang-guncang
Dubai Desert Conservation Reserve jadi tujuan kami. Muhamed menjelaskan, safari gurun pasir itu akan dilakukan melalui pintu Margham, yang berjarak sekitar sejam perjalanan dari Dubai. Luas gurun pasir Margham sekitar 225 kilometer persegi, dan masih dihuni sejumlah binatang, terutama kambing gurun dan rusa. Ada juga rubah dan ular gurun, yang bisanya lebih mematikan dibandingkan dengan king cobra. Sebagai lokasi konservasi, tidak seluruh wilayahnya bisa dikunjungi wisatawan.
Memasuki pintu gerbang Margham, lautan pasir berwarna keemasan langsung membentang. Mobil yang kami tumpangi berhenti karena Muhamed dan sejumlah pemandu lain harus mengurangi tekanan angin pada ban mobil yang kami tumpangi. Setiap mobil ditumpangi 4-6 wisatawan. Dengan ban mobil yang ”agak” kempes itu, mobil katanya akan selamat jika ”berlayar” di lautan pasir.
Petualangan di tengah padang pasir dimulai. Aksi ini dikenal sebagai dune bashing, yakni mobil langsung mengarungi gurun, menerabas bukit pasir dengan kemiringan hingga 60 derajat, bahkan ada yang mendekati bentuk dinding pasir, dan menuruni lembah pasir yang curam. Tubuh kami di dalam mobil pun terombang- ambing. Muhamed sejak awal mengingatkan kami, kalau tak kuat, boleh saja muntah di kantong plastik yang sejak awal disiapkan.
Sekitar 40 menit mobil yang dikemudikan Muhamed mengarungi lautan pasir. Tubuh kami pun terus terguncang-guncang sambil menikmati kegersangan gurun. Mobil yang dikemudikan Muhamed tak berjalan sendiri, tetapi dalam rombongan besar, delapan mobil. Menurut dia, melakukan off road di padang pasir sebaiknya memang berombongan karena bisa saling membantu jika ada persoalan di tengah ”jalan”.
Tidak ada sedikit pun petunjuk jalan di tengah padang pasir itu. Kondisi ini membuat kami seringkali terenyak karena tiba-tiba sudah ada bukit pasir terjal yang langsung dilalui, dan membuat kami terus terguncang-guncang.
Ketua Umum Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Otto Hasibuan, yang ikut serta dalam petualangan itu, mengakui, sensasi terguncang-guncang dalam mobil di tengah padang pasir memang luar biasa. Ini melebihi aksi drifting, akrobat dengan mobil di jalan raya.
Muhamed, yang tampaknya sudah hafal dengan lintasannya, terus membawa mobil dan mengabaikan teriakan kami yang terombang-ambing. Dia tenang saja, sambil menceritakan berbagai peristiwa yang pernah terjadi di tengah hamparan pasir yang sepertinya tak bertepi itu. Kami sempat berhenti, menikmati terik sinar matahari di tengah padang pasir yang menyengat. Suhu saat itu lebih dari 45 derajat celsius.
George Freeman, wartawan senior The New York Times (Amerika Serikat) yang berada di mobil berbeda, mengakui pula, guncangan selama mengarungi lautan pasir itu memang luar biasa. Aksi wisata itu tak akan terlupakan. Ia menikmati sensasi saat tubuhnya terombang-ambing sepanjang perjalanan. Sekalipun memiliki gurun, AS belum mengembangkan wisata off road di padang pasir itu.
Setelah ”istirahat” sekitar 15 menit, dan tidak boleh terlalu lama, karena khawatir akan terjadi dehidrasi,dune bashing pun dilanjutkan. Namun, pada putaran kedua ini, adrenalin kami tak dipacu seperti sebelumnya karena gundukan pasir yang dilewati tak securam sebelumnya. Kali ini lautan pasir yang dilalui lebih landai, dan di sana-sini ada tanaman perdu. Kami tak lagi bak naik roller coaster seperti sebelumnya. Muhamed juga beberapa kali menghentikan mobil karena terlihat rusa atau kambing gurun yang melintas.
Mendidih
Kami keluar dari gurun pasir Margham sekitar pukul 12.00. Kepala terasa mendidih karena terik matahari. Apalagi saat Muhamed harus mengisikan angin pada ban mobilnya kembali dan kami berada di luar mobil. Di sisi kiri dan kanan padang konservasi itu terlihat tenda milik penduduk asli Margham untuk memelihara unta.
Muhamed menuturkan, jika kami melakukan perjalanan pada sore hari, kami bisa menikmati sensasi menunggang unta, makan malam ala barbeque, dan menikmati kopi khas Arab yang disebut gahwa. Namun, kami memilih petualangan pada pagi hingga siang hari karena sehari sebelumnya sudah menikmati makan malam dan sajian hiburan khas padang pasir, di gurun yang berbeda, di tengah kota Dubai saat pembukaan Konferensi Advokat Internasional. Kami bukan saja menikmati bakaran daging ayam dan sapi yang beraroma khas, beragam kue manis dan kurma, tetapi juga menyaksikan belly dance, tarian api, dan kesenian khas Uni Emirat Arab lainnya.
Selain petualangan di padang pasir, Dubai sebenarnya juga menawarkan obyek wisata lain, terutama wisata belanja di Dubai Mall, sebagai salah satu pusat perbelanjaan terluas di dunia. Selain itu, di kawasan gurun yang terik ini ada sajian wisata salju pula yang bisa dinikmati wisatawan. Tentu saja, salju buatan. Namun, Pemerintah Dubai tampaknya ingin memanjakan dan memberikan alternatif kepada siapa pun yang datang ke wilayah itu.
http://travel.kompas.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar