Featured Video

Sabtu, 26 Mei 2012

Menjarah, Putri Miliuner Divonis 2 Tahun Bui



Laura Johnson divonis 2 tahun bui (Daiy Mail| Facebook)

Laura Johnson harus meninggalkan segala kemewahan yang ia miliki. Termasuk rumah pertanian mewah di Orpington, Kent, tempat tinggalnya selama ini, yang memiliki halaman luas dan lapangan tenis. Ia harus meringkuk di balik terali besi.


Putri miliuner Inggris berusia 20 tahun itu dinyatakan bersalah melakukan pencurian di toko elektronik, menampung barang jarahan, dan mengemudikan teman-temannya sesama penjarah ke toko sasaran. "Tindakan kalian makin menambah jumlah pelanggaran hukum dan ancaman terhadap hukum dan ketertiban," kata hakim Christopher Edwards, saat membacakan vonis di Inner London Crown Court, seperti dimuat Daily Mail.

Hakim juga menjatuhkan hukuman 12 bulan pada pelaku lain, Edwards, yang baru berusia 17 tahun. "Padahal kalian berasal dari keluarga baik-baik," kata hakim. "Kalian menunjukkan sisi lemah karaktermu, dengan mengambil keuntungan di tengah situasi panas, karena mengira kalian bakal lolos dan tak akan tertangkap."

Mahasiswi Exeter University itu sebelumnya mengklaim, ia dipaksa mengemudi oleh seorang pengedar narkoba dan rekan-rekannya selama aksi rusuh di ibu kota Inggris itu.

Namun, dalihnya terpatahkan oleh foto yang diambil saksi saat kejadian. Alih-alih memasang wajah terpaksa, dalam gambar itu, Johnson terlihat tertawa-tawa di belakang setir. Para juri pun memutuskan, ia bukan korban, tapi bagian dari pelaku. Upaya bunuh dirinya juga tak mampu meloloskannya dari ancaman hukum.

Pengadilan akhirnya memutuskan, Laura Johnson bersalah atas penjarahan di Toko Comet di Greenwich, tenggara London pada 9 Agustus 2011, malam terburuk dalam rangkaian kerusuhan di musim panas. Meski divonis 2 tahun, Johnson hanya akan ditahan selama 7 bulan.

Waktu itu, Johnson ditangkap di depan toko, saat sedang mengemudikan Smart Car sekitar jam 2.00 dini hari. barang-barang elektronik senilai 5.000 pound sterling ditemukan di kursi belakang mobil itu.

Orang tua Johnson, Robert dan Lindsay, yang punya perusahaan yang bergerak di bidang pemasaran memilih tutup mulut atas vonis itu.

Sementara Exeter University, tempat Johnson belajar Bahasa Inggris dan Italia sedang mempertimbangkan  keputusan terbaik terkait nasib pendidikan mahasiswinya itu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar